Informasi Tepat Jadi Penyelamat

Walau pemerintah sudah menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), masih ada masyarakat yang belum memahami pentingnya menjaga jarak dan tidak berkumpul dalam kerumunan berlama-lama. Hal serupa juga ditemui di area pesisir Indonesia Timur, Lembata, Nusa Tenggara Timur.

Awalnya di bulan Februari 2020, aktivitas pekerjaan dan kunjungan lapangan masih berjalan seperti biasa, sampai berita mengenai pandemik COVID-19 terdengar ke Lembata, Nusa Tenggara Timur. Lalu, mulai pertengahan Maret, mulai ada larangan hilir mudik ke desa. Mengetahui  dampak  penularan virus yang dashyat di luar Lembata, saya sangat menghargai dan mendukung keputusan desa tersebut. Walaupun akses dibatasi, sayangnya masih banyak masyarakat yang belum memahami bagaimana penyebaran COVID-19 terjadi. Alhasil beberapa dari mereka masih berkumpul di pos jaga atau bersama tetangga.

Jika melihat kondisi di lapangan saat ini, berbagai bidang yang krusial terdampak. Bukan hanya dari segi pendidikan saja, perekonomian pun ikut terguncang. Salah satu kelompok yang paling terdampak adalah masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan dan pekerja harian. Selain itu, satu hal yang menjadi perhatian saya adalah potensi gagal tanam bagi para petani lokal.  Minimnya ruang gerak dan berbagai keterbatasan yang ada membuat sebagian keluarga kesulitan menyediakan kebutuhan hidup sehari-hari, apalagi perlengkapan kebersihan pribadi untuk keluarganya. Beruntung manajemen Plan Indonesia bergerak cepat mengirim dan mendistribusikan paket perlengkapan kebersihan pribadi untuk anak dan keluarga dampingan (sponsored child) di desa-desa.

Plan Indonesia mulai melakukan respons pencegahan COVID-19 pada tanggal 28 Maret 2020.  Sebagai Field Sponsorship Manager area Lembata, saya pun merangkap tugas sebagai koordinator Emergency Response di wilayah yang sama .

Menimbang waktu dan keadaan, sebagai pemimpin saya sadar bahwa pergerakan distribusi harus dipercepat tapi juga ekstra hati-hati.  Terutama dalam menjaga kesehatan dan kebersihan diri anggota tim yang terlibat  maupun penerima manfaat. Tak bosan saya selalu mengingatkan dan memastikan  bahwa anggota tim memahami betul dan mematuhi standar protokol yang diperlukan. Kami harus bisa membagi tugas dan berkordinasi sambil tetap menjaga jarak.  Beberapa kali kami mengikuti simulasi, dan  berupaya membangun mekanisme komunikasi dua arah untuk menerima masukan dari masyarakat atau sesama kolega. Pekerjaan kami sangat terbantu berkat para relawan yang turut mendukung upaya sosialisasi dan distribusi bantuan paket kebersihan pribadi. Terima kasih saya sebesar-besarnya untuk mereka. Dalam kurun waktu 2 minggu, kami selesai menjangkau 79 desa. Setiap respons, saya tak bosan mengajak masyarakat yang masih berkumpul untuk pulang ke rumah dan menginfokan tentang pentingnya menjaga jarak fisik dan kebersihan. Saya selalu tekankan kepada tim, tujuan dari respons ini bukan hanya sekedar membagikan paket kebersihan pribadi, tapi juga membagikan informasi ke masyarakat tentang penyebaran COVID-19.  Kami harus cari cara kreatif agar  masyarakat benar-benar paham tanpa perlu mengambil waktu berlama-lama, tapi juga tidak terburu-buru dalam menjelaskan. Menantang, tapi mungkin dilakukan. Saat datang ke masyarakat, kami membawa poster-poster berisi informasi dan secara runut menjelaskan isinya. Dimulai dari apa itu COVID-19, bagaimana penularannya, cara mencegahnya, pentingnya cuci tangan pakai sabun dan gunakan masker, serta yang juga penting, bagaimana menjaga dan tetap memerhatikan kebutuhan anak di tengah pandemik ini. Keluarga dan orang tua pun berterima kasih atas sosialisasi dan bantuan yang diberikan, khususnya informasi bagaimana untuk mengatasi cemas pada anak, membuat anak merasa nyaman, dan menemani anak belajar.

