Dzakiyya: Merasa Aman Memulai Pelajaran Tatap Muka Setelah Vaksin

Awal September lalu, Dzakiyya, (12 tahun), Jakarta Timur, sudah memulai Pembelajaran Tatap Muka (PTM) di sekolah. Dia menyambutnya dengan suka cita, karena hampir dua tahun harus belajar di rumah. Orangtuanya mengizinkannya untuk ikut PTM  karena selain sekolah telah menjamin penegakkan Prokes (Protokol Kesehatan) selama proses belajar mengajar secara langsung, Dzakiyya, juga sudah divaksin tahap 1 sebulan sebelumnya. Bukan hanya Dzakiyya, sekolah juga sudah menjamin dan memastikan kepada orangtua murid bahwa para guru, dan karyawan juga sudah divaksin.

Atas kemauannya sendiri Dzakiyya melengkapi vaksin keduanya dengan alasan untuk melindungi dirinya sendiri dan orang tuanya. Selain itu dia ingin kembali bersekolah dengan rasa aman karena sudah tervaksin. (Foto: Musfarayani)

Dzakiyya sendiri termasuk yang peduli Prokes dan pentingnya vaksin bagi dirinya sendiri.  Karena itu dia memberanikan diri untuk mengikuti vaksin tahap I yang digelar salah satu kelurahan terdekat dengan rumahnya. Semula dia agak takut tapi ternyata prosesnya cepat hingga dia tidak merasa petugas telah menyuntiknya dengan vaksin.

“Cepat sekali. Beberapa detik kemudian petugas sudah meminta saya menahan kapas di lengan tempat vaksin disuntikan. Tidak sakit. Saya berani vaksin supaya saya bisa melindungi diri sendiri dan orang lain, terutama orang tua saya, lagi pula sudah mulai PTM, sehingga saya jadi lebih berani ke sekolah karena merasa aman,” jelasnya.

Hari ini, tepat sebulan pasca Dzakiyya mendapatkan vaksin pertamanya. Usai pulang dari sekolah, Dzakiyya bergegas menuju kantor kelurahan tempat ia mendapatkan vaksin pertamanya. Dengan menerapkan Prokes, Dzakiyya yang masih berpakaian seragam Pramuka ini, ikut antre untuk mendapatkan vaksin keduanya.

 “Alhamdulillah sekarang sudah lengkap vaksinnya. Saya mau vaksin atas kemauan saya sendiri meski orangtua juga mendorong anak-anaknya untuk vaksin. Saya ingin bisa bersekolah dan bertemu dengan teman-teman dengan rasa aman,” jelasnya.

Dalam merespons pandemik ini, Plan Indonesia melakukan respons tanggap darurat COVID-19 di Jabodetabek yang berfokus pada pemenuhan kebutuhan anak dan kaum muda, terutama perempuan. Bantuan kemanusiaan ini ditargetkan untuk menjangkau 1000 anak berusia 0-18 tahun yang terdiri dari 500 anak perempuan dan 500 anak laki-laki termarjinal di wilayah Jabodetabek. Melalui respons tanggap darurat COVID-19, Plan Indonesia berharap anak-anak terlindungi dari penyebaran COVID-19 dan hak anak terpenuhi, terutama bagi anak perempuan, anak dengan disabilitas, dan anak dari keluarga marjinal. (***)Penulis: Musfarayani | Editor: Agus Haru