Jangan Menunggu Kena COVID-19 Dulu, Baru Mau Jalani Protokol Kesehatan

Septiani (18 tahun)

Septiani, 18, warga Duren Sawit, Jakarta Timur (Jaktim), cukup kaget begitu mengetahui bungkusan bantuan tanggap darurat COVID-19 untuk anak-anak yang diberikan Yayasan Plan Internasional Indonesia (Plan Indonesia) kepada keluarganya, pada 22 Juli 2021, beberapa diantaranya adalah paket manajemen kebersihan menstruasi (MKM). Seketika itu dia merasa senang, karena  belakangan ini dia dan keluarganya sulit mendapatkan beberapa barang di warung terdekat. Jika ada pun, harganya kadang mahal.

“Kok, tumben ada pembalutnya. Tapi saya senang, belum pernah ada yang memberikan bantuan pembalut, padahal penting buat saya. Kebetulan stok pembalut yang biasa disediakan ibu juga sudah habis. Biasanya beli di warung terdekat harganya lumayan mahal. Jadi bantuan ini meringankan,” jelas Septi yang ayahnya, Udin, 53, seorang pengendara ojek motor online yang biasa mangkal di Pasar Klender, Jaktim.

Septi dan keluarganya patuh melakukan Prokes (Protokol Kesehatan). Apalagi sekitar sebulan lalu, dia baru saja menyelesaikan masa Isoman (isolasi mandiri). Yah, di sempat dinyatakan positif COVID-19, ketika organisasi tempatnya dia beraktivitas melalukan tes anti-gen bagi anggota dan relawannya. Dia dinyatakan orang positif COVID-19 namun tanpa gejala, dan diminta segera pulang ke rumah untuk melakukan Isoman. Dia menerimanya dengan rasa bingung, serta antara percaya dan tidak, bercampur rasa khawatir. Sebelumnya dia hanya tahu soal bahayanya COVID-19  melalui berita-berita yang biasa dia lihat di layar kaca televisi, serta beberapa tetangganya yang harus Isoman karena COVID-19. Tiba-tiba dia terkena COVID-19  tanpa disadarinya selama ini. 

“Saya panik, kepikiran terus. Saya pun cepat kembali pulang. Memberitahukan ke orang tua saya. Ibu saya sempat menangis. Bapak saya langsung mengingatkan adik dan kakak saya agar senantiasa Prokes. Memakai masker. Saya pun melakukan Isoman di kamar saya. Tidak keluar-keluar selama seminggu. Saya rasanya tidak percaya, akhirnya kena COVID-19. Seluruh keluarga mendukung dan mengurus saya selama Isoman. Saya mengambil makanan saya yang telah disediakan khusus di depan kamar. Alhamdulillah sekarang sudah sembuh,” jelasnya.


Sejak saat itu, dia dan keluarganya disiplin Prokes. Keluar rumah – terlebih jika ke warung – selalu menggunakan masker dobel, dan selalu membawa sanitiser. Dia pun selalu rajin cuci tangan dengan sabun. Septi yang bersekolah di SMK jurusan perkantoran ini pun selalu segera mengganti pakaian, membersihkan badan usai bepergian keluar rumah dalam waktu lama, baru kemudian bergabung dengan keluarganya.

Dia merasa perlu mendisiplinkan diri dengan Prokes, apalagi lingkungan rumahnya dikategorikan sebagai RT Zona Merah COVID-19. Beberapa tetangga terdekat dari rumahnya sedang melakukan Isoman. Bahkan satu diantaranya meninggal saat Isoman.

“Lebih baik di rumah saja, jika tidak ada yang penting enggak usah pergi-pergi. Jangan lupa pakai masker dobel, dan kemana-mana bawa sanitizer. Prokes itu penting. Percaya COVID-19 itu ada,” jelasnya.

(Plan Indonesia/Musfarayani)