Dua minggu kami melakukan respons tahap awal , beruntung setiap lapisan masyarakat selalu mendukung. Dukungan juga datang dari Gugus Tugas Kabupaten yang diwakili oleh bapak Wakil Bupati. Beliau secara rutin ikut turun langsung dalam respons dan melakukan sosialisasi bersama kami.

Saya percaya bahwa hidup saya harus jadi berkat untuk orang lain. Dalam situasi seperti ini, tidak semua orang punya informasi yang benar mengenai pandemik COVID-19. Saya dan teman-teman Plan Indonesia menjadi orang-orang yang beruntung karena bisa mendapatkan informasi yang benar dan dari sumber yang tepat. Dengan sumber daya yang saya punya, saya merasa ini sudah menjadi tanggung jawab saya untuk bisa menjelaskan kepada masyarakat situasi yang sebenarnya terjadi, berusaha membantu memenuhi kebutuhan masyarakat dan bersama meminimalisasi dampaknya pada anak. Saya percaya bahwa dengan langkah-langkah sederhana, seperti menjaga jarak fisik, menjaga kebersihan, dan menjaga kesehatan, masyarakat atau khususnya anak-anak dampingan Plan Indonesia di Lembata bisa lebih siap dan bisa meminimalisasi penyebaran COVID-19. Dalam momen ini juga, saya mengambil hikmah bahwa sekarang, banyak anak dan orang tua bisa punya waktu lebih banyak untuk lebih saling memahami dan dekat dengan satu sama lain.

Untuk anak-anak, dan Sahabat Plan sekalian, saya berharap kita semua dalam kondisi sehat, penuh kasih dan bisa saling berbuat baik!

Oleh: Erlina Dangu & Raisha Fatya


Erlina: Information is Aid

Even though the government has implemented large-scale social restrictions, there are still people who do not understand the importance of maintaining their distance and why they need to stop gathering with large groups of people, which is what is happening in Lembata, East Nusa Tenggara.

At first in February 2020, we were still able to undertake our daily routines and work in the community. Then, in mid-March, restrictions were imposed on going back and forth to the villages. Understanding the huge impact of transmitting the virus, I supported the head of village’s decision. Unfortunately, there are still many people who do not understand how COVID-19 can spread. As a result, some of them still met up with their neighbours and friends. In Indonesia, a lot of communities have been affected by coronavirus. Not only in terms of education, the economy is also struggling. One of the most affected groups are fishermen and day labourers. In addition, there is a potential for crop failure for local farmers.

Plan International began its COVID-19 response in Indonesia on 28 March 2020. As a Field Sponsorship Manager in the Lembata area, I lead the team and become the Emergency Response coordinator for the area.

Quarantine restrictions are making it difficult for some families to provide for their children, especially their personal hygiene, so our first action was to move quickly to distribute hygiene kits to all our sponsored children and their families. Considering the circumstances, the distribution had to be accelerated with additional careful measures. The response teams’ own health and hygiene have to be considered during our response, so team members received training and took part in simulations, so they fully understood and adhered to the required safety protocols.

All tasks were coordinated and undertaken while maintaining social distancing. A two-way feedback mechanism was introduced to receive input from community members or colleagues in the field. Our work has been greatly helped by all the community volunteers who have supported us. I thank them and am very grateful for their work. Within two weeks, we had finished distributing the hygiene kits, reaching 79 villages in total.

I always emphasise the purpose of our response to the team. We are not only distributing hygiene kits, but more importantly, are providing information about COVID-19 to people who may never have heard about it. When we visit each community, we carry posters and explain what COVID-19 is, how it is transmitted, how to prevent it, the importance of washing hands with soap, and reminding them to pay attention to the needs of children in the midst of this pandemic.

I believe that my life has a deeper purpose and meaning. I have to give back to my community. In this situation, not everyone has the right information about the COVID-19 pandemic. Me and my colleagues are the lucky ones as we can access information from the right sources. I feel it is my responsibility to explain to the community the real situation, meet the needs of the community and minimise the impact on children.

I believe that with simple steps, such as maintaining physical distance, looking after our personal hygiene and health, the community and our sponsored children in Lembata can be better prepared and the spread of COVID-19 can be reduced. It is in this moment, I think that children and their parents have the opportunity to spend more time getting to know each other better and become closer.