Tuli Bukan Hambatan, Semua Bisa Jika Ingin Belajar

Vivi, teman tuli asal Nusa Tenggara Barat, sangat tertarik menjadi guru karena menurutnya, guru merupakan sosok yang dapat membagi ilmu yang manfaatnya berlipat ganda kepada orang lain.

Guru adalah suatu pekerjaan mulia yang seringkali tidak diminati oleh banyak orang. Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) mencatat bahwa Indonesia kekurangan sebanyak 1,1 juta guru pada tahun 2019.

Vivi, teman tuli asal Nusa Tenggara Barat, sangat tertarik menjadi guru karena menurutnya, guru merupakan sosok yang dapat membagi ilmu yang manfaatnya berlipat ganda kepada orang lain. Dengan menjadi Guru, Vivi dapat membantu teman-teman tuli lainnya dalam mendapatkan pendidikan yang setara.

Saat ini, Vivi berkuliah Pendidikan Luar Biasa di Malang. Vivi menemukan banyak hal dalam perkuliahan yang menurut Vivi tidak mendukung para teman tuli dalam memahami isi pelajaran.

“Kami tidak dapat mengerti dan mengikuti sesi belajar secara penuh karena keterbatasan akses komunikasi antara teman dengar [NN1] dan teman tuli. Tantangan nyata bagi kami dalam mengenyam pendidikan tinggi. Padahal jika akses yang diberikan cukup kami dapat berkarya secara optimal,” ujar Vivi.

Akses yang tidak mendukung teman-teman tuli dalam belajar telah membukakan mata Vivi bahwa peran guru sangatlah penting. Menurutnya, salah satu solusi terbesar dalam sesi pembelajaran yang efektif kepada teman-teman tuli adalah adanya Juru Bicara Isyarat (JBI) yang hadir. Tak hanya interaksi antara pelajar dan pengajar, namun Vivi juga menemukan kesulitan dalam berinteraksi dengan teman dengar[NN2] , terutama jika terdapat diskusi dalam pembelajaran.

Bagi Vivi, hambatan dalam berkomunikasi ini juga penyebab tidak terciptanya pendidikan yang setara dan inklusif. Terlebih masih adanya diskriminasi yang didapat para penyandang disabilitas untuk dapat melanjutkan pendidikan perkuliahan. Diskriminasi ini berangkat dari anggapan bahwa disabilitas merupakan hambatan padahal dalam kenyataannya, penyandang disabilitas seperti Vivi memiliki segudang prestasi dan keahlian.

Vivi memiliki segudang prestasi yang dapat mengantarkannya mendapatkan beasiswa prestasi untuk pendidikan kuliahnya saat ini. Selain sebagai asisten make-up artist di sebuah Wedding Organizer (WO), Vivi juga pintar dalam menari. Dengan prestasinya, Vivi dapat penghasilan sendiri yang digunakannya untuk membiayai kuliahnya sendiri tanpa membebankan orang tua.

“Keterampilan adalah budaya bagi kami sebagai bentuk memandirikan diri bagi para penyandang disabilitas. Dengan keterampilan saya, harapannya dapat membantu teman-teman penyandang disabilitas lainnya dalam meningkatkan kemampuan mereka.” Dalam semangat perayaan Hari Disabilitas Internasional, Vivi ingin adanya sebuah sarana untuk menampilkan keterampilan-keterampilan yang dimiliki oleh para penyandang disabilitas sehingga masyarakat jadi lebih tahu bahwa banyak yang dapat dilakukan tanpa melihat disabilitas yang dimiliki. Semua orang bisa jika ingin belajar. (***)


 [NN1]Teman dengar

 [NN2]Teman dengar