Kepiting, Harapan Baru Sulis di Tengah Pandemik COVID-19

Sulis (21 tahun), adalah orang muda perempuan dari Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT). Sejak Maret 2020, Sulis diberhentikan sementara dari perusahaan tempat ia bekerja. Beruntung, pada Agustus 2020, Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia) yang bermitra dengan Bengkel APPeK (Advokasi Pemberdayaan dan Pengembangan Kampung) dan Kopernik mengimplementasikan program Mata Kail (Mari kita kreatif agar ikan Lestari) di desa tempat Sulis tinggal. Melalui Mata Kail, Sulis menapatkan pelatihan kewirausahaan. Setelah mengikuti pelatihan kewirausahaan di bulan Agustus, Sulis pun mulai mencoba berjualan kepiting lewat media sosial, seperti Facebook (FB) dan WhatsApp (WA). Bermodalkan Rp 50 ribu hasil berjualan pulsa, ia mulai membeli kepiting dan mempromosikannya lewat FB.

(Foto: Sulis dan kepitingnya. Credit: Agus Haru/Yayasan Plan International Indonesia)

Kesulitan akan selalu ada, namun kita tak perlu menjadikannya sebagai pemutus asa. Setidaknya, itulah pendapat Sulis (21 tahun), orang muda perempuan dari Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT) yang terus berusaha bangkit di tengah keterpurukan ekonomi akibat pandemik COVID-19.

Sejak Maret 2020, Sulis diberhentikan sementara dari perusahaan tempat ia bekerja. Hal ini terjadi, lantaran perusahaan tempatnya mencari nafkah–sebuah perusahaan garam yang beroperasi di dekat tempat tinggalnya–terkena dampak negatif dari pandemik COVID-19 sejak Maret 2020.

Padahal, sejak tamat SMA di tahun 2017, Sulis telah menguburkan impiannya untuk melanjutkan kuliah maupun menjadi guide wisatawan sekaligus fotografer. Anak kedua dari empat bersaudara ini terpaksa harus bekerja di perusahan garam demi membantu ekonomi keluarganya.

Awalnya, rasa sedih Sulis sempa terobati, karena ia bisa langsung bekerja dengan mendapatkan gaji sekitar Rp 2 juta perbulan. Gaji ini cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya, juga membantu orang tuanya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Namun, sejak pekerjaan ini terputus, ia  terpaksa mencari cara lain untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Segala upaya ia lakukan, mulai dari berjualan pulsa sampai menjual bensin eceran yang ia pajang di depan rumahnya. Meski upayanya belum membuahkan hasil, Sulis tidak menyerah. Ia memutar otak untuk memenuhi kebutuhan, termasuk untuk membayar cicilan motor yang ia kredit sejak November 2019.

“Walaupun pendapatan tidak seberapa, saya harus terus berusaha,“ ujar Sulis.

Beruntung, pada Agustus 2020, Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia) yang bermitra dengan Bengkel APPeK (Advokasi Pemberdayaan dan Pengembangan Kampung) dan Kopernik mengimplementasikan program Mata Kail (Mari kita kreatif agar ikan Lestari) di desa tempat Sulis tinggal. Program yang didanai oleh Uni Eropa melalui Program Sustainable Consumption and Production in Fish Processing Sector-SWITCH Asia II ini dilaksanakan di tiga wilayah NTT, termasuk di Kabupaten Nagekeo.

Melalui Mata Kail, Sulis menapatkan pelatihan kewirausahaan. Ia diajarkan melihat potensi ekonomi dari sektor pengolahan ikan yang ada di sekitarnya, kemudian mengolahnya menjadi penghasilan baru. Hal ini sejalan dengan tujuan program, yaitu melatih dan mengasah mental kewirausahaan kaum muda di bidang sektor pengolahan ikan, khususnya kaum muda perempuan, agar mereka dapat menggerakkan diri sendiri dan memengaruhi orang lain. Hal ini dilakukan, demi mempromosikan konsep konsumsi dan produksi yang berkelanjutan, juga mengurangi angka pengangguran kaum muda, khususnya kaum muda perempuan, juga menangani persoalan kekurangan gizi di desa.

Setelah mengikuti pelatihan kewirausahaan di bulan Agustus, Sulis pun mulai menyadari potensi ekonomi yang ada di sekitarnya. Ia mulai mencoba berjualan kepiting lewat media sosial, seperti Facebook (FB) dan WhatsApp (WA). Bermodalkan Rp 50 ribu hasil berjualan pulsa, ia mulai membeli kepiting dan mempromosikannya lewat FB.

Sebenarnya, berjualan melalui media sosial bukanlah hal yang mudah bagi Sulis. Keterbatasan jaringan internet di desanya menjadi penghalang berikut dalam mempromosikan usahanya ini. Ia harus berjalan kurang lebih 500 meter dari rumahnya untuk mencari jaringan internet. Tak cuma itu, Sulis juga harus menempuh sekitar 20 km menggunakan motor jika ingin menjajakan kepitingnya ke rumah pelanggan.

(Foto: Sulis berangkat menjual kepiting. Credit: Agus Haru/Yayasan Plan International Indonesia)

Namun, Sulis tak menyerah. Ia tahu, usaha ini berpotensi menjadi pendapatan baru baginya.

“Saya baru menyadari potensi laut yang ada di sekitar kami sangat mejanjikan ketika saya mengikuti pelatihan kewirausahaan dari program mata kail oleh Plan Indonesia dan bengkel APPeK,” ujar Sulis.

“Saya memutuskan untuk menjual kepiting yang saya pasarkan lewat FB. Pagi hari, saya membeli kepiting lalu saya foto. Selanjutnya mencari jaringan internet untuk upload di media sosial. Tidak langsung pulang, saya masih menunggu. Kalau sudah ada pembeli dari kota Mbay dan sekitarnya yang memesan barulah saya pulang,” ungkapnya melanjutkan.

Bermodalkan alamat yang ia dapatkan dari pemesan kepiting, Sulis berangkat dengan sepeda motornya, dan mengantar kepiting pesanan ke rumah sang pembeli. Akan tetapi, usaha tidak pernah mengkhianati hasil. Kini, Sulis sudah nyaman dengan usaha kepiting, dengan penghasilan yang lumayan banyak. Dalam sehari, ia bisa mendapat penghasilan sampai Rp 450 ribu jika pemesannya banyak. Dengan pendapatan ini, ia pun bisa membayar cicilan motornya, sekaligus membantu orang tuanya berusaha.

Sulis berkata, Ia berterima kasih kepada Plan Indonesia dan Bengkel APPek karena sudah memberinya motivasi, sehingga ia bisa lebih mengenal potensi-potensi yang ada di sekitarnya dan berwirausaha untuk menyambung hidup. Jika pandemik COVID-19 telah usai dan perusahaan kembali memanggilnya bekerja, ia memang akan mengambil tawaran tersebut. Namun, ia menegaskan, ia akan terus berjualan kepiting, seperti yang tengah ia lakukan sekarang.