“Saya akan berusaha sekolah setinggi-tingginya dan menjadi dokter,” demikian jawaban singkat Juliana (16) atau yang akrab dipanggil teman-temannya Chanda saat ditanya apa upaya pribadinya untuk menghindari perkawinan anak. Chanda berharap, dengan fokus pada pendidikan, dia tak terjerat perkawinan usia anak, seperti banyak dialami teman-teman sebayanya di Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Perkawinan usia anak memang masih menghantui NTT. Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Wilayah NTT pada tahun 2021 mencatat, sebanyak 82.957 pasangan usia subur menikah di bawah usia 19 tahun di provinsi ini. Sementara itu, sebanyak 1.615.492 warga belum memiliki akta kelahiran dari total penduduk 4.292.522 jiwa yang terdata BKKBN. Orangtua dinilai punya andil menentukan perkawinan dini tersebut.

Dengan menempuh pendidikan hingga taraf perguruan tinggi, Chanda berkeinginan menggapai cita-citanya, yaitu menjadi dokter. “Dengan menjadi dokter, saya bisa membahagiakan orangtua saya terlebih dahulu, sebelum kemudian memutuskan menikah dengan orang yang saya pilih di usia yang matang,” kata Chanda.

Chanda sangat bersyukur, keputusannya bergabung dengan Komunitas Memilih Masa Depan (Mapan) di desanya telah memberinya banyak pengetahuan tentang pentingnya menempuh pendidikan sebaik-baiknya dan menghindari perkawinan anak. Mapan dinisiasi oleh Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia), yang bertujuan menyiapkan anak-anak dan kaum muda untuk menyongsong masa depan mereka. Di komunitas tersebut, Chanda juga mendapatkan banyak pengetahuan, pengalaman, dan pembinaan karakter yang tak ia dapatkan di sekolah formal.

“Saya diajarkan bagaimana bersikap asertif, mengenal organ-organ reproduksi, cara menabung, bagaimana bayi diciptakan, dan banyak lagi. Saya juga menjadi lebih percaya diri berbicara di depan publik,” ungkap pelajar kelas satu SMA di salah satu SMA di Nagekeo itu.

Pengetahuan dan keterampilan itu juga sangat membantunya untuk berprestasi di sekolah. Di kelasnya, dia tercatat sebagai murid ranking satu.

Di usianya yang masih belia, Chanda tampak memiliki kemampuan berbicara dan menjelaskan permasalahan secara lancar dan runtut. Tatapan matanya yang tajam menunjukkan kepercayaan dirinya yang kuat atas hal-hal yang disampaikannya.

“Dampak dari perkawinan anak itu salah satunya adalah ke pendidikan. Kita dapat putus sekolah, terjebak  kemiskinan, stunting, kematian anak, dan terjadi kelahira prematur. Sedangkan untuk ibu, perkawinan anak bisa mengakibatkan kematian ibu, kanker serviks, dan preklamsia, kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan anak, serta mental pola asuh yang salah,” jelas Chanda mantap.

Sementara itu, rekan Chanda, Astri (14), anggota Mapan di Kecamatan Aesesa lainnya mengaku tidak hanya prestasi akademik di sekolah dampak positif dari keikutsertaanya di Mapan. Dari kegiatan tersebut, ia mendapatkan manfaat lain. Salah satunya adalah dia menjadi memiliki keyakinan untuk menggapai cita-citanya menjadi seorang jurnalis. Sebelumnya, hal tersebut tak terbayangkan di benak Astri. Sebagai anak petani yang tinggal di pelosok Kecamatan Aesesa, dorongan semangat untuk berpendidikan tinggi bagi anak perempuan adalah hal yang langka.

“Saya ingin menjadi jurnalis agar bisa mengenal banyak tempat dan menjelaskan kepada masyarakat tentang banyak hal,” kata Astri.

Hal lain yang disyukurinya selama bersama Mapan adalah mendapatkan banyak teman, baik teman sesama anggota Mapan maupun di luar komunitas. Dia lebih percaya diri untuk bergaul. Di pergaulannya itu, dia manfaatkan untuk menyosialisasikan secara informal pengetahuan tentang pentingnya menghindari perkawinan usia anak, mencegah seks bebas, dan bagaimana menabung yang baik untuk masa depan.

“Meskipun teman-teman saya tidak bergabung di Mapan, namun mereka tetap bersemangat mendengar apa yang saya sampaikan,” cerita Astri dengan bangga.

Namun, yang paling membuat Astri senang adalah kedua orangtuanya kini ia rasakan menjadi lebih menyayanginya. Mereka juga berkeinginan kuat menyekolahkan Astri hingga meraih cita-cita sebagai jurnalis. “Saya ingin bekerja menjadi jurnalis dahulu, baru kemudian menikah,” tandas Astri.

Penulis: Muhamad Burhanudin, Media and Communication Manager Plan Indonesia