Erupsi Gunung Ili Lewotolok, Anak-anak Lembata Mengungsi

Hampir seminggu berlalu sejak erupsi terjadi di Gunung Ili Lewotolok, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur pada Minggu (29/11). Berdasarkan catatan Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia), erupsi dengan tinggi kolom abu yang mencapai 4.000 meter itu telah memaksa 17.293 orang meninggalkan rumah mereka dan pergi ke tempat yang lebih aman untuk sementara.

Di antara para pengungsi, terdapat anak-anak dampingan Plan Indonesia di Lembata, yaitu anak-anak berusia 0-18 tahun yang berasal dari keluarga termarjinalkan. Salah satunya, Riska (16 tahun), yang berusaha menyelamatkan diri ketika bencana terjadi.

Meski harus tinggal di pengungsian untuk sementara waktu, Riska berusaha untuk tetap bersemangat. Ketika ditemui tim Plan Indonesia di salah satu pusat pengungsian, Riska tetap menyambut dengan ramah. Ia bahkan bersedia membagikan ceritanya, sambil menyuarakan kebutuhan yang dimiliki olehnya dan anak-anak seusianya.

Sahabat, mari simak cerita Riska.

Perkenalkan, nama saya Riska (16 tahun), salah satu anak dampingan Plan Indonesia dari Kabupaten Lembata yang terkena dampak erupsi Gunung lli Lewotolok.

Erupsi Gunung Ili Lewotolok terjadi hari Minggu lalu, saat kami semua sibuk dengan aktivitas sehari-hari dan tidak menyadari adanya erupsi ini.

Saya sedang mengikuti misa di gereja, ketika terdengar ledakan dan guncangan dari gunung. Kami semua (segera) berlari menuju tempat yang lebih aman dan saya pergi ke ibukota kabupaten Lembata, Lewoleba.

Perasaan saya saat itu sangat takut, juga sangat terguncang. Ini merupakan pertama kalinya saya mengalami ledakan atau erupsi di Gunung Ili Lewotolok.

Sekarang, saya sedang mengungsi. Menurut saya, ada beberapa hal yang saya dan juga teman-teman lainnya butuhkan di tempat pengungsian.

Kami berharap mendapat pembinaan mental, supaya kami tidak mengalami trauma dengan kejadian ini. Saya juga berharap tempat pengungsian anak-anak dan orang dewasa harus terpisah, agar anak-anak bisa fokus untuk belajar. Sebab, saat ini, kami sedang menghadapi ujian yang berbasis online.

Kemudian, saya berharap agar tempat pengungsian itu bersih, supaya menunjang kesehatan anak-anak, terutama anak-anak yang berasal dari desa.

Terima kasih.”

Sahabat, Riska hanyalah satu dari ratusan anak yang terdampak di Lembata. Yuk, bantu mengurangi perih yang mereka rasakan.

Bantuan Anda akan digunakan untuk membeli kebutuhan anak-anak dan keluarganya, seperti selimut, kasur, alat pembelajaran, masker, pembalut, serta popok. Bantuan juga akan disalurkan dalam bentuk pemenuhan kebutuhan psikososial dan kesehatan bagi anak-anak, sekaligus pelatihan kepada guru untuk memberi pendidikan yang layak dalam situasi darurat.

Mari berdonasi melalui tautan: kitabisa.com/bantuerupsilembata