Kisah Ismail Atasi Kekeringan di Tagawiti dengan Tanam dan Panen Air

Plan Indonesia melaksanakan proyek adaptasi perubahan iklim yang berpusat pada anak (Child Centered Climate Change Adaptation/4CA) di 32 desa dan 13 sekolah yang tersebar di Kecamatan Ile Ape dan Lebatukan, Kabupaten Lembata. Proyek ini berlangsung selama tiga tahun, mulai dari tahun 2016 hingga tahun 2018 untuk memberikan pelatihan terkait adaptasi perubahan iklim dan penanggulangan risiko bencana kepada masyarakat setempat.

Kekeringan masih menjadi kekhawatiran penduduk Desa Tagawiti, Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. Setiap kemarau tiba, penduduk Desa Tagawiti yang umumnya merupakan petani merasakan dampak dari sedikitnya jumlah air di desa dengan 228 keluarga atau 627 penduduk tersebut. Seringkali, mereka kesulitan mengakses air tawar, karena sedikitnya resapan di desa. Air yang bersifat payau di desa juga membuat warga harus pergi ke sumur air tawar yang bisa berjarak hingga tiga kilometer dari rumah mereka.

Itulah sebabnya, warga Desa Tagawiti sangat terbantu dengan hadirnya sumur air tawar yang dimiliki oleh Ismail Unu, Kepala Desa Tagawiti. Sumur ini berhasil dibuat oleh Ismail, lima tahun setelah ia secara konsisten berupaya menampung air melalui lubang resapan di sekitar rumah dan kebunnya, dengan variasi kedalaman hingga 60-80 cm.

Foto: Ismail saat menunjukkan air hasil pengeboran tepat di samping rumah tempat ia menanam air. Credit: Yayasan Plan International Indonesia/Agus Haru

“Saat musim hujan, kita tidak boleh membiarkan air hujan mengalir ke laut. Kita harus menahan air hujan, sehingga bisa masuk dalam tanah dengan cara membuatkan lubang resapan di sekitar rumah dan juga kebun kita,” ujar Ismail ketika ditemui oleh tim Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia).

Kisah penanaman air oleh Ismail berawal ketika Plan Indonesia melaksanakan proyek adaptasi perubahan iklim yang berpusat pada anak (Child Centered Climate Change Adaptation/4CA) di 32 desa dan 13 sekolah yang tersebar di Kecamatan Ile Ape dan Lebatukan, Kabupaten Lembata. Proyek ini berlangsung selama tiga tahun, mulai dari tahun 2016 hingga tahun 2018.

Selama masa implementasinya, melalui mitra 4CA, CIS Timor, Plan Indonesia memberikan pelatihan terkait adaptasi perubahan iklim dan penanggulangan risiko bencana kepada masyarakat setempat. Selain itu, Plan Indonesia melalui CIS Timor, bersama Pemerintah Kabupaten Lembata melalui Forum Penanggulangan Risiko Bencana (FPRB) dan Pemerintah Desa, juga bersepakat untuk membuat Peraturan Desa (Perdes) Nomor 5 tahun 2017 tentang Tanam dan Panen Air (Tampan).

Hadirnya Perdes tersebut mendorong masyarakat desa untuk membuat lubang resapan air di pekarangan rumah dan lokasi kebun, Lubang ini berfungsi sebagai media untuk menanam air selama musim hujan. Berbagai ukuran lubang dibuat sesuai dengan kemampuan dari masing-masing KK. Untuk membangkitkan semangat masyarakat dalam menjalankan Tampan, pemerintah desa memberikan hadiah berupa anakan mangga bagi masyarakat yang menggali lubang dalam jumlah yang memadai di sekeliling rumah mereka.

Sayangnya, hingga tahun ketiga, pelaksanaan tanam dan panen air ini belum juga membawa hasil. Banyak masyarakat juga tidak bersemangat untuk menggali lubang-lubang dan menanam air.

Namun, tidak demikian dengan Ismail. Perilaku masyarakat yang sudah hampir meninggalkan si Tampan, tidak membuat semangat Ismail berkurang. Ia terus menggali lubang-lubang resapan air di sekitar rumah maupun di kebunnya. Ia berpendapat, lubang yang dibuatnya bisa menampung air ketika musim hujan dan meresap ke dalam tanah.

“Maka, saat musim kemarau, kita akan merasakan manfaatnya. Air sumur bisa bertahan lama, tanaman-tanaman terlihat segar dan juga udara akan sejuk,” ungkap Ismail.

Foto: Ismail bersama salah satu pohon cendana yang tumbuh segar di halaman rumahnya. Credit:Yayasan Plan International Indonesia/Agus Haru

Berbekal niat tulus, Ismail terus bergerak demi mengubah situasi kekeringan yang terjadi di desanya. Ia berkomitmen untuk menjadikan program ini sukses, hingga bisa membawa dampak bagi banyak orang. Ia juga bertekad memberikan bukti kepada masyarakat, bahwa kerja keras selama bertahun-tahun pasti akan berhasil.

Kini, upaya gigihnya membuahkan hasil. Tidak hanya membuat pohon-pohon di sekitar lubang resapan lebih segar dan hijau, sejak 2020, aktivitas Tampan yang dilakukan Ismail juga membuahkan sumur air tawar pertama di desanya.

“Keyakinan saya terbukti. Ketika pengeboran (sumur) dilakukan, hasil airnya jernih dan tawar, puji syukur debitnya pun sangat besar,” ujar Ismail.

Padahal, selama ini, warga setempat enggan membuat sumur baru karena kondisi air yang payau. Namun, upaya Ismail berhasil membuat terobosan baru di Desa Tagawiti. Kini, sumur air tawar yang dimilik Ismail pun dapat dimanfaatkan oleh warga setempat. Tak lagi hanya memanfaatkan sumur air payau untuk memberi makan ternak dan mengairi ladang, warga juga mulai bisa memanfaatkan sumur air tawar milik Ismail untuk beraktivitas.

Melihat hal ini, Ismail mendorong agar warga setempat juga kembali rajin melakukan Tampan, agar tercipta lebih banyak resapan air tawar di desa mereka. Ia juga mendorong agar masyarakat tidak mudah menyerah, sekalipun awalnya usaha mereka tidak segera membuahkan hasil.

“Hasil yang kita peroleh selama kurang lebih 5 tahun ini membuktikan bahwa ketika kita melakukan sesuatu, harus memiliki keyakinan untuk berhasil. Kita jangan cepat putus asa, jangan cepat patah semangat,” ujar Ismail.

“Mulai saat ini saya terus mengajak masyarakat desa, terus menyampaikan berita bahagia ini bahwa tidak ada kerja keras yang mengkhianati hasil. Kita harus terus bergerak dengan Tampan,” pungkasnya.

Ditulis oleh Agus Haru, Communications Officer for PIA Yayasan Plan International Indonesia.