Kisah Hendrik Taedeni, Guru BDR Bagi Murid dengan Disabilitas

Belajar dari rumah untuk murid-murid dengan disabilitas, bagaimana caranya? Terlebih jika mereka tinggal di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal yang minim berbagai fasilitas.

Tapi dalam situasi Pandemik COVID-19 dan kondisi serba sulit seperti sekarang ini, hal itu menjadi tantangan bagi saya untuk menjalankan tugas sebaik mungkin dalam membimbing anak didik.

Nama saya Hendrik Taedeni, saya mengajar di Sekolah Luar Biasa di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Saya sudah mengabdi di sekolah ini selama 16 tahun. Murid-murid saya antara lain anak-anak tunarungu, tunanetra, tunagrahita, tunadaksa, dan anak-anak autis. Saya menjalankan pendekatan yang berbeda untuk setiap kategori ketunaan anak didik.

Sejak program Belajar Dari Rumah (BDR) diterapkan, kepala sekolah SLB Kota Raja langsung menugaskan para guru untuk rutin berkunjung ke rumah murid-murid karena sekolah jarak jauh dengan internet sangat tidak memungkinkan. 

Saya khusus mendampingi dua murid tuna netra. Di setiap kunjungan, saya memberi mereka tugas-tugas, yang akan saya ambil di kunjungan berikutnya. Selagi di rumah mereka, saya menjelaskan berbagai materi selama satu jam.

Saya membawa serta berbagai peralatan mengajar karena murid-murid saya perlu alat bantu belajar. Dalam pelajaran geografi misalnya, saya membawa peta dengan huruf Braille.

Yang seru, perjalanan saya ke rumah satu murid menghabiskan waktu sekitar 45 menit ke selatan Kota Kupang. Sementara, untuk menuju rumah murid saya yang kedua saya harus kembali dulu ke Kota Kupang dan lanjut satu jam ke arah timur.

Tapi kelelahan yang saya rasakan tak sebanding dengan senyum ceria murid-murid saya tiap kali menemui mereka. Terlebih, ada alumni murid tunarunggu yang diangkat menjadi asisten guru dengan status tenaga honorer di SLB. Saya bangga sekali dengan mereka.

Semoga upaya saya dan pihak sekolah untuk terus memberi layanan pendidikan yang terbaik dapat menghasilkan generasi muda disabilitas yang mandiri.

Ditulis oleh: Agus Haru/ Ciptanti Putri | Ilustrasi: Aida Rahma