Ketahanan Masyarakat dan Respons Kemanusiaan

Karya Mereka
Tim Communication

Cerita Sukses dari Urban Nexus Fase 2: MASPUPAH MAKIN PEDE JADI PEMIMPIN

Maspupah, siswi kelas 3 disalah satu SMK di Depok, Jawa Barat tak menyangka jika program Urban Nexus 2 membawa pengaruh besar dalam hidupnya. Semua berawal saat Maspupah penasaran melihat teman sebayanya mampu berbicara didepan umum dan memiliki banyak relasi. Walau sempat ragu akan kemampuannya, Maspupah akhirnya mendaftarkan diri menjadi peserta program kepemimpinan dari Urban Nexus Fase 2. Sejumlah kegiatan pun diikutinya, salah satunya pelatihan Kepemimpinan. Ia mengaku pelatihan ini telah mengubah cara pandangnya terhadap sosok seorang pemimpin. Dahulu, Ia menganggap tugas pemimpin hanyalah memerintah kelompok saja. Sekarang, Ia menyadari pemimpin adalah seseorang yang tahu siapa dirinya, punya visi dan arahan

Selengkapnya
Karya Mereka
Tim Communication

Cerita Sukses Urban Nexus Fase 2: UBAH WAKTU LUANG JADI PELUANG

Banyak hal yang bisa dilakukan untuk mengisi waktu luang, seperti yang dilakukan Muhammad Fajar (19). Fajar, begitu sapaannya, kini aktif mengisi waktu luang dengan pelbagai kegiatan seperti karang taruna, berolahraga dan membantu usaha saudaranya. Tak hanya itu, Fajar juga mengisi waktu luangnya dengan menjadi salah satu peserta dalam program Urban Nexus Fase 2 yang diadakan di Kota Depok, Jawa Barat. Manajemen Kesehatan Menstruasi atau disingkat MKM menjadi pelatihan pertama yang Ia dapatkan. Peserta memperoleh materi terkait pengelolaan kebersihan dan kesehatan pada saat perempuan mengalami menstruasi. “Pelatihan ini berguna jika saya sudah menikah dan sudah punya anak nanti. Jika terjadi sesuatu

Selengkapnya
Karya Mereka
Tim Communication

Bangkit dari Situasi Gempa Cianjur, Ihani Siap jadi Fasilitator

Betapa terkejutnya Ihani saat mengetahui desa tempat tinggal keluarganya terdampak parah akibat gempa. Ibunya luka parah, rumahnya rusak berat, dan sejumlah tetangganya meninggal dunia. Malam itu, dalam kondisi gelap gulita, Ia melihat orang-orang berkumpul di lapangan dengan diselimuti rasa takut saat gempa mengguncang Kabupaten Cianjur pada 21 November 2022 lalu. Meski suasana mencekam kala itu masih melekat diingatannya, Ihani mengaku kesedihan yang dirasakannya perlahan pudar saat Ia mulai terbuka menceritakan dan mendengarkan kisah-kisah dari kaum muda lainnya di sesi sharing Pelatihan Fasilitator Dukungan Psikososial bagi Korban Bencana yang diikutinya. “Ternyata banyak orang yang juga merasakanya,” ungkap perempuan muda yang sedang

Selengkapnya
Ketahanan Masyarakat dan Respon Kemanusiaan
Tim Communication

Wujudkan Sekolah Tangguh Bencana di Cianjur, Plan Indonesia Beri Pelatihan SPAB dan Fasilitator Sekolah Tangguh

Cianjur, 17 Januari 2023—Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia) bekerja sama dengan Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Cianjur dan didukung oleh sejumlah NGO lainnya menggelar Workshop Penguatan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) dan Pelatihan Fasilitator Sekolah Tangguh di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Kegiatan ini dirancang untuk memberikan referensi bagi para pemangku kepentingan, terutama sekolah, mengimplementasikan program SPAB. Kegiatan yang dilaksanakan pada 17-20 Januari 2023 ini juga sebagai upaya meningkatkan kapasitas guru, kepala sekolah, serta Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga di Kabupaten Cianjur dalam pengetahuan seputar isu sekolah tangguh pasca terjadinya bencana gempa bumi pada 21 November 2022 lalu. Team

