CERITA PETANI GARAM DI NAGEKEO SELAMA PANDEMIK COVID-19

Mas Banong | Dokumentasi: Zuniatmi/Plan Indonesia

Lama ditempa dengan ketersediaan air bersih yang kurang, Nusa Tenggara Timur pun tidak luput dari penyebaran pandemik COVID-19. Hingga Juli 2020, virus corona menjangkit hingga lebih dari 100 orang di NTT. Pemerintah Provinsi NTT telah melakukan berbagai upaya untuk mencegah penyebaran pandemik COVID-19 lebih luas lagi. Organisasi Masyarakat Sipil dan warga turut bergotong royong untuk mencegah penularan virus tersebut dengan berdiam diri di rumah, memakai masker jika terpaksa keluar rumah, cuci tangan pakai sabun, dan mempraktikkan gaya hidup bersih dan sehat lainnya.

Sebagai bentuk respons terhadap pandemik COVID-19, Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia) membagikan lebih dari 40.000 kit kesehatan yang berisi sabun mandi, sikat dan pasta gigi, gunting kuku, handuk, sabun cuci tangan, stiker langkah-langkah cuci tangan, dan permainan ular tangga dengan tema kebersihan ke beberapa wilayah dampingan, termasuk NTT. Beberapa relawan dan tim Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) juga aktif mengampanyekan praktik hidup bersih sehat melalui kunjungan rutin dan membagikan poster dan stiker. Beberapa pengusaha dampingan Plan Indonesia juga menyesuaikan lini bisnisnya untuk memproduksi masker kain.

Hampir semua kelompok masyarakat terdampak dari pandemik COVID-19. Salah satunya adalah petani garam asal Nagekeo bernama Mas Banong. Perempuan paruh baya yang juga relawan Plan Indonesia ini menyampaikan keluh kesah dan harapannya kepada Plan Indonesia melalui sepucuk surat.

Umumnya warga desaku bermata pencaharian petani garam dan sawah, juga wiraswasta. Sebelum COVID-19 ini merebak aktivitas warga desaku normal-normal saja. Kami bersyukur karena kami tinggal di wilayah pesisir dengan jumlah cahaya matahari yang banyak dan sangat panas sehingga usaha tambak garam kami menjadi sumber penghasilan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga kami.

Warga desaku yang petani garam melakukan pekerjaannya secara tradisional dengan rata-rata setiap minggu menghasilkan 20 karung yang berukuran 50 kg. Biasanya kami jual dengan harga Rp30.000 per karungnya. Sejak adanya pengumuman dari pemerintah pusat dan kabupaten bahwa saat ini ada virus berbahaya yang dapat menyerang siapa saja sehingga warga diharapkan untuk tidak berkumpul, jaga jarak, pakai masker, lakukan cuci tangan pakai sabun, dan tetap di rumah, aktivitas warga desaku mulai menurun. Warga menjadi takut dan cemas.

Untuk pencegahan virus corona ini pemerintah menutup pasar. Sudah 6 minggu pasar ditutup. Garam lokal kami menumpuk tetapi pasar ditutup, kami mau jualan di mana?

Kami beruntung karena desa kami menjadi desa dampingan Yayasan Plan International Indonesia sehingga kami bisa mendapatkan paket kebersihan dini. Plan akan membantu lagi warga kami beberapa alat kebersihan seperti masker, sabun, pembalut, dan beberapa alat tulis menulis khusus anak-anak dampingan dan juga aneka buku bacaan.

Kami juga akan diberikan tandon air minum dan bantuan air minum sehat dari Plan. Kami berharap pemerintah kabupaten dan desa kami bisa membantu kami terutama dalam bentuk sembako.

**

Plan Indonesia turut mendukung upaya pemerintah pusat dan daerah untuk mencegah penyebaran pandemik COVID-19. Relawan di wilayah dampingan Plan Indonesia seperti Mas Banong ini menjadi jembatan bagi Plan dan warga di NTT supaya kebutuhan warga dapat tersampaikan dengan tepat dan diselesaikan dengan cepat

Oleh: Agus Haru and Hanna Vanya