KESEHATAN seksual dan reproduksi remaja

Kesehatan Seksual dan Reproduksi Remaja
Communications Team

Cegah Perkawinan Anak, Pemprov NTB dan Plan Indonesia Teken MoU

Mataram, 01 September 2022—Perkawinan anak masih terus terjadi di Indonesia, bahkan, angkanya menduduki posisi tertinggi kedua di ASEAN. Badan Pusat Statistik (BPS) 2021 mencatat sekitar 1.220.900 anak di Indonesia mengalami perkawinan usia anak, ini belum termasuk praktik perkawinan anak di bawah tangan (nikah siri). Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) tercatat masuk dalam tujuh besar angka kasus perkawinan anak tertinggi di Indonesia. Untuk menekan angka perkawinan anak, Pemerintah Provinsi NTB mengeluarkan Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 2021 tentang Pencegahan Perkawinan Anak. Sebagai salah satu upaya untuk memperkuat implementasi peraturan ini, Pemerintah Provinsi NTB menggandeng Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia) untuk

Selengkapnya
Kesehatan Seksual dan Reproduksi Remaja
Tim Communication

Community-Led Total Sanitation (CLTS) and Menstrual Hygiene Management (MHM) Snake & Ladder

Plan Indonesia’s Water for Women project has developed Snake & Ladder game to help a better and easier understanding of Community-Led Total Sanitation (CLTS) and Menstrual Hygiene Management (MHM). This Snake & Ladder game is usually used for training or socialization activities, especially in schools with children, peer educators, and teachers. The goal is to make learning interesting and fun, while they still get the essence of CLTS and MHM. Community-Led Total Sanitation (CLTS) Snake & Ladder: Menstrual Hygiene Management (MHM) Snake & Ladder:

Selengkapnya
Kesehatan Seksual dan Reproduksi Remaja
Communications Team

Buku Saku Pencegahan Perkawinan Anak

Perkawinan anak merupakan salah satu isu pembangunan yang menjadi salah satu agenda prioritas pembangunan di bidang pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak di Indonesia. Pemerintah Indonesia telah berkomitmen untuk memenuhi pencapaian SDGs (Target 5.3) yakni menghapuskan semua praktik berbahaya seperti perkawinan usia anak, perkawinan dini dan paksa. Data Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) BPS tahun 2017 memperlihatkan bahwa persentase perempuan berusia 20-24 tahun yang sudah pernah kawin dibawah usia 18 tahun sebanyak 25,71%. Studi yang dilakukan oleh Plan Indonesia bersama Koalisi Perempuan Indonesia (2019) menemukan fakta bahwa meskipun Undang Undang Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perkawinan telah direvisi, namun praktik

Selengkapnya
Kesehatan Seksual dan Reproduksi Remaja
Communications Team

LUNCURKAN Buku Saku Pencegahan Perkawinan Anak dan PROGRAM GEMA CITA, PLAN INDONESIA AJAK SEMUA PIHAK LAWAN PERKAWINAN ANAK

Jakarta, 4 Agustus 2022 – Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) bersama Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia) meluncurkan Buku Saku Pencegahan Perkawinan Anak (PPA) Tingkat Desa dan Program Generasi Emas Bangsa Bebas Perkawinan Usia Anak (Gema Cita), Kamis (4/08/2022). Peluncuran ini merupakan langkah konkret untuk meningkatkan resiliensi anak dan penguatan lingkungan yang mendukung anak, dalam upaya pencegahan perkawinan anak. Langkah ini menjadi bagian dari proses pencapaian target penurunan angka perkawinan anak yang tertuang dalam RPJMN 2020-2024, serta target 5.3 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Dr. Ir. Subandi, M.Sc., Plt. Deputi Bidang Pembangunan Manusia, Masyarakat dan Kebudayaan, Kementerian PPN/Bappenas menjelaskan, buku saku ini

Selengkapnya
Berita Dari Kami
Communications Team

Pertemuan Koordinasi Kelompok Penasihat Young Health Programme

Secara global, dua pertiga kematian dini pada orang dewasa dikaitkan dengan kondisi pada masa kanak-kanak berdasarkan Modul Peer Educator Young Health Programme. Oleh karena itu, pencegahan PTM menjadi penting terutama bagi anak-anak dan kaum muda di Indonesia. Menurut data UNFPA, sekitar 25% populasi Indonesia merupakan kaum muda yang memegang peranan penting bagi masa depan bangsa Indonesia. Hal ini tercantum dalam  Rencana Aksi Nasional Peningkatan Kesejahteraan Anak Usia Sekolah dan Remaja (RAN PIJAR) yang telah diluncurkan pada tanggal 19 April 2022 oleh Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK), yang didukung oleh 19 Kementerian dan Lembaga lainnya. Yayasan Plan International

Selengkapnya
Kesehatan Seksual dan Reproduksi Remaja
Communications Team

Plan International: Saatnya Kaum Muda Beraktivisme Lebih Lantang dari Sekadar Kata-kata untuk Hapus Perkawinan Anak

Perkawinan Anak, Dini, dan Paksa (Child, Early, and Forced Marriage/CEFM) merupakan salah satu masalah hak asasi manusia yang secara secara signifikan berdampak bagi anak perempuan. Perkawinan anak menimbulkan beragam dampak negatif yang menghalangi jutaan anak perempuan untuk meraih potensi terbaik mereka. Pada tahun 2030, diprediksi setidaknya lebih dari 800 juta perempuan akan merasakan dampak perkawinan anak, meningkat lebih dari 650 juta daripada angka saat ini dalam skala global. Tantangan untuk menghapus perkawinan anak di Asia-Pasifik masih sangat sulit. Meskipun ada kemajuan yang cukup stabil di banyak negara di Asia-Pasifik untuk mengurangi perkawinan anak, praktiknya tetap meluas. Asia Selatan adalah wilayah

Selengkapnya
Karya Mereka
Communications Team

Mengubah Diri Sendiri untuk Mengubah Sesama

Zakiah (16 tahun) sadar betul, kesehatan itu mahal. Terutama, jika kita menjalankan pola hidup yang tidak teratur, seperti malas makan buah dan sayur, tidak minum air putih yang cukup, dan tak menjalankan kebiasaan lain yang penting bagi kesehatan tubuh. Berangkat dari kesadaran tersebut,  Zakiah yang kini masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) di Jakarta Utara, terdorong terlibat aktif sebagai salah satu pendidik sebaya atau peer educator program Young Health Programme (YHP) oleh Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia). YHP merupakan sebuah program kesehatan kaum muda, memiliki fokus pada pencegahan utama penyakit tidak menular (PTM), hak kesehatan seksual dan

Selengkapnya

Refleksi 2 Tahun Pandemik: Momentum Pemberdayaan Perempuan

Jakarta, 26 April 2022 – Guncangan ekonomi akibat pandemik COVID-19 yang melanda selama lebih dari dua tahun terakhir telah menambah tantangan tersendiri bagi perempuan. Perempuan semakin didorong untuk berperan memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Namun demikian, peran perempuan dalam mencari nafkah masih dianggap sekadar pelengkap atau pendukung laki-laki yang masih dinilai sebagai pencari nafkah utama. Demikian salah satu temuan dari Baseline Study yang dilakukan Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia) dalam proyek Raise the Bar tahun 2022. Studi ini melaporkan bahwa mayoritas responden (62%) tidak setuju jika peran dan tanggung jawab mencari nafkah hanya dibebankan pada laki-laki. Sebaliknya, mereka setuju jika

Selengkapnya