Tabu.id: Menggunakan Pendekatan Kreatif Berbasis Bukti untuk Mengedukasi Remaja terkait Seksualitas

Neira Ardaneshwari Budiono (Neira) berusia 20 tahun ketika dirinya mendirikan komunitas online Tabu.id bersama Alvin Theodorus, Adelina Kumala, dan Patricia Agatha. Komunitas Tabu.id diluncurkan sebagai sumber informasi dan ruang diskusi online remaja terkait hak-hak kesehatan seksual dan reproduksi, isu-isu yang penting namun masih dianggap tabu untuk dibicarakan.

Sampai saat ini, sejumlah 75,5 ribu akun Instagram mengikuti akun @tabu.id. Di awal tahun 2020, Neira terpilih mewakili regional Asia Tenggara dalam Young Experts: Tech 4 Health (YE:T4H), sebuah inisiatif yang digaungi oleh Plan International Canada untuk mempromosikan transformasi digital untuk Cakupan Kesehatan Universal 2030. Sebelumnya, Neirapun terpilih sebagai 120 Under 40: New Generation of Family Planning Leaders by the Bill and Melinda Gates Institute for Population and Reproductive Health at the Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health

Bagaimana perjalanan Neira membentuk komunitas Tabu.id? Apa pesan Neira bagi kaum muda dan penggiat hak-hak kesehatan seksual dan reproduksi kaum muda? Berikut percakapan tim Plan Indonesia bersama Neira:

Halo Neira. Kita penasaran, nih. Mengapa Neira berinisiatif membentuk komunitas online Tabu.id?

“Kami memutuskan untuk membuat sebuah gerakan yang youth-friendly dan evidence-based tentang kesehatan seksual dan reproduksi karena tidak jarang kurangnya informasi terkait seksualitas, tubuh kita sendiri, menggiring kita membuat keputusan yang kurang tepat. Kami juga melihat bahwa tidak banyak masyarakat dan terlebih lagi anak muda yang membicarakan tentang hal ini, padahal hal tersebut adalah bagian besar dari kehidupan manusia”

Isu apa yang Tabu.id angkat?

“Kesehatan seksual dan reproduksi (KSR) secara keseluruhan, tidak hanya kesehatan fisik namun juga kesehatan emosional atau psikologis, termasuk hubungan romantis, kekerasan seksual, seksualitas, dan lainnya. Hal ini karena kami melihat Kesehatan Seksual dan Reproduksi yang baik itu tidak hanya terkait dengan organ-organ tubuh, tapi juga a sense of well-being, a sense of security that the individual can adequately deal with any matters related to their sexuality”

Inovasi apa yang ditawarkan oleh Tabu.id?

“Pendekatan yang selalu digunakan oleh Tabu adalah pendekatan berbasis bukti. Dalam informasi atau kegiatan advokasi apapun yang kami lakukan, kami selalu mencari tahu bukti ilmiah atau data terlebih dahulu, sehingga ketika kami menyampaikan sesuatu, kami memiliki basis yang kuat. Kami juga selalu menyebutkan sumbernya dengan benar. Selain itu, untuk advokasi kami, kami juga menggunakan human stories untuk dapat mempengaruhi emosi para followers kami, karena menurut kami terkadang tidak cukup untuk hanya appeal ke logika manusia dengan data/bukti ilmiah; terkadang, manusia juga dapat tergerak oleh emosi. Tabu juga tidak menggunakan pendekatan menghakimi secara moral; kami tidak pernah mengatakan followers boleh/tidak boleh melakukan sesuatu, kecuali terkait dengan keamanan, menghormati hak dan tubuh diri dan orang lain, karena kami mengetahui setiap individu memiliki nilai-nilai yang dianut masing-masing.

Apa tantangan terbesar Tabu.id dalam menjalankan aktivitasnya?

Tantangan terbesar adalah minimnya sumber daya finansial, manusia, dan waktu, mengingat tim kami yang masih kecil dan berbasis kerelawanan. Penguatan kapasitas diperlukan, baik terkait isu ataupun pengembangan komunitas. Selain itu, kami menyadari keterbatasan wadah digital yang mungkin tidak dapat diakses oleh banyak kaum muda.”

Apa pesan Tabu.id untuk pemangku kebijakan dan penggiat hak-hak anak dan kaum muda?

“Menyuarakan kebutuhan hak-hak kesehatan seksual dan reproduksi remaja dan kaum muda, untuk membantu komunitas seperti Tabu.id untuk memobilisasi dukungan dan investasi kepada kami, serta ikut memperjuangkan transformasi norma-norma berbahaya terkait gender dan seksualitas remaja.

Ada pesan lain?

“Oh ya, Kita perlu mengubah narasi remaja dan kaum muda yang umum di masyarakat, bahwa kaum muda tidak memiliki kemampuan mengontrol diri sendiri dan tidak dapat membuat keputusan yang bijak dan independen. Kami percaya, jika mereka diberikan informasi yang benar, komprehensif, dan didorong untuk membuat keputusan serta bertanggung jawab terhadap keputusan tersebut, mereka akan lebih berdaya dan dapat membuat keputusan hidup yang lebih baik.”

Saat ini, banyak sekali pihak yang tidak setuju memberikan pendidikan seksualitas kepada remaja, apa tips kamu kepada komunitas atau organisasi untuk tetap berjuang mempromosikan hal ini?

“Kadang-kadang, bahasa Hak Asasi menjadi bahasa utama dalam mempromosikan tentang pendidikan seksualitas kepada remaja, namun tidak semua orang bisa menangkap dan setuju terkait bahasa tersebut. Kita harus lebih kreatif dalam menyampaikan pesan kita, misalnya menggunakan bahasa dan pendekatan yang lebih dapat diterima banyak pihak, dengan bahasa pendidikan keterampilan hidup, atau nilai-nilai dan norma budaya terkait pentingnya kesehatan. Kita perlu berinvestasi kepada pihak-pihak yang memiliki minat untuk belajar dan menjadikan mereka sebagai potential champion bersama kita kedepannya.”

Baik! Terima kasih ya Neira atas jawaban-jawabannya. Sukses terus ya!”

“Sama-sama, terima kasih juga!”

Ikuti akun Instagram komunitas Tabu untuk mengikuti aktivitas online dan offline yang mereka lakukan, di: @tabu.id!