Lima Belas Anak Perempuan Ambil Alih Kursi DPRD Nagekeo di Hari Anak Perempuan Internasional

Mbay, 12 Oktober 2020 – Setelah mengadakan Girls Leadership Camp selama tiga hari, hari ini (12/10) lima belas anak perempuan mengambil alih peran lima belas posisi di DPRD Nagekeo untuk satu hari. Posisi yang digantikan ini termasuk Ketua DPRD Nagekeo Marselinus F. Ajo Bupu dan Wakil Ketua DPRD Nagekeo Yosefus Dhenga.

Dalam kegiatan ini, Karmelita (17) memimpin rapat sebagai Ketua DPRD yang turut dihadiri oleh Ketua Komisi terkait, anggota DPRD dan Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Desa, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PMDP3A) Nagekeo. Empat belas anak perempuan lainnya juga menggantikan peran wakil ketua DPRD, ketua komisi I, II, dan III, serta para anggota DPRD.

Rapat DPRD Nagekeo tersebut membahas tentang isu kebebasan berekspresi anak dan kaum muda perempuan dalam ranah daring atau freedom online. Dalam laporan State of the World’s Girls[1] terbaru yang dikeluarkan oleh Plan International mengenai Kekerasan Online ditemukan bahwa lebih dari setengah responden di Indonesia mengatakan pernah mengalami sendiri atau mengetahui bahwa temannya menjadi korban pelecehan di media sosial. Penelitan ini dikaji di 31 negara melibatkan 14.000 anak dan kaum muda perempuan termasuk 500 dari Indonesia.

Eka Hadiyanto, PIA Manager Yayasan Plan International Indonesia menjelaskan bahwa kegiatan #Girlstakeover: Sehari Jadi Pemimpin diadakan untuk mendukung dan menginspirasi anak perempuan menjadi pemimpin. “Melalui kegiatan ini, kami ingin mengajak masyarakat menciptakan dan memberikan kesempatan bagi anak perempuan untuk memimpin. Anak perempuan berhak untuk berekspresi dan berkarya dengan bebas tanpa rasa takut, baik di ranah daring ataupun luring.” tambah Eka.

Wakil Ketua DPRD Nagekeo, Yosefus Dhenga. menyampaikan dukungannya untuk #Girlstakeover. “Saya senang dapat berkontribusi dalam acara ini. Saya juga berharap pada pemilihan yang akan datang, akan ada anggota DPRD perempuan yang terpilih karena saat ini 25 orang semuanya laki-laki,” tambahnya.

“Mari kita bebaskan pola pikir terhadap perempuan. Anak perempuan memiliki hak yang sama dengan anak laki-laki. Perempuan dilahirkan bukan untuk berada di bawah laki-laki. Selain itu pemerintah hendaknya berupaya untuk membebaskan perempuan dari ketidak-setaraan gender dalam tindakan nyata,” Karmelita, peserta #Girlstakeover: Sehari Jadi Pemimpin.

Dalam rapat DPRD Nagekeo kali ini, beberapa rekomendasi diajukan oleh para anak perempuan yang mewakili aspirasi anak dan kaum muda, khususnya perempuan. Rekomendasi tersebut adalah:

  1. Melaksanakan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) anak mulai dari tingkat desa sampai tingkat kabupeten, sebagai tindak lanjut dari pelaksanaan Peraturan Daerah Kabupaten Nagekeo Nomor 2 tahun 2016 pasal 4, pasal 14 dan pasal 14 di mana pemerintah wajib memperhatikan dan mengakomodir pendapat anak yang disampaikan melalui forum partisipasi anak.
  2. Mengadakan pembentukan Forum Anak Desa sebagai ruang partisipasi anak (pasal 14 point 1 dalam Perda Nomor 2 tahun 2016 tentang penyelenggaraan perlindungan anak). Termasuk, pembentukan Forum Anak Desa di 59 desa/ kelurahan dan revitalisasi Forum Anak Desa di 44 desa/ kelurahan.
  3. Memfasilitasi penguatan kapasitas anak di tingkat desa/kelurahan, kecamatan dan kabupaten – Forum Anak Kabupaten Nagekeo. Penguatan kapasitas meliputi organisasi dan kemasyarakatan dalam Forum Anak Desa, kesehatan reproduksi, pencegahan pernikahan anak, internet sehat, dan materi lain yang penting bagi perkembangan dan perlindungan anak.
  4. Membangun dan menyediakan panti rehabilitasi korban kekerasan dalam bentuk rumah aman guna melindungi korban kekerasan anak dan kaum muda perempuan.

Rapat DPRD Nagekeo diikuti oleh lima belas anak perempuan yang telah lolos seleksi penjurian yaitu Veronika (15 tahun), Reinildis (17 tahun), Maria (16 tahun), Maria (16 tahun), Ambrosia (16 tahun), Yohana (17 tahun), Maria (18 tahun), Marcelina (16 tahun), Karmelita (17 tahun), Grasiana (16 tahun), Andriana (18 tahun), Maria (17 tahun), Maria (15 tahun), Anacania (16 tahun) dan Theresia (18 tahun).

Selain pelaksanaan di Kabupaten Nagekeo, Plan Indonesia juga mengadakan webinar Hari Anak Perempuan Internastional: Freedom Online di Soe, NTT pada waktu yang bersamaan. Sementara itu, sebelumnya, pada 9 Oktober, Plan Indonesia telah menggelar webinar bertajuk ‘Freedom Online’ yang melibatkan lima anak perempuan dari beberapa daerah. Mereka adalah Patrichia dari Jayapura, Devie dari Maluku Utara, Phylia dari Kupang, Salwa dari Kutai Timur, dan Fayanna dari Depok. Kelima anak ini telah mengambil alih media sosial lima tokoh terkenal, yaitu Najwa Shihab (pendiri Narasi), Hannah Al Rashid (pegiat isu kesetaraan gender dan aktris), Angkie Yudistia (Staf Khusus Presiden RI), Muhammad Farhan (Anggota DPR RI Komisi 1), dan Budiman Sudjatmiko (Ketua umum Gerakan Inovator 4.0 Indonesia). Mereka kemudian bersama-sama menyampaikan pendapatnya dalam webinar Freedom Onlline.


[1] Unduh laporan di https://plan-international.or.id/state-of-the-worlds-girls-report-free-to-be-online/