Kalau Ada Kesetaraan, Tidak Akan Ada Perpecahan

Tengah tahun 2019 akan jadi tahun yang menarik untuk Elkis, laki-laki muda asal Soe yang baru bergabung sebagai anggota Youth Advisory Panel (YAP) Plan Indonesia. Elkis, yang saat ini duduk di bangku SMA sudah tidak sabar untuk menyuarakan pendapatnya sebagai orang muda untuk implementasi proyek Plan Indonesia di wilayah ia tinggal, yaitu Soe, Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur.

Elkis bercerita sambal setengah tertawa, bagaimana lucunya proses seleksi ia menjadi YAP “saat itu, sudah hari terakhir pendaftaran YAP ditutup. Saya dapat info dari kakak kelas. Saya langsung isi formulir dan mengatarkan ke kantor Plan Soe formulirnya. Lumayan buru-buru jadinya. Hehehe setelah diumumkan kalau saya lolos berkas dan seleksi wawancara, ada tragedi hanphone saya rusak. Alhasil saya tidak bisa dihubungi.”

Sebagai orang muda yang baru bergabung di YAP, Elkis berharap bahwa ia bisa terlibat aktif dalam proyek Plan Indonesia, seperti halnya kaum muda yang sudah duluan gabung. Ia ingin di usianya yang sekarang, ia memanfaatkan waktnya untuk produktif dalam kegiatan positif sampai ia tidak punya waktu lagi untuk memikirkan hal negatif yang bisa saja terselip. Elkis juga berharap akan semakin banyak kapasitasnya tentang partisipasi kaum muda dan kesetaraan gender. Menurutnya, Indonesia bisa lebih baik dan lebih maju lagi dalam segi kesetaraan gender. Sebagai kaum muda, penting juga untuk suarakan nilai-nilai kesetaraan. Karena kalau ada kesetaraan, tidak akan ada perpecahan. Nilai-nilai inilah yang akan dia sebarkan ke lebih banyak kaum muda di wilayahnya