Penyandang Disabilitas Berlatih Menulis dan Fotografi

Siapa saja yang paling terdampak selama pandemik COVID-19? Apakah upaya yang dilakukan selama ini sudah tepat sasaran dan sesuai kebutuhan?

Seluruh lapisan masyarakat terdampak pandemik COVID-19. Tetapi, kelompok penyandang disabilitasmerasakan dampak yang lebih buruk.

Pemberian bantuan yang sesuai kebutuhan menjadi faktor penting dalam menjawab persoalan penyandang disabilitas di masa pandemik COVID-19. Lalu, bagaimana cara memastikan semua upaya yang dilakukan tepat guna? Jawabannya adalah dengan berdiskusi dan menggali persoalan serta solusi dari kelompok tersebut. Kuncinya terletak pada pelibatan kaum disabilitas dalam mendesain program bantuan.

Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia) melalui proyek Water for Women (WfW) yang didukung oleh Plan Australia melalui Australian Aid bergerak dalam isu sanitasi yang inklusif dan terus berupaya untuk meningkatkan kapasitas kelompok penyandang disabilitas agar lebih berdaya, terutama dalam menyampaikan kebutuhan mereka. Salah satu upaya yang dilakukan adalah mengadakan pelatihan menulis dan fotografi serta sosialisasi pencegahan pandemik COVID-19. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan penyandang disabilitas tentang dasar-dasar bercerita melalui tulisan dan foto sehingga mereka dapat membuat cerita tentang bagaimana mereka terdampak pandemik COVID-19 dan apa yang sebenarnya mereka butuhkan. Materi pelatihan pun dirancang untuk dapat dimengerti oleh orang-orang dengan berbagai jenis disabilitas.

“Materi penulisan yang diberikan simpel dan mudah dipahami. Saya belajar bahwa ada tiga komponen utama dalam bercerita, yaitu: aktor, proses perubahan dan dampak yang dirasakan,” kata Muhammad Akib, penyandang disabilitas netra yang merupakan siswa SLB Negeri 1 Sumbawa.

“Aspirasi penyandang disabilitas melalui tulisan menjadi penting untuk didengar, terutama oleh pemerintah agar dapat mengeluarkan kebijakan yang sesuai kebutuhan dan dapat menjawab persoalan sebenarnya kaum disabilitas selama pandemik,” tutur Astri Yanti, penyandang disabilitas fisik saat ditemui di kantor LPPDS., Sumbawa.

Hingga saat ini, beberapa penyandang disabilitas dari berbagai hambatan (fisik, netra, dan rungu) telah mengirimkan tulisan melalui berbagai media, seperti : sms, video, rekaman dan lainnya sesuai dengan aspirasi mereka. Aspirasi mereka perlu menjadi salah satu pertimbangan bagi para pengambil kebijakan agar dapat mengetahui kondisi dan kebutuhan mereka selama pandemik COVID-19, sehingga kebijakan yang dihasilkan dapat tepat sasaran. (Plan Indonesia/Jatmoko)