WEBINAR EDUKASI GIRLS LEADERSHIP ACADEMY PLAN INDONESIA UNTUK MENJAGA KEBERSIHAN DAN KESEHATAN MENSTRUASI

Menjadi pemimpin yang baik, juga berarti dapat menjaga kesehatan secara fisik dan mental. Terlebih perempuan yang mengalami menstruasi, suatu siklus bulanan yang alamiah dan normal, namun masih tabu untuk didiskusikan padahal seharusnya mendapatkan edukasi agar dapat menjaga kesehatan diri sendiri dan orang sekitarnya. Memiliki tujuan utama untuk melahirkan pemimpin-pemimpin perempuan masa depan, Girls Leadership Academy (GLA) Plan Indonesia mengadakan webinar kedua untuk membahas manajemen kesehatan menstruasi.

Stigma negatif juga masih masih bersirkulasi terhadap isu ini karena faktor seperti perundungan, maka banyak yang merasa minder untuk mengakui hal ini dan akhirnya memutuskan untuk menututup-nutupi isu ini. Ditambah lagi, masih banyak sekolah belum memiliki toilet yang bersih untuk memberikan perempuan akses yang nyaman terhadap fasilitas sekolah ketika mengalami menstruasi.

Banyak mitos dan cerita-cerita turun-temurun yang sering kita dengar terkait dengan manajemen menstruasi. Seperti yang diungkapkan Sharla, Alumni Girls Leadership Camp, beberapa mitos yang sering beredar di teman sebayanya adalah tidak boleh keramas, tidak boleh minum air dingin, hingga tidak boleh memotong kuku pada saat sedang menstruasi. Ternyata, menurut dr. Rodri Tanoto, Manajer Proyek Young Health Program (YHP) Plan Indonesia, sebenarnya mitos-mitos tersebut pada dahulu kala memiliki nilai kebenaran dan untuk tujuan tertentu. Hal ini dikarenakan pada jaman dulu, banyak orang belum mendapatkan asupan gizi yang cukup, namun melakukan pekerjaan berat seperti berkebun, sehingga beresiko pingsan atau sakit saat sedang menstruasi.

“Ada mitos yang mengatakan pada saat menstruasi tidak boleh makan daging, padahal pada saat menstruasi kita sangat membutuhkan protein.” Dr. Rodri Tanoto

Menjawab berbagai mitos secara ilmiah dr. Rodri memaparkan bahwa tidak ada makanan pantangan yang harus dihindari saat menstruasi, segala makanan yang baik dalam hidup akan berpengaruh baik juga karena menstruasi tidak mengubah metabolism tubuh secara signifikan. Makanan adalah hal yang dapat menunjang kebutuhan pertumbuhan tubuh kita dan sama sekali tidak mempengaruhi organ reproduksi. Saluran pencernaan dan reproduksi itu tidak sama. Lebih jauh lagi, dr. Rodri juga menyatakan bahwa darah menstruasi itu steril karena berada dalam tubuh dan akan menjadi berbahaya apabila dibiarkan lama di dalam tubuh.

Sebagai perempuan yang memiliki siklus menstruasi setiap bulan, yang penting diketahui adalah menjaga kebersihannya. Ada beberapa cara seperti yang diungkapkan oleh Silvia Deviana (Water, Sanitation, Hygiene & Early Childhood Dev. Advisor Plan Indonesia) yaitu membersihkan organ perempuan yang sudah memiliki mekanisme pH dengan air bersih mengusap dari bagian depan (vagina) ke belakang (dubur/anus), mengganti pembalut setiap 4 jam, cuci tangan menggunakan sabun sebelum dan sesudah mengganti pembalut, serta membungkus pembalut bekas dengan koran sebelum dibuang. Alternatif lain untuk pembalut sekali pakai dijabarkan oleh Lia, pengusaha pembalut ramah lingkungan yang ide awalnya didapatkan ketika mengikuti kegiatan di Plan Indonesia. Lia mempresentasikan mengenai pembalut kain yang dijualnya, kelebihannya dibandingkan pembalut konvensial karena dapat dicuci, digunakan kembali dan tidak mencemari lingkungan. Mencucinya juga mudah karena tinggal direndam menggunakan air panas/mendidih untuk menghilangkan zat kimia serta darah yang menempel, dan bisa ditambahkan detergen atau sabun mandi sedikit untuk meleburkan noda membandel.

Lia Toriana, Proyek Manajer Nasional Girls Leadership Plan Indonesia menekankan pentingnya perempuan mengetahui tubuhnya sendiri. Perempuan itu sendiri yang seharusnya paling mengetahui dirinya, apakah siklusnya normal atau tidak dan perubahan apa yang terjadi dalam dirinya ketika menstruasi. Menstruasi sebenarnya bukan hanya kepentingan perempuan, tetapi juga laki-laki untuk mengetahui tentang hal ini. Seperti yang diungkapkan oleh Farah, tutor sebaya dari proyek YHP, laki-laki kurang mendapat edukasi tentang menstruasi sehingga menstruasi justru menjadi ejekan di tengah-tengah mereka. “Laki-laki juga penting untuk tahu tentang menstruasi karena hal ini dapat membantu kaum perempuan baik temannya, ibunya, kakaknya yang mengalami kesulitan dengan menstruasi.” Perbedaan pemahaman ini yang kadang menimbulkan masalah psikis dan sosial pada perempuan.

“Menstruasi dan kesehatan reproduksi adalah hal yang wajar untuk dipelajari baik untuk laki-laki dan perempuan. Pengetahuan tentang reproduksi bukanlah hal yang tabu untuk dipelajari.” – Farah

Moodswing bukan merupakan tanda yang disebabkan dari hormone reproduksi. Narasi moody saat menstruasi yang dibentuk dari kebiasaan sosial merupakan usaha untuk membuat perempuan terjebak dalam patriaki dan membatasi cara kerja, prestasi, serta kemampuan perempuan menjadi pemimpin. Pemahaman perempuan dapat menjadi pemimpin harus berawal dari hal-hal dasar di dalam rumah dan jangan berhenti untuk mengedukasi serta menjelaskan dengan cara yang apik

Oleh: Chiquita Marbun