CERITA MEREKA

Girls Leadership Academy
Communications Team

Perempuan Muda Berdaya

Andi, 19 tahun, peserta Powering the Movement Program (PTMP) yang diselenggarakan oleh Plan Indonesia menceritakan quarter life crisis yang dialaminya. Sehingga dalam menghadapi berbagai tantangan, support system menjadi hal yang penting untuk saling menguatkan dan mendukung sesama anak dan kaum muda perempuan lainnya,

Selengkapnya
Karya Mereka
Communications Team

Nila Mengajak Jaga Prokes di Lingkungan Rumah

Nila, 19, baru saja selesai melakukan Isoman (Isolasi Mandiri) selama 14 hari. Bukan hanya dirinya, melainkan juga kedua orangtuanya. Setelah merasakan COVID-19, Nila kini rajin memberikan contoh prokes kepada teman-temannya.

Selengkapnya
Karya Mereka
Communications Team

BUKU UNTUK ARDI

Ardi (9 tahun) merupakan salah satu anak Lembata yang keluarganya terdampak bancana banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi pada bulan April silam. Ia merupakan seorang anak dampingan Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia). Saat ini Ardi bersama adik dan kedua orangtuanya mengungsi dan tinggal sementara di rumah keluarga. Ketika terjadi bencana banjir bandang dan tanah longsor, Ardi bersama keluarga dan warga lainnya bergegas untuk menyelamatkan diri dengan pergi ke bukit yang ada di dekat rumah. Selanjutnya mendapatkan pertolongan dari pemerintah dan langsung dilakukan evakuasi menuju kamp pengungsian di Kota Lewoleba. Ia bersama adik dan kedua orang tuanya hanya tinggal

Selengkapnya
Karya Mereka
Communications Team

Pekerjaan Di Rumah Lebih Lama Selama Pandemi

Pekerjaan Amelia, 39 tahun, bertambah setelah suaminya dinyatakan positif COVID-19, dan harus melakukan Isoman (Isolasi Mandiri) di rumahnya selama 14 hari. Tentu saja dia tidak mengeluh dengan situasi tersebut. Selama Isoman dia mengantarkan makanan dan obat di depan pintu kamar tepat waktu, dan memastikan perkembangan kondisi suaminya.  “Semula saya agak khawatir ketika mengetahui suami COVID-19. Takut tetangg mengucilkan saya. Ternyata saya salah. Tetangga kami banyak yang peduli. Selama Isoman ada saja yang datang depan rumah untuk menaruh makanan di sana,” jelasnya. Adanya kebijakan PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) membuat dirinya juga harus membatasi ruang gerak anak-anak, sehingga mereka lebih banyak

Selengkapnya
Karya Mereka
Communications Team

Meski gerak terbatas Sumiyati tetap berusaha mandiri

Dalam usianya yang sudah setengah abad, Sumiyati tidak pernah mengeluh dengan kondisinya yang tidak bisa berjalan sejak lahir. Dia bahkan berusaha agar dirinya tidak menjadi beban bagi orang lain. Dia tetap aktif berjualan makanan kecil seperti sosi goreng, makaroni, atau takoyaki. Dia jual semua jenis tersebut masing-masing 1000 rupiah. “Biasanya untuk beli bahan masakannya saya minta tolong salah satu adik saya membelanjakannya. Repot jika saya yang belanja karena dengan kursi roda. Saya yang mengolah, memotong, meracik bumbu dan memasaknya. Tapi jika lagi ramai, pembeli banyak, adik saya bantu melayani pembeli, saya yang sibuk goreng-goreng,” jelasnya dalam sebuah wawancara yang dilakukan

Selengkapnya
Karya Mereka
Communications Team

Jangan menunggu kena COVID-19 dulu, baru mau jalani Prokes

Septiani, 18, warga Duren Sawit, Jakarta Timur (Jaktim), cukup kaget begitu mengetahui bungkusan bantuan tanggap darurat COVID-19 untuk anak-anak yang diberikan Yayasan Plan Internasional Indonesia (Plan Indonesia) kepada keluarganya, pada 22 Juli 2021, beberapa diantaranya adalah paket manajemen kebersihan menstruasi (MKM). Seketika itu dia merasa senang, karena belakangan ini dia dan keluarganya sulit mendapatkan beberapa barang di warung terdekat. Jika ada pun, harganya kadang mahal. “Kok, tumben ada pembalutnya. Tapi saya senang, belum pernah ada yang memberikan bantuan pembalut, padahal penting buat saya. Kebetulan stok pembalut yang biasa disediakan ibu juga sudah habis. Biasanya beli di warung terdekat harganya lumayan

Selengkapnya