Selengkapnya
Karya Mereka
Tim Communication

PELATIHAN KAUM MUDA SIAGA BENCANA BUAT DENIS MAKIN PERCAYA DIRI

Banjir, tumpukan sampah, kebakaran dan pelbagai kerusakan lingkungan lainnya adalah hal yang rentan terjadi sebagai konsekuensi tinggal berdekatan dengan Ibu Kota Jakarta yang penduduknya semakin padat. Ingin berbuat sesuatu untuk lingkungan, apa daya kaum mudanya merasa tak berdaya. Inilah yang menjadi keresahan Denis, 22 tahun, salah seorang peserta program Urban Nexus Fase 2 yang dilaksanakan MDMC sebagai mitra Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia). Dia mengaku sebelum mengikuti program Urban Nexus 2, hidupnya monoton, hanya menghabiskan waktu berkumpul bersama teman-temannya. Hingga Ketua RW mengajak dirinya mengikuti pelatihan kaum muda siaga bencana dari program Urban Nexus. “Awalnya saya tidak begitu tertarik

Selengkapnya
Berita Dari Kami
Tim Communication

APA, SIH, SEKOLAH TANGGUH ITU?

Sekolah tangguh adalah kemampuan sekolah dan komunitasnya untuk menghadapi berbagai ancaman, baik alam maupun non alam, seperti gempa bumi, banjir, kekerasan, COVID-19 serta pulih dari dampak bencana  secara efektif dan efisien. Sekolah Tangguh mengajarkan lima tema utama, yakni pengurangan risiko bencana di sekolah, adaptasi perubahan iklim di sekolah, Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) – Manajement Kesehatan Menstruasi (MKM) di sekolah, perlindungan anak dan dukungan psikososial awal di sekolah, dan Kesehatan Reproduksi (Kespro). Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia) pada Program Implementasi Area Lembata melakukan rangkaian kegiatan untuk mewujudkan Sekolah Tangguh. Saat ini Sekolah Tangguh telah diimplementasikan di 15 sekolah di

Selengkapnya
Karya Mereka
Tim Communication

Cerita Penyintas Gempa Cianjur: Heni, Perempuan Penjaga Pos

Sore itu, di sebuah gang kecil tidak jauh dari jalan raya tampak sebuah tenda besar berwarna oranye tepat di sebelah reruntuhan bangunan yang porak poranda. Di dalamnya tampak puluhan orang termasuk dewasa dan anak-anak saling berhimpitan dengan tas dan pakaian.   Di depannya kelompok  perempuan sedang memasak berbagai macam menu makanan dengan porsi besar. Dari aromanya, sangat mudah ditebak yaitu nasi putih, telur dadar, dan mie instan.   Dan di sisi lain sejumlah orang laki-laki bergantian memikul kardus dan karung dari sebuah mobil bak terbuka menuju tempat penyimpanan. Sejumlah kendaraan lainnya juga sedang mengantri di belakangnya yang masing-masing berhiaskan ‘bantuan kemanusian’.   Setelah

Selengkapnya
Karya Mereka
Tim Communication

Cerita Penyintas Gempa Cianjur: Sinta Tidak Lagi Berbagi Sikat Gigi

“Semua serba terbatas termasuk perlengkapan mandi. Kita saling berbagi sabun, shampo, bahkan sikat gigi yang dipakai bergantian” kenang Sinta.  Sinta (21 tahun) menceritakan kembali situasi di awal-awal mengungsi pasca bencana gempa bumi. Di mana Sinta bersama kedua orang tuanya harus tinggal di tenda darurat setelah menyaksikan rumah satu-satunya hancur diguncang gempa. Mereka tidak sendiri, masih ada ratusan orang lain di dusunnya yang bernasib sama.  Salah satu yang paling dibutuhkan para pengungsi adalah akses sanitasi yang layak. Selain ketersediaan air bersih, perlengkepan penunjangnya juga penting seperti perlengkapan mandi dan kebersihan saat menstruasi bagi perempuan.   “Ada sabun, sikat gigi, dan pembalut. Paket

Selengkapnya