Perlindungan dan Tumbuh Kembang Anak

Karya Mereka
Tim Communication

Kisah-kisah Manis yang Berisiko

Menjadi awak kapal perikanan (AKP) migran masih menjadi pilihan favorit bagi para AKP domestik. Banyak hal manis yang mereka dapat sesap dari pilihan tersebut. Namun, kehati-hatian tetap diperlukan agar tak terjebak rantai eksploitasi. “Iya saya pilih jadi AKP migran, sekarang masih menunggu panggilan, berkas sudah siap semua kemarin ngurus selama dua bulan, tinggal berangkat,” ujar nelayan Tegal, Hery Hermanto (31) kepada Tribunjateng.com, Rabu (7/9/2022). Ia menjelaskan, kini sudah mendaftarkan diri ke kapal berbendera Taiwan. Selambatnya satu bulan lagi hendak berangkat bersama seorang kawan tetangga kampungnya. “Perusahan penyalurnya (manning agency) resmi, sudah ada teman yang pernah berangkat jadi berani ikut,” terangnya.

Selengkapnya
Karir
Ajun Khamdani

Talent Acquisition Specialist

Role Purpose Yayasan Plan International  Indonesia is an independent organization, whose purpose is to strive for a just world that advances children’s rights and equality for girls. We engage people and partners to: Empower children, young people, and communities to make vital changes that tackle the root causes of discrimination against girls, exclusion, and vulnerability. Drive change in practice and policy at local, national, and global levels through our reach, experience, and knowledge of the realities children face. Work with children and communities to prepare for and respond to crises and to overcome adversity. Support the safe and successful progression

Selengkapnya
Karya Mereka
Tim Communication

Sering Ditipu dan Upah Pun Kerap Dipotong

Nasib nelayan domestik ternyata sering kena tipu soal upah. Para juragan atau pemilik kapal seringkali memanipulasi hasil tangkapan supaya membayar upah anak buah kapal secara murah. “Upah memang tergantung sesuai hasil tangkapan, tapi soal pengupahan, saya sering ketipu.” “Seharusnya dapat banyak (tangkapan ikan), tapi upahnya sedikit,” ujar nelayan Tegal, Edy Gunanto (33) kepada Tribunjateng.com, Rabu (7/9/2022). Dia mencontohkan, ketika kapalnya melaut selama dua bulan dengan kapal di atas 100 gross ton mendapatkan hasil tangkapan cumi kelas utama seberat 10 ton, hitungan kasarnya setiap ABK akan mendapatkan upah Rp 8 juta sampai Rp 9 juta. Fakta di lapangan, nelayan hanya mendapatkan upah

Selengkapnya
Berita Dari Kami
Tim Communication

Memperkuat Basis Komunitas untuk Jembatani Persoalan Awak Kapal

Plan Indonesia melalui Safeguarding against and Addressing Fishers’ Exploitation at Sea Project (SAFE Seas Project) memiliki lima desa binaan di Jawa Tengah. Keberadaan lima desa itu sebagai kepanjangan dari SAFE Seas untuk menjembatani persoalan Awak Kapal Perikanan (AKP) atau Anak Buah Kapal (ABK) yang tidak dapat difasilitasi oleh pemerintah “Kami punya lima desa intervensi meliputi di tiga kabupaten di Jawa Tengah untuk memudahkan kami dalam menjangkau Awak Kapal Perikanan (AKP) lebih luas,” ujar Kepala Fisher Center Jawa Tengah, Beni Sabdo Nugroho kepada TribunMuria.com, Selasa (6/9/2022). Kelima desa itu meliputi Desa Kluwut, Kabupaten Brebes, memiliki jumlah anak buah kapal (ABK) atau Awak Kapal Perikanan (AKP)

Selengkapnya
Karya Mereka
Tim Communication

Jaminan Ketenagakerjaan yang Kami Harapkan

Nelayan merupakan salah satu pekerjaan yang penuh risiko. Banyak di antara mereka mengalamai kecelakaan laut, bahkan hilang di laut lepas. Sayangnya, dengan besarnya risiko tersebut, hanya sedikit nelayan yang memiliki jaminan ketenagakerjaan. Bersama pemerintah, Plan Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia) berupaya terus mengedukasi dan memfasilitas nelayan untuk mendapatkan jaminan tersebut. Sucipto (56) nelayan Tegal mengaku pernah hilang dua kali di lautan lepas saat bekerja. Nasib malang dua kali menghampirinya, tapi tak bikin ia jera bekerja sebagai nelayan. Kendati risiko pekerjaan begitu besar, ia ternyata tidak memiliki BPJS ketenagakerjaan selama 41 tahun bekerja. Sucipto menjadi satu di antara potret nelayan

Selengkapnya
Karya Mereka
Tim Communication

Ibu Ina, Lurah Pantang Menyerah Dalam Mengubah Perilaku Masyarakat yang Masih BABS

Fransiska Inatia Pardani adalah satu dari sebagian kecil perempuan di Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang mendobrak stereotip bahwa perempuan tidak bisa menjadi pemimpin. Dia membuktikan stereotip itu salah dan kini dia menjadi Lurah di Kelurahan Karot, Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai. Sejak 2017, Ibu Ina, demikian dia bisa disapa, bersama dengan 170 lurah/kepala desa lainnya berkontribusi besar dalam mewu­judkan Kabupaten Manggarai menjadi kabupaten yang telah Open Defecation Free (ODF) atau bebas dari kebiasaan buang air besar sembarangan (BABS) ke-4 di Provinsi NTT pada tahun 2021. Tidak mudah baginya mewujudkan wilayahnya menjadi daerah yang mas­yarakatnya 100% tidak lagi

Selengkapnya
Berita Dari Kami
Tim Communication

Konsorsium Difabel, Agen Perubahan Pembangunan Ramah Disabilitas di Manggarai

Konsorsium Difabel, Pertuni Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), menyerukan kepada pemerintah setempat agar membangun fasilitas pub­liknya menjadi ramah disabilitas. Mereka juga akan terus mengawal dan mem­perjuangkan poin-poin yang mereka rekomendasikan dalam Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) tingkat Kecamatan Langke Rembong pada Maret 2022 agar pemerintah bisa merealisasikannya secara konkret. “Poin-poin yang kami usulkan adalah adanya akses di sejumlah fasilitas umum untuk kelompok difabel, seperti penanda arah dengan huruf braille, jalur pemandu yang diperbesar, penanda untuk ke jamban atau ke tempat sampah, dan sebagainya,” tegas per­wakilan Konsorsium Difabel Manggarai, Alosia Dahlia Putri Kung. Alosia, yang juga merupakan guru difabel SLB

Selengkapnya