CERITA MEREKA

Karya Mereka
Tim Communication

Kisah-kisah Manis yang Berisiko

Menjadi awak kapal perikanan (AKP) migran masih menjadi pilihan favorit bagi para AKP domestik. Banyak hal manis yang mereka dapat sesap dari pilihan tersebut. Namun, kehati-hatian tetap diperlukan agar tak terjebak rantai eksploitasi. “Iya saya pilih jadi AKP migran, sekarang masih menunggu panggilan, berkas sudah siap semua kemarin ngurus selama dua bulan, tinggal berangkat,” ujar nelayan Tegal, Hery Hermanto (31) kepada Tribunjateng.com, Rabu (7/9/2022). Ia menjelaskan, kini sudah mendaftarkan diri ke kapal berbendera Taiwan. Selambatnya satu bulan lagi hendak berangkat bersama seorang kawan tetangga kampungnya. “Perusahan penyalurnya (manning agency) resmi, sudah ada teman yang pernah berangkat jadi berani ikut,” terangnya.

Selengkapnya
Karya Mereka
Tim Communication

Sering Ditipu dan Upah Pun Kerap Dipotong

Nasib nelayan domestik ternyata sering kena tipu soal upah. Para juragan atau pemilik kapal seringkali memanipulasi hasil tangkapan supaya membayar upah anak buah kapal secara murah. “Upah memang tergantung sesuai hasil tangkapan, tapi soal pengupahan, saya sering ketipu.” “Seharusnya dapat banyak (tangkapan ikan), tapi upahnya sedikit,” ujar nelayan Tegal, Edy Gunanto (33) kepada Tribunjateng.com, Rabu (7/9/2022). Dia mencontohkan, ketika kapalnya melaut selama dua bulan dengan kapal di atas 100 gross ton mendapatkan hasil tangkapan cumi kelas utama seberat 10 ton, hitungan kasarnya setiap ABK akan mendapatkan upah Rp 8 juta sampai Rp 9 juta. Fakta di lapangan, nelayan hanya mendapatkan upah

Selengkapnya
Karya Mereka
Tim Communication

Jaminan Ketenagakerjaan yang Kami Harapkan

Nelayan merupakan salah satu pekerjaan yang penuh risiko. Banyak di antara mereka mengalamai kecelakaan laut, bahkan hilang di laut lepas. Sayangnya, dengan besarnya risiko tersebut, hanya sedikit nelayan yang memiliki jaminan ketenagakerjaan. Bersama pemerintah, Plan Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia) berupaya terus mengedukasi dan memfasilitas nelayan untuk mendapatkan jaminan tersebut. Sucipto (56) nelayan Tegal mengaku pernah hilang dua kali di lautan lepas saat bekerja. Nasib malang dua kali menghampirinya, tapi tak bikin ia jera bekerja sebagai nelayan. Kendati risiko pekerjaan begitu besar, ia ternyata tidak memiliki BPJS ketenagakerjaan selama 41 tahun bekerja. Sucipto menjadi satu di antara potret nelayan

Selengkapnya
Karya Mereka
Tim Communication

Ibu Ina, Lurah Pantang Menyerah Dalam Mengubah Perilaku Masyarakat yang Masih BABS

Fransiska Inatia Pardani adalah satu dari sebagian kecil perempuan di Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang mendobrak stereotip bahwa perempuan tidak bisa menjadi pemimpin. Dia membuktikan stereotip itu salah dan kini dia menjadi Lurah di Kelurahan Karot, Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai. Sejak 2017, Ibu Ina, demikian dia bisa disapa, bersama dengan 170 lurah/kepala desa lainnya berkontribusi besar dalam mewu­judkan Kabupaten Manggarai menjadi kabupaten yang telah Open Defecation Free (ODF) atau bebas dari kebiasaan buang air besar sembarangan (BABS) ke-4 di Provinsi NTT pada tahun 2021. Tidak mudah baginya mewujudkan wilayahnya menjadi daerah yang mas­yarakatnya 100% tidak lagi

