Perempuan Muda Berdaya

Andi, 19 tahun, peserta Powering the Movement Program (PTMP) yang diselenggarakan oleh Plan Indonesia menceritakan quarter life crisis yang dialaminya. Sehingga dalam menghadapi berbagai tantangan, support system menjadi hal yang penting untuk saling menguatkan dan mendukung sesama anak dan kaum muda perempuan lainnya,

Quarter life crisis, sebuah kondisi yang biasa dialami remaja akhir menuju dewasa awal perasaan galau, bingung, kekhawatiran berlebih tentang masa depan.  Menginjak usia 19 tahun aku dan teman – temanku merasakan hal ini kami mulai dihadapkan pada pilihan – pilihan sulit belajarpun kurang motivasi apalagi melihat teman sebaya diluar sana sudah lebih dulu mencapai impian rasanya seperti sangat jauh tertinggal. Bukan iri tapi memang di usia ini garis start untuk mengawali kehidupan.

Beban pemikiran berlebih itu bisa kupangkas sedikit demi sedikit berkat ilmu yang kudapatkan dari prodiku sebelumnya psikologi, mata kuliah kesehatan mental dan kegiatan peningkatan kapasitas kaum muda yang selama 2 tahun terakhir  aku ikuti hingga sekarang, Forum Anak, girls leadership class, lomba menulis dan vlog. Kamu tahu? kita patut bersyukur jika punya rutinitas kegiatan, circle pertemanan positif, dan bisa mengembangkan hobi.

Namun apa kabar teman – temanku? apa mereka mendapatkan kesempatan yang sama?

Tanpa kita sadari ada banyak orang disekeliling kita yang sulit berteman, bingung memiliki bakat apa dan belum menemukan tujuan serta impiannya dalam hidup. Berjalan tanpa arah, dan kadangkala dicap ikut – ikutan karena tidak menunjukkan bakat yang menonjol sebagai pengenal diri.

Azizah, kami bersahabat sejak kelas X SMA dia IPS aku IPA. Dulu dia sangat semangat untuk mengikuti kegiatan di sekolah OSIS dan PIK-R tetapi karena kendala jarak yang jauh dari sekolah, dia juga anak semata wayang Ayah dan Ibunya menetap di daerah berbeda untuk mengurus kebun sehingga dia harus menjaga nenek di rumah  akhirnya dengan berat hati dia berhenti dari semua kegiatan.

Tahun 2020 kami tamat SMA, ia memutuskan gap year. Awalnya dia merasa ini bukan keputusan yang adil. Belum berkesempatan melanjutkan kuliah tahun itu membuatnya stress, tertekan dan menuntut dibelikan ponsel merek mahal sebagai gantinya. Ayah Azizah menjelaskan bukan tidak ingin azizah melanjutkan kuliah hanya saja belum ada biaya, perihal permintaan ponsel beliau hanya memiliki uang yang cukup dibelikan ponsel sederhana. Azizah menyesali permintaannya itu setelah melihat perjuangan Ayahnya di kebun, sebenarnya setiap orangtua menginginkan yang terbaik hanya saja tidak akan selalu terwujud di waktu yang diinginkan. Mereka perlu proses dan jerih payah yang tidak sedikit untuk menyekolahkan anak – anaknya.

Azizah mengikuti pelatihan kerja untuk mengisi waktu luang. Baginya mengikuti pelatihan kerja bermanfaat untuk melatih skill baru yang menunjang dalam dunia kerja. Dua bulan mengikuti pelatihan kerja ia merasa tidak cukup mampu beradaptasi dikarenakan beberapa tugas mengharuskan presentasi dan menggunakan bahasa inggris. Meskipun kesulitan dia tetap berusaha meminta bantuanku atau membaca buku referensi. Aku mengatakan kepadanya bahwa dulu aku latihan berbicara di depan cermin selama setahun untuk berani berbicara didepan orang banyak mulut terbata – bata menjelaskan, gugup sudah pasti tapi setidaknya itu usahaku untuk berubah.

Sampai pada titik terendah dia ingin berhenti saja, katanya untuk apa melanjutkan sesuatu jika tidak kompeten dalam bidang itu. Hari demi hari dilalui kadang kala aku menerima panggilan WhatsApp darinya, bertukar pesan atau dia langsung menemuiku di rumah untuk sekedar bercerita.

“Kamu belajar dan punya tujuan, impianmu jadi dokter. Aku? H-15 tes masuk universitas tapi masih bingung mau pilih jurusan apa, persiapan belajarku tidak sebaik orang – orang, mau bunuh diri saja rasanya,” Ujar Azizah padaku.

“Pikirkan sekali lagi zizah belajar kan memang dari tidak tahu menjadi pandai kan? Lebih lambat dibandingkan teman – teman lainnya tidak berarti kamu bodoh, belum memiliki impian untuk dikejar juga bukan berarti kamu akan jauh tertinggal. Luangkan waktu untuk dirimu sendiri, sampai nanti kamu akan mengerti passionmu apa,” Jawabku.

Pengumuman tes masuk universitas tiba, aku lolos di pilihan kedua Pendidikan Dokter Azizah lolos pilihan pertama Pendidikan PAUD.

“Aku pikir setahun yang lalu aku gagal, dan tidak punya kesempatan lagi. Merasa bodoh karena tidak mampu beradaptasi di lingkungan pelatihan, ingin mengakhiri hidup tapi ternyata aku bisa bertahan. Terima kasih sudah menjadi tempat bercerita dan mendukungku sekalipun aku hanya punya satu jalan yaitu menyerah. Benar aku hanya perlu menemukan satu jawaban bidang apa yang aku sukai dan bisa aku tekuni sepanjang hidup. Kini Aku bisa kuliah dengan biaya yang meringankan orang tua. Aku pikir akan masuk jalur mandiri, menghabiskan banyak uang Ayah tapi ternyata aku bisa, aku bangga dengan azizah yang sekarang,“ ucapnya melalui panggilan WhatsApp sore itu.

Azizah adalah salah satu perempuan muda berdaya, memiliki semangat untuk hidup dalam kebaikan meskipun banyak menghadapi kesulitan mulai dari perundungan, sampai keterbatasan berelasi dan beraktivitas. Dia hanya perlu teman bicara, perhatian dan pemahaman dari orang – orang disekitarnya agar ia bisa kembali percaya pada potensi yang ia miliki.

Beban pikiran masa depan bisa sedikit lebih ringan dilalui jika teman sebaya saling berbagi informasi, menjadi tempat bercerita, menjalankan fungsi support system dalam pertemanan. Awal dari perubahan kehidupan bermula dari kepercayaan hati yang menguat, jika kita saling mendukung dan terhubung kekuatan itu akan terus bertambah karena kita melaluinya bersama. (Andi, 19 tahun, asal Soppeng)

*Penulis adalah peserta Powering the Movement Program (PTMP) yang diselenggarakan oleh Plan Indonesia. Kegiatan ini berfokus untuk meningkatkan kapasitas anak dan kaum muda (15 – 19 tahun) agar dapat menjadi pendorong perubahan dalam isu perkawinan anak bersama komunitasnya, salah satunya melalui kampanye online maupun offline. Program ini merupakan bagian dari kampanye No! Go! Tell! yang disponsori oleh The Body Shop®️ Indonesia yang bertujuan untuk terus melakukan pencegahan dan memberikan pemulihan bagi penyintas kekerasan seksual.