Nila Mengajak Jaga Prokes di Lingkungan Rumah

Nila, 19, baru saja selesai melakukan Isoman (Isolasi Mandiri) selama 14 hari. Bukan hanya dirinya, melainkan juga kedua orangtuanya. Setelah merasakan COVID-19, Nila kini rajin memberikan contoh prokes kepada teman-temannya.
Nila dan ayahnya (berdiri di tengah depan pintu), menerima bantuan dari Plan Indonesia berupa alat-alat kebersihan, yang diharapkan bisa membantunya selalu menjaga kebersihan sebagai usaha pencegahan paparan COVID-19. (Foto: Plan Indonesia)

“Nila, kamu sudah sembuh kan, dari COVID-19? Ayo kita jalan-jalan lagi,” demikian ajakan seorang kawan kepada Nila, 19, dari Jakarta Timur, yang baru saja selesai melakukan Isoman (Isolasi Mandri) selama 14 hari. 

Nila pun langsung menolak ajakan itu dengan baik-baik, dan mengatakan kepada kawannya, dia tidak akan bermain dan “jalan-jalan,” sementara ini. Mengingat belum lama sebelumnya, dia pernah terpapar COVID-19, karena kebiasaannya yang masih suka bermain dan berjalan bersama kawan-kawannya itu, tanpa mengindahkan Protokol Kesehatan (Prokes). Dia tidak mau mengulangi kesalahannya lagi. Apalagi, COVID-19 yang dideritanya waktu itu kemudian menulari orangtuanya, dan mengharuskan adiknya yang bungsu dipindahkan sementara ke rumah kakaknya yang sudah menikah, supaya tidak tertular juga.

“Awalnya saya enggak percaya COVID-19 itu ada. Makanya saya biasa aja. Menganggap Prokes terutama memakai masker kemana-mana, dan cuci tangan itu lebay (berlebihan). Saya pergi jalan-jalan dengan teman-teman tanpa masker, juga tidak jaga jarak. Sampai akhirnya saya kena. Demam beberapa hari, lalu saya tidak bisa mencium bau apa pun, dan tidak bisa merasakan rasa makanannya. Saya panik dan sempat menangis karena saya tahu, ini yang dibilang orang selama ini gejala COVID-19. Ibu saya juga menangis, bingung,” jelasnya mengingat kejadian beberapa minggu lalu.

Kedua orangtuanya pun meminta Nila melakukan isolasi mandiri di kamar atas. Nila hanya bisa keluar mengambil makanan yang diletakkan ibunya dekat tangga depan pintu kamar. Nila hanya turun jika ingin ke kamar mandi. Keluarganya tidak melaporkan kondisi dirinya ke rukun tetangga (RT) setempat. Mereka khawatir akan terjadi “kegaduhan,” tersendiri dengan para tetangga di sekelilingnya. Karena pernah di tahun lalu, ada keluarga yang pernah terkena COVID-19 langsung dikucilkan secara sosial meski mereka sudah dinyatakan sembuh. Mereka tidak ingin hal itu terjadi pada dirinya.

Alih-alih dirinya mulai berangsur sembuh, kedua orangtuanya malah menunjukkan gejala terpapar COVID-19. Kali ini orangtua Nila memberanikan diri pergi ke Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat) melakukan tes, dan hasilnnya positif. Nila meski kondisinya sudah membaik setelah semingggu Isoman, hasil tesnya pun masih positif. Sehingga mereka bertiga melakukan Isoman bersama. Ibunya Nila yang merupakan pelayan toko pakaian diijinkan atasannya untuk melakukan Isoman hingga tuntas kesembuhannya, tanpa dipotong gaji. Ayahnya Nila merupakan seorang tukang ojek yang biasa mangkal di Pasar Klender pun sementara tidak mengojek.

Selama Isoman mereka dipantau intensif oleh Puskesmas, dan tetangganya tidak mengganggu atau mengucilkan mereka. Mengingat yang terpapar COVID-19, bukan hanya diderita oleh keluarganya namun beberapa keluarga lainnya di lingkungan rumahnya. Lingkuangan sekitar Nila (tetangganya), juga termasuk yang kurang begitu peduli melakuka Prokes. Begitu juga dengan kawan-kawan Nila.

“Saya sekarang rajin mengingatkan teman-teman saya untuk memakai masker, dan cuci tangan dengan sabun, atau memberikan mereka hand sanitizer, setiap kali kita habis memegang sesuatu. Teman-teman bilang saya dikit-dikit cuci tangan, maskeran, sanitizeran, tidak apa-apa karena saya mau jadi contoh menjalankan prokes yang benar. Bantuan dari Plan Indonesia juga saya kasih ke mereka dan sudah digunakan dengan baik,” jelas Nila yang bercita-cita ingin menjadi polisi.

Dalam merespons situasi ini, Plan Indonesia melakukan respons tanggap darurat COVID-19 di Jabodetabek yang berfokus pada pemenuhan kebutuhan anak dan kaum muda, terutama perempuan. Bantuan kemanusiaan ini ditargetkan untuk menjangkau 1000 anak berusia 0-18 tahun yang terdiri dari 500 anak perempuan dan 500 anak laki-laki termarjinal di wilayah Jabodetabek. Melalui respons tanggap darurat COVID-19, Plan Indonesia berharap anak-anak terlindungi dari penyebaran COVID-19 dan hak anak terpenuhi, terutama bagi anak perempuan, anak dengan disabilitas, dan anak dari keluarga marjinal. (***)

Penulis: Musfarayani | Editor: Agus Haru | Kontributor: Ayu Indriani Lestari, Cahaya Maharani, Wahyu Nur Fitriani, Aprilia Dwi Lestari.