Selengkapnya
Karya Mereka
Tim Communication

Berlari Tanpa Batas Walau dengan Kursi Roda

“Percayalah Anda bisa dan Anda sudah setengah jalan.” – Theodore Roosevelt Zulaifi atau yang biasa dikenal dengan panggilan Ipi, terlahir 29 tahun yang lalu tanpa kedua kaki hingga batas paha atas dan kelainan jari (hanya mempunyai 2 jari). Zulaifi merupakan salah satu wirausahawan sanitasi yang didampingi oleh Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia) melalui program Women, Disability Inclusive and Nutrition-Sensitive (WINNER) di Nusa Tenggara Barat (NTB). Sebagai wirausahawan sanitasi yang memproduksi kloset berkualitas dan harga yang terjangkau, Zulaifi juga memiliki prestasi lainnya menempati juara ke-2 Maybank Marathon Kategori Kursi Roda 2022 di Bali (28/08/2022). Sebagai salah satu perwakilan organisasi Lombok

Selengkapnya
Karya Mereka
Tim Communication

Lewat Umpan Balik, Kaum Muda Krendang Asah Ketangguhan dan Kemandirian

Kaum muda berhak dilibatkan dalam setiap pengambilan keputusan dalam komunitas mereka. Dengan cara ini, mereka bisa berkembang menjadi generasi yang tangguh dan siap menghadapi berbagai tantangan. Dengan semangat ini, tim Urban Nexus dari program Ketahanan dan Kemanusiaan Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia) mengajak kaum muda di Kelurahan Krendang, Jakarta barat, sebagai tim satuan tugas pengembangan mekanisme umpan balik ramah anak dan kaum muda (CAYFFM). CAYFFM adalah salah satu aktivitas rangkaian yang didampingi oleh Urban Nexus, berkerja sama dengan kelurahan dan beberapa unsur kemasyarakatan lainnya seperti LMK, RW, PKK, karang taruna, dan perwakilan kaum muda. Tujuannya, agar kaum muda bisa

Selengkapnya
Karya Mereka
Tim Communication

Memupuk Asa di Tanah Surga – Cerita Green Skill 2.0

Jauh di tengah perbukitan Soe, Nusa Tenggara Timur (NTT), hidup sekelompok keluarga yang sederhana. Sehar-hari, mereka bahu-membahu mengembangkan tanah pertanian, menanam bibit sawi putih atau ‘picai kumbang’, brokoli, dan masih banyak tanaman lainnya. Mereka adalah kelompok Meuptabua, atau kelompok ‘kerjasama’ dalam bahasa lokal NTT. . Meuptabua adalah salah satu kelompok tani binaan Green Skill 2.0, bagian dari program Ketenagakerjaan dan Kewirausahaan Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia). Didukung oleh koordinator program dan pemimpin adat setempat, kelompok beranggotakan sepuluh orang yang mayoritas anggotanya perempuan ini bersama-sama belajar dan menumpukan kehidupan mereka pada tanah surga, tanah milik keluarga. Salah seorang dari mereka

Selengkapnya
Karya Mereka
Tim Communication

Menyemai Jiwa Kesukarelawanan, Menjaga Indonesia dari Bencana

Bencana alam selalu menyisakan kepedihan dan kerugian material yang tidak kecil. Sebagai salah satu negara paling rawan mengalami bencana alam, kesiapsiagaan dan ketanggapan bencana guna meminimalisasi dampak pun menjadi sangat penting. Dalam hal ini, kita patut berterima kasih kepada jiwa-jiwa kesukarelawanan yang senantiasa hadir, tanggap, dan sepenuh hati membantu para korban bencana. Di tengah kesibukan pribadi, mereka menyisakan waktu dan tenaga untuk membantu sesama. Dalam suasana peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-77, apresiasi layak diberikan kepada pahlawan-pahlawan tanggap bencana ini. Masih belum lekang di benak Fitria (28), saat dia hadir menjadi salah seorang relawan tanggap darurat dalam bencana badai siklon tropis

Selengkapnya