Perempuan sebagai Pemimpin Perubahan dalam STBM Pembelajaran dari Desa Umutnana, Kabupaten Malaka Nusa Tenggara Timur

Dalam sektor sanitasi, peran perempuan kerapkali direduksi pada isu-isu yang menjadi pengalaman dan termasuk ke dalam peran perempuan, dan di antaranya termasuk isu Manajemen Kesehatan Menstruasi (MKM). Padahal, peran perempuan yang lebih strategis dapat berdampak pada perbaikan akses dan kualitas air, sanitasi, dan kebersihan.

Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia) bermitra dengan Yayasan Pijar Timur Indonesia dengan pendekatan gender yang transformatif berupaya untuk mendorong keterlibatan perempuan dalam posisi yang lebih strategis dalam pelaksanaan STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat) di Nusa Tenggara Timur. Yosefina Lotu Manesanlulu atau yang kerap disapa Mama Fina adalah kader STBM di Desa Umutnana, Kab. Malaka, Nusa Tenggara Timur yang kemudian dipercaya oleh pemerintah desa untuk menjabat sebagai ketua Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) pada 2017.

Di Nusa Tenggara Timur, perempuan menghadapi ketimpangan dalam mengakses layanan dan fasilitas sanitasi; seperti minimnya pelibatan dalam pengambilan keputusan, kurangnya informasi tentang kebersihan dan kesehatan, nihilnya dana yang dialokasikan khusus untuk kebutuhan perempuan, dan masih banyak lagi.

Sejak didirikan pada 2012, BUMDes baru pertama kali memiliki pemimpin perempuan di tahun kelimanya. Kepemimpinan Mama Fina membawa dampak positif bagi keterlibatan lebih banyak perempuan di desa Umutnana dalam sektor sanitasi. Sejak mengikuti pelatihan pembuatan kloset oleh Plan Indonesia pada November 2019, ia bertekad untuk menjadi pengusaha sanitasi dan mengajak para perempuan di desa untuk membuat kelompok usaha sanitasi. Selain melihat peluang yang besar di Desa Umutnana dan sekitarnya, Mama Fina memiliki niat mulia untuk melibatkan – sekaligus memberdayakan – ibu-ibu di desanya dalam membangun akses dan fasilitas sanitasi. Melihat kegigihan perempuan yang juga menjabat sebagai ketua Petugas Lapangan Kampung Keluarga Berencana (PLKKB)

ini, pemerintah Desa Umutnana lalu meminta bantuan Mama Fina untuk mempersiapkan desa ini menjadi Desa Stop Buang Air Besar Sembarangan (Desa SBS/ODF) dengan bergerak di bagian pengadaan produk kloset.

Hingga Februari 2020, kelompok usaha Mama Fina sudah memproduksi total 124 buah kloset yang akan dipasarkan tidak hanya di Desa Umutnana saja, tapi juga ke desa-desa tetangga. Meskipun baru 6 (enam) buah kloset yang terjual, namun angka peminat kloset ini semakin lama semakin bertambah, terutama setelah Mama Fina dan para kader STBM melakukan pemicuan STBM ke warga desa.

Kegiatan pelatihan pembuatan kloset ini menciptakan wirausaha-wirausaha baru di bidang sanitasi sehingga desa jadi lebih mandiri dalam menyelesaikan permasalahan sanitasi. Selain itu, perempuan di desa juga termotivasi untuk mengambil peran lebih di bidang yang masih didominasi laki-laki.

Selain memberikan pelatihan pembuatan kloset ke masyarakat Desa Umutnana, Plan Indonesia juga memfasilitasi kegiatan pemicuan STBM secara rutin yang bertujuan untuk mengedukasi masyarakat tentang 5 pilar STBM yaitu buang air besar di toilet, cuci tangan pakai sabun, pengelolaan air minum dan makanan yang aman, pengelolaan sampah rumah tangga, dan pengelolaan limbah cair rumah tangga.

Pemicuan semacam ini bertujuan untuk memperkuat program pemerintah desa dalam mengubah pola pikir masyarakat mengenai pentingnya gaya hidup bersih dan sehat.

Masih banyak pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan terkait sanitasi di Nusa Tenggara Timur, khususnya di Desa Umutnana. Namun, langkah kolaboratif dengan pendekatan yang berbasis kesetaraan gender dan inkusif merupakan langkah awal yang baik untuk mendukung komitmen pemerintah provinsi untuk menjadikan Nusa Tenggara Timur sebagai provinsi yang bersih dan sehat.

Penulis & Foto: Hanna Vanya/ Plan Indonesia