Waktu adalah Harapan Time is Hope – A Diary of Wilda Mauled

      Wilda adalah anak pertama dari dua bersaudara. Keluargaku sederhana,bisa di bilang pas-pasan. Ayah seorang petani sekaligus pengembala kambing, dan ibu adalah seorang ibu rumah tangga biasa. Agil, dialah adik satu-satunya yang masih duduk di bangku SD.

     Setelah lulus SMA Wilda berkeinginan melanjutkan ke perguruan tinggi.namun hambatan modal lagi-lagi menurunkan niat itu. Suatu ketika, Aku mendapat informasi forum remaja melalui Whatsapp, tentang program magang gratis di hotel berbintang lima di Jakarta. Sangat menarik!

     Dengan tekad yang tinggi, perjalanan yang begitu panjang, dari awal pelatihan soft skills, pertemuan antar peserta, sampai interview dengan HRD hotel. Akhirnya Aku diterima,dan sekarang sudah magang di hotel bintang lima The Westin Jakarta. Suatu kebanggaan bisa magang disitu. Sebelumnya Aku sama sekali tidak tahu-menahu tentang perhotelan dan lebihnya lagi, hampir semua anak magang disitu berasal dari universitas ternama.

     Wilda tinggal di salah satu kostan yang ukurannya sangat kecil,mungkin cukup untuk satu orang saja. Tiap pagi, Aku berangkat dengan jalan kaki menyelusuri pemakaman Rasuna,kebetulan jarak antara kostan ke tempat kerjanya lumayan dekat.

     Hari pertama bekerja, Aku ditempatkan di Housekeeping bagian laundry. Mungkin kedengarannya rendahan tapi jangan salah,satu baju yang dicuci saja berharga ratusan ribu,dan tentunya dengan brand ternama juga.

   Aku sangat lelah hari itu, Mungkin dia belum terbiasa dengan pekerjaannya,tapi itu tidak mengurangi semangatku! Kujalani dengan iklas, dan doa orang tua pun turut menyertai. Memang tidak seberapa uang yang didapat dibandingkan dengan kerjaannya.mungkin hanya cukup untuk membayar kostan saja.

     Kesalahan itu hal yang wajar dalam belajar, syaratnya jadikan pelajaran. Suatu ketika Wilda melakukan kesalahan, lupa nomor kamar tamu, dipanggil atasannya dan diberi nasehat, dan disitu aku belajar bahwa kerja itu harus disertai tanggung jawab. Bukan hanya itu,ketika aku telat beberapa kali, aku juga sadar bahwa disiplin itu harus. Masalah terakhir yaitu ketika papan nama di bahu kananku hilang dan tidak segera digganti, di situ-pun aku sadar bahwa berpakaian rapi itu perlu. Tiga bulan berjalan,berat badan bertambah, mungkin aku bahagia dan itu baru kemungkinan. bahagaimana tidak mungkin pulangnya saja tidak pernah tepat waktu.ya begitulah.

     Kebahagiaan di masa magangku adalah pada saat mendapatkantawaran langsung oleh pihak manager menjadi daily worker. Wilda sempat berpikir akan tawaran yang mengagetkan dan cukup menggiurkan itu. Karena gaji yang didapat sebagai pegawai disitu lumayan besar,bagi seorang anak gadis yg baru berumur belasan itu,tapi aku tidak menerimanya. Bukan tidak menerima, tapi aku berkata “nanti saja pak, jika magang saya sudah selesai”. Aku sadar akan tujuan yang belum tecapai.

     Berangkat gelap pulang gelap,itu sudah hal biasa bagiku, keluh kesah dengan jam kerja yang tidak on time kuhiraukan. Mungkin dengan cara itu aku mengejar apa yang kukejar, dan dengan cara itu juga aku menunjukkan kepada keluarga Plan bahwa seorang wilda maulida bisa menggapai cita-citanya yang saat ini. semoga suatu saat keberhasilannya bisa jadi kado untuk keluarga Plan terutama keluarganya juga. Terimakasih untuk keluarga Plan yang telah memberi kesempatan kepada Saya, dan program ini sangat membantu saya sebagai anak kampung yang mungkin awam pengetahuan.

Ini bukan biografi atau-pun cerpen,tapi bisa dibilang diary seorang wilda maulida sebagai anak magang.

Wilda Maulida

Jakarta,09-12-2018