Penghasilan turun, Agil Jajakan Makanan ke Warung

Agil berperan sebagai kepala keluarga bagi dua adik perempuannya sejak mereka menjadi yatim piatu. Sejak pandemik COVID-19, penghasilan Agil turun drastis dari sekitar Rp350.000 per minggu hingga hanya Rp70.000.
Agil (tengah), menerima bantuan berupa paket kebersihan diri dan kesehatan, termasuk vitamin dari Plan Indonesia untuk membantunya melindungi diri dari paparan COVID-19. (Foto: Plan Indonesia)

Agil, 18, tidak menutupi perasaan gembiranya ketika mendapatkan bantuan berupa paket kebersihan diri dari Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia), jelang akhir Juli 2021 lalu. Ada hand sanitizer, pembalut, vitamin, dan lainnya.

Baginya bantuan tersebut adalah salah satu yang dibutuhkannya di masa sulit seperti ini. Terlebih harga paket kebersihan diri juga tidaklah murah baginya yang seorang yatim piatu, dan hanya mengandalkan penghasilan dari berjualan makanan ringan.

“Alhamdulillah ini bisa meringankan beban pengeluaran saya dan keluarga Uwa saya di sini. Sangat penting di tengah COVID-19 seperti sekarang ini. Apalagi vitamin yang bagus, kami tidak sanggup membelinya,” jelas Agil.

Agil bersama delapan anggota keluarga Uwanya (kakak dari ibunya) tinggal dalam satu rumah sederhana peninggalan kakek neneknya. Agil berperan sebagai kepala keluarga bagi dua adik perempuannya sejak mereka menjadi yatim piatu. Ayahnya meninggal karena sakit beberapa tahun lalu. Disusul Ibunya yang meninggal karena sakit dua tahun lalu. Kehidupannya langsung berubah drastis. Dia harus secara cepat beradaptasi dan bekerja untuk menghidupi kedua adiknya.

Tidak mudah baginya, jelas. Apalagi salah satu adiknya merupakan anak berkebutuhan khusus. Untungnya Uwa dan keluarganya yang tinggal bersamanya membimbing dan selalu membantunya. Dia pun bersama Uwanya yang perempuan bahu membahu saling membantu ekonomi keluarganya.

Dulu saat masih sekolah, Agil sempat menjadi “tukang ojek” bagi temannya yang perempuan. Dia bisa diupahi Rp500.000 oleh orang tua kawannya untuk mengantar pulang dan pergi ke sekolah. Namun kini mereka sudah tamat sekolah, jadi dia hanya bisa membantu usaha membuat jajanan makanan ringan bersama Uwanya.

“Dulu sebelum COVID-19 datang penghasilan kami per-minggu bisa Rp350.000 paling tinggi. Kalau lagi sepi hanya Rp100.000 – 150,000. Kadang bisa besar jika ada pesanan untuk sunatan, kawinan, dari tetangga. Sampai mereka harus pesan lebih dahulu jika ingin dilayani. Sekarang bisa dapat Rp70.000 seminggu aja Alhamdulillah. Karena itu, saya sekarang mulai mengantar-antar makanan yang kami titipkan ke warung-warung,” jelasnya.

Sejauh ini dia dan keluarganya masih sehat dan tidak ada yang terpapar COVID-19. Agil dan keluarganya tertib melakukan protokol kesehatan, dan telah mendapatkan vaksin lengkap.

Dalam merespons situasi ini, Plan Indonesia melakukan respons tanggap darurat COVID-19 di Jabodetabek yang berfokus pada pemenuhan kebutuhan anak dan kaum muda, terutama perempuan. Bantuan kemanusiaan ini ditargetkan untuk menjangkau 1000 anak berusia 0-18 tahun yang terdiri dari 500 anak perempuan dan 500 anak laki-laki termarjinal di wilayah Jabodetabek. Melalui respons tanggap darurat COVID-19, Plan Indonesia berharap anak-anak terlindungi dari penyebaran COVID-19 dan hak anak terpenuhi, terutama bagi anak perempuan, anak dengan disabilitas, dan anak dari keluarga marjinal. (***)

Penulis: Musfarayani | Editor: Agus Haru | Kontributor: Ayu Indriani Lestari, Cahaya Maharani, Wahyu Nur Fitriani, Aprilia Dwi Lestari.