Mensyukuri Pengalaman Membantu Penyintas Banjir Jabodetabek dan Karawang

Nama saya Wahyu Fitriani, Humanitarian & Resilience Program (HRP) Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia). Sehari-hari, saya bertugas membantu tim HRP dalam mempersiapkan kegiatan dan administrasi program. Namun, pada akhir Februari 2021, saya mencoba hal yang berbeda. Untuk pertama kalinya, saya terjun langsung sebagai relawan dalam kegiatan respons tanggap darurat Plan Indonesia.

Wahyu Fitriani (Kanan)

Sepanjang 24 Februari-10 Maret 2021, tim tanggap darurat Plan Indonesia bergerak membantu para penyintas banjir Jabodetabek dan Karawang. Khususnya, bagi mereka yang tinggal di daerah Kabupaten Bekasi dan Kabupaten Karawang–dua daerah yang terus terdampak setelah hujan lebat di pertengahan Februari. Kepada 2.700 kepala keluarga atau 8.244 jiwa penerima manfaat, kami membagikan perlengkapan hunian darurat seperti kain terpal, selimut, dan tikar. Selain itu, kami juga membagikan paket higiene keluarga, seperti ember, peralatan mandi, pampers, pembalut, sarung, baju bayi, juga detergen.

Pada Rabu (24/2), bersama tim, saya menuju ke lokasi pertama respons, yaitu salah satu desa di Kabupaten Karawang. Berdasarkan riset tim respons tanggap darurat Plan Indonesia, desa ini paling sedikit mendapatkan perhatian dan bantuan setelah banjir, baik dari relawan maupun dari pemerintah. Diperkirakan, ini karena lokasinya yang cukup jauh dari pusat permukiman warga. Dibutuhkan waktu sekitar 20 menit dari posko BNPB terdekat menuju desa ini menggunakan sepeda motor.

Saat kami tiba, kami menemukan lumpur bekas banjir yang cukup tebal, sekitar 5-10 cm, masih menutupi jalan dan rumah warga desa.  Menurut warga, lumpur itu belum dapat dibersihkan karena keterbatasan alat, juga karena masih sering turun hujan yang membuat desa kembali tergenang air. Akses di desa ini juga cukup susah, karena adanya jembatan penghubung antardusun yang putus akibat banjir. Belum lagi, warga juga kesulitan mendapatkan air bersih. Mereka harus menunggu kiriman air bersih terlebih dahulu dari truk tangki BNPB ataupun dari relawan untuk bisa mandi, memasak, dan mencuci pakaian

Melihat kondisi ini, tim tanggap darurat Plan Indonesia pun berusaha bergerak cepat untuk memberikan bantuan. Namun, ada beberapa tantangan yang kami hadapi.

Pertama, saat mendata para penerima manfaat, kami menemukan adanya perbedaan informasi di RT, kantor desa, juga dengan data yang kami temukan di lapangan. Kami pun harus melakukan penyesuaian kembali saat akan mendistribusikan bantuan. Kemudian, pada proses pendistribusian, bersama relawan setempat, kami juga harus tegas dan teliti dalam memberitahukan kepada warga setempat. Sebab, cukup sulit menjaga agar warga tidak berkerumun dan tetap menaati protokol kesehatan ketika bantuan akan diberikan. Sehingga, kami pun bekerja sama dengan relawan lain, ketua RT, dan aparat desa, agar pembagian bantuan sesuai dengan protokol kesehatan.

Namun, semua kendala ini tidak menyurutkan semangat saya. Saya tetap berusaha memberikan yang terbaik dalam respons ini. Justru, melalui pengalaman perdana sebagai petugas tanggap darurat ini, saya mendapat banyak sekali pelajaran dan pengalaman baru. Saya juga mendapatkan sudut pandang lain dalam menyikapi suatu kejadian bencana–bagaimana menghadapi masyarakat yang terdampak, cara mengidentifikasi bantuan yang tepat dan dapat kita berikan, hingga cara membuat mekanisme pemberian bantuan yang sesuai dengan kondisi dan situasi di lapangan.

Semua ini merupakan hal baru yang saya dapatkan selama mengikuti kegiatan respons. Saya merasa beruntung dapat mempelajarinya. Menurut saya, ini adalah kesempatan yang jarang terjadi.  Sebelum bekerja di Plan Indonesia, jika terjadi bencana, saya dan teman-teman hanya dapat membantu dengan melakukan penggalangan dana untuk disalurkan pada badan penanggulan bencana. Saya belum pernah terjun langsung ke lokasi bencana.

Maka, saat mengetahui peluang untuk terjun bersama tim respons banjir Jabodetabek dan Karawang ini, saya dengan senang hati menerima tawaran. Berangkat dari Mataram, Nusa Tenggara Barat, saya bergabung dengan dua orang anggota tim lainnya di Kabupaten Karawang, kemudian menuju Kabupaten Bekasi.

Salah satu hal yang paling berkesan saat proses pembagian bantuan terjadi di salah satu desa di Kabupaten Bekasi. Ketika itu, tim Plan Indonesia dan relawan lainnya memberikan bantuan berupa peralatan hunian darurat (emergency shelter tool kit) kepada keluarga yang rumahnya masih sangat lembap akibat terendam air. Efek lembap itu semakin terasa, apalagi karena lantai rumah warga tersebut masih berupa tanah dan belum dilapisi keramik.

Ketika menerima bantuan dari Plan Indonesia, keluarga ini benar-benar berterima kasih atas bantuan yang kami berikan. Mereka langsung menjadikannya sebagai alas, sehingga rumah itu menjadi lebih layak untuk dihuni sementara waktu. Ucapan terima kasih dan raut bahagia dari keluarga tersebut menjadi salah satu hal yang tidak akan terlupakan pada kegiatan respons ini. Saya bersyukur pernah belajar berbagi kepada sesama melalui respons tanggap darurat ini.

Ditulis oleh Wahyu Fitriani, Humanitarian & Resilience Program (HRP) Logistics Officer, Yayasan Plan International Indonesia