Uni Eropa luncurkan €800,000 untuk bantuan kemanusiaan di Indonesia

Jakarta, 20 Juli 2020 – Dalam mendukung program bantuan kemanusiaan di Indonesia, Uni Eropa luncurkan €800,000 untuk menjamin hak masyarakat dan memastikan martabat mereka sebagai manusia terpenuhi di tengah krisis bencana. Melalui Plan International Finlandia, ADRA Jerman dan mitranya, Uni Eropa berupaya meningkatkan akses bantuan bagi masyarakat terdampak sesuai kebutuhan mereka tanpa diskriminasi di masa depan.

Bapak Thamrin, Emergency Response Coordinator area Soe, Nusa Tenggara Timur mendisinfektak Hygiene Kit saat distribusi | Foto: Agus Haru

Sampai saat ini, perlindungan bagi kaum paling rentan, terutama anak perempuan dan perempuan masih menjadi tantangan di masa krisis. Kasus-kasus kekerasan seksual dan yang berbasis gender serta kekerasan terhadap anak terus terjadi saat penyaluran bantuan, termasuk pada upaya penyediaan air bersih, sanitasi dan kebersihan (WASH) dan manajemen kamp. Di sisi lain, upaya perlindungan dan pencegahan kekerasan seksual dan berbasis gender tidak diprioritaskan dalam peningkatan kapasitas bantuan kemanusiaan tingkat nasional.

Berkaca pada respon tanggap bencana 2018 dan tanggap darurat masa pandemik COVID-19 saat ini di Provinsi Sulawesi Tengah dan Pulau Lombok, terdapat kebutuhan mendesak untuk meningkatkan kapasitas lembaga pemerintah provinsi sehingga mampu memimpin respon tanggap bencana di tingkat lokal yang efektif dan didukung oleh pemerintah pusat. Oleh karena itu, proyek kemanusiaan yang didanai oleh Uni Eropa ini akan memfasilitasi kebutuhan tersebut sesuai dengan agenda di daerah.

“Bantuan kemanusiaan yang disalurkan Uni Eropa di Indonesia sungguh meningkatkan kualitas hidup pada kelompok paling terdampak saat krisis bencana. Kami terus berkomitmen untuk bekerja memenuhi hak anak dan kesetaraan bagi anak perempuan.” jelas Dini Widiastuti, Direktur Eksekutif Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia).

Proyek yang didanai Uni Eropa ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dan profesionalisme dalam ranah bantuan kemanusiaan dari para staf kunci di Kementerian Sosial Republik Indonesia, termasuk para anggota klaster di seluruh jajaran dewan. Selain itu, Uni Eropa akan memperhatikan bagaimana isu perlindungan kekerasan seksual berbasis gender, perlindungan anak dan dukungan psikososial terimplementasi dalam penyediaan bantuan kemanusiaan,

Proyek kemanusiaan yang akan berakhir pada 31 Desember ini dilakukan di tiga provinisi di Indonesia yakni Banten, Nusa Tenggara Barat dan Sulawesi Tengah. Dalam implementasinya, Proyek ini dilakukan oleh Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia), ADRA Indonesia, Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), RedR Indonesia dan Pujiono Centre. (***)