SAFE Seas Project Meningkatkan Akuntabilitas dan Akses Pemulihan Perlindungan Awak Kapal Perikanan Bersama dengan Pemerintah Indonesia

Menangkap ikan adalah salah satu pekerjaan yang paling berbahaya di dunia, karena awak kapal perikanan (AKP) harus menanggung jam kerja yang panjang dalam kondisi kerja yang intens. Tingkat kecelakaan bahkan sampai kematian dalam penangkapan ikan termasuk tinggi di sebagian negara, termasuk Indonesia.

Kesehatan dan keselamatan di sektor perikanan masih kerap terabaikan. Belum lagi, kebanyakan pekerja perikanan berlatar belakang kelompok terpinggirkan dan rentan. Bahaya kesehatan dan keselamatan kerja dapat dikaitkan dengan kerja paksa, jeratan hutang, diskriminasi, dan pelanggaran hak asasi manusia. Bahaya dari risiko ini tetap di abaikan dan tidak tertangani karena kesejangan dalam pengetahuan, pengawasan, dan pencegahan.

Dalam menegakan hak awak kapal perikanan, SAFE Seas Project bertujuan untuk melindungi hak-hak mereka dengan memperkuat peraturan dan kebijakan, serta meningkatkan koordinasi di antara lembaga pemerintah untuk mengatasi ekspolitasi tenaga kerja di atas kapal penangkap ikan. Hasil nyata dari proyek telah mendirikan sebuah tempat layanan informasi dan rujukan yang dinamai Fishers Center. Fishers Center yang sudah diresmikan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan pada tahun 2020 berlokasi di kota Tegal, Jawa Tengah dan kota Bitung, Sulawesi Utara.

Pada bulan November 2020, Fishers Center di kota Bitung menerima laporan dari seorang istri AKP bernama Ibu Asniram. Ibu Asniram melaporkan kejadian pahit yang menimpa suaminya, Ever Tundu. Bapak Ever Tundu meninggalkan kota Bitung untuk bekerja di laut Aru selama satu tahun dengan gaji bulanan sebanyak 3,2 juta Rupiah. Namun, sayangnya, masuk ke bulan kelima bekerja, Pak Ever Tundu dan 8 awak kapal lainnya mengalami kerancunan gas Freon freezer, dimana 2 diantara pekerja lainnya meninggal dunia.

Laporan yang di ajukan Ibu Asniram ke Fishers Center kota Bitung terkait kondisi kesehatan dan keselamatan kerja yang berbahaya dikirimkan ke pihak Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk di tindaklanjuti. Semua hak-hak yang menjadi tuntutan Ibu Asniram atas kejadian yang menimpa suaminya telah di tangani pihak BPJS Ketenagakerjaan untuk diselesaikan berdasarkan ketentuan peraturan yang berlaku.

Pada 2 Februari 2021, kali ini Ibu Asniram mendatangi Fishers Center kembali untuk berbagi cerita dan berterima kasih atas bantuan Fishers Center untuk memenuhi hak pekerja suaminya, dan mengabarkan suaminya sudah kembali sehat dan bisa kembali bekerja.

Fishers Center bekerjasama dengan KKP untuk meningkatkan akuntabilitas dan akses pemulihan bagi korban seperti suami Ibu Asniram. Praktik baik yang terekam dalam kisah suami Ibu Asniram menunjukan koordinasi yang efektif antara SAFE Seas Project dan Pemerintah dalam menanggapi dan menangani perlindungan awak kapal perikanan.


Sekilas SAFE Seas Project

Safeguarding Against and Addressing Fishers’ Exploitation at Sea (SAFE Seas) adalah proyek perlindungan awak kapal perikanan yang dikelola oleh Plan International dan sedang dilaksanakan di Indonesia dan Filipina. SAFE Seas bertujuan untuk memerangi kerja paksa dan perdagangan orang di kapal penangkapan ikan di kedua negara. Di Indonesia, SAFE Seas dilaksanakan oleh Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia), bekerja sama dengan Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia.

Pendanaan untuk proyek ini disediakan oleh Departemen Ketenagakerjaan Amerika Serikat (USDOL) berdasarkan perjanjian kerja sama IL-31472-18-75-K. Seratus persen dari total biaya proyek dibiayai dengan dana federal, dengan total lima juta dolar.Materi ini tidak mencerminkan pandangan atau kebijakan USDOL, juga tidak menyebutkan nama dagang, produk komersial, atau organisasi yang menyiratkan dukungan oleh Pemerintah Amerika Serikat