Kisah Aditya Masyitha, Guru yang Mengajar lewat Aplikasi Daring

Hari masih pagi, aku baru saja selesai menjalankan ibadah solat Subuh. Tiba-tiba, kudengar bunyi notifikasi Whatsapp di telepon genggam, “ting-tong!”. “Bu Guru, aku hadir ya!”, bunyi pesan itu rupanya dari salah seorang muridku, Wawan. “Wawan, kelas baru dimulai pukul 8 nanti. Ini kan, baru pukul 6. Nanti saja, ya?” balasku sambil tersenyum membayangkan wajah muridku itu. Menjalani kebiasaan baru Belajar Dari Rumah (BDR) memang tidak mudah bagi anak-anak, bahkan untukku yang seorang guru.

Oh ya, namaku Aditya Masyitha. Aku mengajar kelas 6 di salah satu SD di Kota Palu, Sulawesi Tengah. Sejak COVID-19 mulai mewabah di Indonesia pada Maret lalu, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah memberlakukan Belajar Dari Rumah (BDR). Kami para guru dan pihak sekolah berkoordinasi cepat untuk mencari solusi pembelajaran terbaik bagi anak-anak didik kami, dengan mempertimbangkan tingkat perekonomian keluarga mereka yang beragam. Akhirnya, diputuskan memakai kombinasi antara daring dan luring.

Aku lantas bereksperimen dengan berbagai aplikasi daring, seperti Whatsapp, Line, Google Classroom, dan Zoom Meeting. Aku juga mencobakan penerapan aplikasi-aplikasi ini ke murid-murid dan menghimpun tanggapan mereka. Hasilnya, murid-murid merasa pemakaian Whatsapp lebih mudah. Kami pun sepakat memakai aplikasi itu.

Dalam sehari ada dua sesi pembelajaran, tiap sesi berdurasi 1 jam 30 menit dan jeda istirahat 30 menit. Kelas daring diikuti 30 anak murid dan berlangsung 4 hari dalam seminggu agar tidak membebani biaya internet mereka. 

Seperti layaknya sebuah kelas, sesi diawali dengan presensi murid-murid. Mereka dapat menulis pesan “Hadir”, “Siap Belajar”, atau mengirim voice note. Kami tak lupa berdoa sebelum memulai kelas. Aku menyampaikan materi dengan bantuan laptop dan telepon genggam pintar, mengkombinasikan voice note dan teks percakapan. Aku juga menampilkan gambar-gambar atau video edukatif agar murid-murid lebih memahami materi. Semuanya kupersiapkan beberapa hari sebelumnya. Sesi selalu ditutup dengan pemberian tugas yang kelak akan diolah menjadi salah satu elemen nilai akhir sekolah mereka.

Banyak tantangan yang kuhadapi dalam praktik BDR lewat aplikasi daring, mulai dari koneksi internet yang tidak stabil, tumpukan chat candaan murid-murid, serta kesulitan menjelaskan materi pelajaran Matematika. Dan buatku, hal yang terberat adalah ketiadaan jalinan emosional antara guru dan murid karena tidak bertemu fisik langsung.

Namun, aku bersyukur anak-anak tetap bersemangat mengikuti setiap sesi pembelajaran. Dukungan orangtua mereka juga luar biasa. Salah satu orangtua murid bahkan membawa anaknya ke tempat kerja agar bisa terus mendampingi buah hatinya selama pembelajaran daring.

Nah, itu ceritaku mengajar selama wabah COVID-19 ini. Sekarang, aku harus memulai sesi pertama hari ini. Aku sangat berharap anak-anak muridku dapat memahami ilmu pengetahuan yang kubagikan, agar kelak menjadi generasi yang berguna bagi nusa dan bangsa. Doakan aku, ya?

Ditulis oleh: Aditya Masyitha & Enos Ndapareda/ Ciptanti Putri | Ilustrasi: Aida Rahma