Azharli (18 tahun)

“Kami sekeluarga di rumah patuh Prokes (Protokol Kesehatan). Kami berusaha banget tidak keluar rumah jika tidak ada urusan penting. Saya diajak main keluar rumah oleh teman juga enggak berani. Saya bilang ke mereka, ‘Lu (kamu) enggak takut virus apa, nanti nyusahin lu (menyusahkan kamu) sendiri sama orang tua.’ Kami juga selalu menggunakan masker jika keluar rumah. Cepat ganti baju dan membersihkan badan jika habis bepergian. Demi nenek kami juga, agar tidak terkena virus” ujar Azharli, 18, remaja warga Jatinegara, Jakarta Timur, usai “piket” pekerjaan rumahnya usai Isya, Kamis, 22 Juli 2021, dengan logat anak Jakarta yang kental.

Azhar, demikian panggilan akrab remaja yang hobi main game ini, adalah anak tunggal. Namun dia lebih memilih tinggal di rumah neneknya yang sederhana bersama tiga saudara sepupunya, dan satu pamannya yang tengah mengalami kesehatan mental. Azhar dan saudara-saudaranya, paham benar, di masa pandemik ini, neneknya yang berusia di atas 60 tahun ke atas, dan pamannya yang tidak sehat, sangat rentan terpapar virus COVID-19. Karena itu, dia dan saudara-saudaranya selain disiplin dalam Prokes, juga berusaha meringankan beban neneknya di rumah agar tidak terlalu lelah karena mengurus rumah. Mereka khawatir neneknya sakit dan mengurangi imunitasnya.

“Takut nenek jatuh sakit karena kecapean, nanti bisa melemahkan imunnya. Makanya kakak sepupu yang berinisiatif mengatur piket membersihkan rumah secara bergiliran. Dari cuci piring, menyapu dan membersihkan lantai, juga cuci baju. Kami kerjakan bergantian sesuai jadwal. Nenek kami sih, tetap maunya kerja. Tidak bisa diam. Tapi yah, kami tetap berusaha menjaga nenek agar tetap sehat,” jelasnya.

Azhar mengakui, nenek, dan kakak sepupunya di rumah termasuk yang paling cerewet dalam mengingatkan dia dan adik-adiknya untuk patuh Prokes dan senantiasa hidup bersih dan sehat di rumah. Karena itu, begitu mendapatkan bantuan berupa alat-alat kesehatan dan kebersihan diri dan rumah, dari Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia) pada Kamis (22/7), neneknya terlihat paling senang, karena meringankan salah satu pengeluaran keluarga, selain juga bisa lebih memastikan kebersihan Azhar  yang dianggapnya paling jarang mandi di rumah. 

“Begitu buka bantuan dari  Plan ada sabun mandi, nenek langsung meledek saya, karena saya dibilang orang yang paling jarang mandi di rumah. Oh iya, sepupu saya yang perempuan juga senang, ternyata ada pembalut untuk perempuan juga di dalam bungkusan bantuan tersebut. Kami sempat heran, dan merasa lucu. Tapi sepupu saya bilang, bantuan ini paling berguna untuknya,” tambah Azhar sambil tertawa.

Plan Indonesia kembali mendistribusikan bantuan tanggap darurat untuk anak dan remaja terdampak COVID-19, terutama di wilayah Jakarta dan sekitarnya.  Plan Indonesia akan memfokuskan bantuannya kepada seribu anak usia 0-18 tahun (500 anak perempuan, 500 anak laki-laki), 500 keluarga di Jabodetabek agar terhindar dari paparan COVID-19 serta memastikan terpenuhi dan terlindunginya hak anak khususnya anak perempuan, anak penyandang disabilitas, dan anak dalam keluarga ekonomi lemah.

(Plan Indonesia/ Musfarayani)