Memupuk Asa di Tanah Surga – Cerita Green Skill 2.0

Jauh di tengah perbukitan Soe, Nusa Tenggara Timur (NTT), hidup sekelompok keluarga yang sederhana. Sehar-hari, mereka bahu-membahu mengembangkan tanah pertanian, menanam bibit sawi putih atau ‘picai kumbang’, brokoli, dan masih banyak tanaman lainnya. Mereka adalah kelompok Meuptabua, atau kelompok ‘kerjasama’ dalam bahasa lokal NTT. .

Meuptabua adalah salah satu kelompok tani binaan Green Skill 2.0, bagian dari program Ketenagakerjaan dan Kewirausahaan Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia). Didukung oleh koordinator program dan pemimpin adat setempat, kelompok beranggotakan sepuluh orang yang mayoritas anggotanya perempuan ini bersama-sama belajar dan menumpukan kehidupan mereka pada tanah surga, tanah milik keluarga.

Salah seorang dari mereka adalah Dorne (28 tahun). Belum lama ini, perempuan dengan tiga orang anak dan seorang suami itu bergabung karena ingin mempelajari lebih banyak tenang budidaya tanaman. Sebagai anggota baru, tugasnya adalah menabur bibit dan menyiram tanaman—kemampuan yang terus diasahnya sebagai peserta program Green Skill 2.0. Selain itu, Dorne juga membantu kelompok menjual hasil panen kepada distributor keliling yang datang menggunakan mobil pick-up.

“Saya senang masuk ke kelompok ini. Sebab, jika punya hasil (panen) yang baik, saya bisa membantu suami ketika (ada) kekurangan dalam rumah. Saya bisa bantu, jika kami tidak punya vetsin, garam, sabun, atau uang jajan anak untuk sekolah,” ujar Dorne kepada tim Ketenagakerjaan dan Kewirausahaan Kaum Muda Plan Indonesia di Soe, belum lama ini.

Menurut Dorne, kelompok tani Meuptabua bisa menghasilkan jutaan rupiah dalam sekali siklus panen. Pada Mei 2022 saja, kelompok ini meraup sekitar Rp3 juta  dari berbagai komoditas  yang dijualnya. Angka ini masih bisa bertambah dan berubah di bulan berikutnya, sesuai jumlah penjualan mereka. Nantinya jumlah penghasilan bersih ini akan dibagi kepada para anggota kelompok.

Ketika diwawancarai, Dorne belum mendapatkan bagi hasil dari usaha pertaniannya. Sebab, proses panen masih berjalan dan ia juga baru bergabung dengan kelompok. Namun, itu tidak menyurutkan semangatnya.

“(Menurut) pemikiran saya, entah mau (penghasilan) berapa, yang penting kita punya kerjasama dan sama-sama menginginkan kualitas yang bagus, juga keinginan untuk berkembang,” sebutnya.

Pendapat serupa juga disampaikan Fenti (29 tahun). Sama seperti Dorne, Fenti juga baru bergabung ke kelompok Meuptabua pada 2022. Sebelumnya, ia sudah pernah belajar bertani sendiri, sambil menjalankan usaha ojek dengan penghasilan sekitar Rp 500 ribu per bulan. Biasanya, Fenti membagi penghasilan ini untuk membiayai kedua anaknya yang masih kecil (berusia 8 dan 6 tahun) dan juga kebutuhan ibunya.

Fenti adalah orangtua tunggal  yang bertanggung jawab atas kebutuhan keluarganya. Maka, ia pun berupaya meningkatkan pendapatan sekaligus kemampuannya dalam bertani, dengan mengikuti kelompok Meuptabua yang merupakan binaan program Green Skill 2.0.

“Dengan bekerja (sebagai kelompok), kita mendapatkan uang yang bisa dibagi untuk kelompok dan pribadi. Kemudian, ini lahan punya kita sendiri. Jadi, saya ingin ikut (bertani),” ujarnya.

Menurut pengamatannya, kelompok Meuptabua nantinya akan bisa meraup keuntungan kotor hingga Rp 15 juta per tahun. Meski masih harus menunggu sampai ia meraih keuntungan dari upayanya, Fenti tekun mengurus lahan bersama anggota kelompok Meuptabua. Menurutnya, mereka akan sama-sama bekerja dari pagi hari hingga selesai, tanpa meninggalkan satu orang pun.

“Kalau kita sama-sama kerja, harus begitu, tidak bisa satu pulang, satu kerja. Semua sama-sama. …(Bagi yang sudah punya anak), kalau pagi, kita urus anak, siapkan ke sekolah baru, ke sini. Kalau tidak ada anak, mereka datang duluan,” ujarnya. Selain memiliki niat untuk menambah penghasilan, rupanya, Fenti juga memiliki keinginan untuk memperluas lahan tani milik keluarganya. Kemudian, bila terus mengikuti program Green Skill 2.0, nantinya, baik Fenti maupun Dorne akan mendapatkan lebih banyak pelatihan, termasuk pelatihan menggunakan alat-alat pertanian, mengelola keuangan, hingga pemahaman tentang gender