Gerak Cepat Tim STBM Desa Lia Menanggani Pandemik COVID-19

Pada pertengahan 2019, Desa Lia di Kabupaten Manggarai sudah diperkenalkan dengan STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat) melalui sosialiasi yang berlangsung di kantor desa pada 23 Maret 2019. Kegiatan ini dihadiri oleh perangkat desa, para tokoh masyarakat, tokoh agama, dan tokoh pendidik. Agenda dalam kegiatan ini adalah pembentukan Tim STBM Desa dan rencana tindak lanjut jangka pendek. Sosialisasi ini juga menghasilkan jadwal rutin per minggu untuk kegiatan kebersihan lingkungan, berpusat di masing-masing dusun.

Dengan Surat Keputusan Kepala Desa Lia No.11 tanggal 16 Juli 2019, terbentuklah tim STBM Desa Lia yang diketuai Ibu Yuliani Febriyanti selaku Bidan Desa dan Ibu Dorotea Ambus sebagai sekertaris yang merupakan seorang Kader Posyandu sekaligus Ketua Kelompok Kerja (Pokja) 4 PKK.

Sosialisasi STBM secara mandiri di berbagai kesempatan seperti pertemuan rutin di desa, di tingkat RT dan dusun pada tiap kegiatan posyandu mengawali aktivitas tim STBM Desa terpilih. Yang sangat membanggakan, masing-masing RT dan dusun sukarela mengumpulkan dana dari masyarakat, terutama untuk kebutuhan keberlangsungan rapat seperti jajanan dan minuman.

Sejak Pemerintah Kabupaten Manggarai mengumumkan adanya Pandemik COVID-19 dan mengeluarkan peraturan untuk mematuhi protokol kesehatan, masyarakat Desa Lia bergegas melakukan instruksi Pemerintah, salah satunya dengan pembentukan Satgas COVID-19 Tingkat Desa. Beberapa anggota Tim STBM Desa pun menjadi bagian dalam kegiatan tersebut. Semua aktivitas pelayanan kesehatan yang bersifat mengumpulkan massa seperti posyandu diubah menjadi pemantauan kesehatan balita dan masyarakat melalui kunjungan rumah.

Pada 6 Mei 2020, tim STBM Desa Lia beserta Tim STBM dari 4 desa pilot lainnya mengikuti pertemuan di kantor Camat Satar Mese Utara. Pertemuan ini membahas pencegahan penyebaran COVID-19 dengan pendekatan STBM yaitu melalui Promosi Kesehatan (Promkes) kunjungan rumah, pemberian poster di setiap rumah, dan kampanye audio menggunakan sepeda motor dilengkapi pengeras suara. Dalam sambutannya, Pak Camat mengungkapkan terima kasih atas partisipasi Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia) bersama pemerintah kecamatan dalam melakukan aksi pencegahan penyebaran COVID-19.

“STBM 5 Pilar khususnya Pilar 2 (Cuci Tangan Pakai Sabun,red) menjadi salah satu cara ampuh memutus rantai penyebaran COVID-19”, ungkap Pak Camat Aloysius Jebarut.

Perwakilan Plan Indonesia dalam proyek Water for Women (WfW) yang didanai DFAT hadir sebagai narasumber dalam pertemuan Ini. Program ini bertujuan memberikan pembekalan terhadap pencegahan penyebaran COVID-19 yang akan dilakukan di tingkat desa, menekankan aspek kegiatan promosi dan preventif di masyarakat.

Di akhir pertemuan ini, Plan Indonesia menyerahkan perlengkapan APD (Alat Perlindungan Diri) dan media komunikasi seperti poster pada kelima Desa pilot dan Tim STBM Kecamatan. Selain itu dibekali juga dengan beberapa format penilaian rumah tangga terkait sarana dan perilaku STBM.

Tim STBM Desa Lia tanggap dan bergerak cepat dengan melakukan kunjungan rumah secara bersama dengan melibatkan kader posyandu dan aparat desa. Salah satunya di Dusun Repok.

Kegiatan ini cukup istimewa karena keberadaan dusun ini cukup terpencil, belum ada akses listrik dan sinyal seluler. Untuk mengakses dusun, tim STBM harus berjalan kaki kurang lebih 1 km dengan kondisi jalan tanjakan dan berbatu. Ibu Yulin, salah satu anggota Tim STBM Desa,  menyampaikan bahwa aktivitas posyandu di dusun ini dilakukan setiap bulan.

“Tidak ada sedikit pun kata mengeluh yang keluar dari mulut mereka. Jalan kaki sejauh 1 km itu sudah bagus dibanding beberapa tahun lalu yang harus jalan kaki sejauh 3 km karena jalan ke dusun ini belum di aspal, ini sudah menjadi tugas kami sebagai bidan dan kader posyandu, jadi kami menikmatinya”, timpal Ibu Yulin. Menurut Ibu Yulin, masyarakat Desa Lia tidak kaget dengan upaya pencegahan penyebaran COVID-19  karena sudah dikenalkan terlebih dahulu dengan STBM. Yang diperlukan lebih lanjut adalah STBM perlu didengungkan secara terus menerus karena perubahan perilaku tidak bisa dicapai dalam waktu singkat. Oleh karena itu, di setiap aktivitas pelayanan, ia selalu menyempatkan diri menyampaikan 5 Pilar STBM serta contoh praktis implementasi STBM. (Plan Indonesia/Yohanes Emanuel Lele)