Riset: Pelecehan Terhadap Anak Perempuan Paling Banyak Terjadi di Facebook

Sumber: Kumparan.com

Ilustrasi Pelecehan & Kekerasan Online pada Anak Perempuan. Foto: Shutterstock

Pandemi COVID-19 telah mengubah segalanya, termasuk cara seseorang dalam berkegiatan atau beraktivitas sehari-hari. Selama beraktivitas di rumah saja untuk mencegah penularan virus corona, anak dan remaja perempuan cenderung lebih sering berkegiatan daring. Mulai dari melakukan proses belajar mengajar hingga sekadar untuk mencari hiburan.

Namun sayang, peningkatan kegiatan online di kalangan anak dan remaja perempuan itu justru memicu potensi masalah baru, yaitu Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO). Bahkan, hal ini juga dibuktikan lewat sebuah riset yang dilakukan organisasi independen yang bergerak di bidang pembangunan dan kemanusiaan untuk memajukan hak anak dan kesetaraan bagi perempuan, Plan International termasuk Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia) baru-baru ini.

State of the World Reports Girls Report, Free to Be Online Foto: Plan International

Riset yang dimuat dalam State of the World Report’s Girls Report: Freedom Online itu melibatkan 14 ribu responden anak dan remaja perempuan dari 31 negara, termasuk 500 anak perempuan dari Indonesia. Di mana hasil riset tersebut menunjukkan bahwa 58 persen anak perempuan yang telah disurvei pernah mengalami pelecehan dan kekerasan secara online.

Selain itu, sebanyak 50 persen dari partisipan juga mengaku lebih banyak menghadapi pelecehan online daripada offline. Kemudian, 1 dari 4 anak perempuan yang mengalami kekerasan online mengatakan bahwa mereka merasa tak aman secara fisik. Hal inilah yang membuat mereka akhirnya tak berani untuk mengutarakan pendapat secara online.

Ilustrasi Remaja Perempuan Mengalami Kekerasan Online Foto: Shutterstock

Di Indonesia sendiri (dari 500 perempuan yang mengisi survei penelitian ini) setidaknya 56 persen responden pernah mengalami atau mengetahui bahwa anak perempuan lainnya pernah mengalami kekerasan online.

“Saya sering menghadapi pelecehan, baik itu secara online maupun di muka publik. Ini membuat saya merasa tidak aman, karena setiap saat, apa pun yang saya lakukan di media sosial, orang-orang terus berkomentar. Saya merasa tidak bisa mengutarakan diri secara bebas,” kata salah satu responden perempuan dari Indonesia berusia 19 tahun saat diwawancarai dalam riset ini.

Platform media sosial yang tak aman

Ilustrasi media sosial. Foto: Shutter Stock

Masih dalam laporan yang sama, hasil temuan juga menyebut bahwa kasus kekerasan online yang dialami anak dan remaja perempuan terjadi di berbagai platform media sosial yang populer. Laporan menyebutkan bahwa insiden paling umum terjadi di Facebook, di mana 39 persen anak dan remaja perempuan mengalami pelecehan. Angka ini kemudian diikuti oleh Instagram (23%) dan WhatsApp (14%).

Riset juga menunjukkan bahwa 19 persen dari anak dan remaja yang sering mengalami pelecehan online jadi mengurangi penggunaan media sosial, sedangkan 12 persen dari mereka berhenti menggunakannya. Selain itu, riset juga menyebut bahwa 16 persen anak dan remaja yang sering mengalami pelecehan mengubah cara mereka mengekspresikan diri secara online sebagai bentuk perlindungan diri.

Bentuk-bentuk pelecehan & kekerasan online yang dialami anak dan remaja perempuan

Ilustrasi Bentuk-bentuk pelecehan & kekerasan online yang dialami anak dan remaja perempuan. Foto: Shutterstock

Pelecehan dan kekerasan terhadap anak dan remaja perempuan di ranah online muncul dalam berbagai bentuk. Riset menyimpulkan bahwa bentuk serangan yang paling umum adalah bahasa kasar dan penghinaan, yang memengaruhi 59 persen responden survei. Selain itu, disusul dengan tindakan mempermalukan secara sengaja, yang memengaruhi sekitar 41 persen responden. Hingga body shaming dan ancaman kekerasan seksual yang memengaruhi 39 persen responden.