Search
Close this search box.
Home / Tokoh Agama di Kabupaten Sumbawa Dorong Kesetaraan Gender

Tokoh Agama di Kabupaten Sumbawa Dorong Kesetaraan Gender

agama islam kesetaraan gender sumbawa plan indonesia

Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Sumbawa, Syukri Rahmat, S.Ag, M.Inov berbagi pandangan mengenai kesetaraan gender dalam perspektif Islam. Menurut pria 47 tahun ini, gender sudah ada sejak lama. Dalam islam, kesetaraan gender sudah diajarkan dan dipraktikkan oleh Rasulullah. Peran perempuan sudah tampil di berbagai bidang pada masa itu.

“Islam sangat konsen dengan isu gender. Perempuan diberi ruang seluas-luasnya pada masa kepemimpinan Rasulullah,” ungkap Syukri. Dalam konteks Indonesia khususnya Sumbawa hari ini tentu sudah sangat maju terkait dukungan pada kesetaraan gender. Nilai-nilai kearifan lokal di Sumbawa sudah sangat mendukung. Hal itu bisa dilihat dari bukti sejarah kepemimpinan perempuan di Kesultanan Sumbawa dengan adanya dua Sultanah perempuan.

“Sudah dipraktikkan sejak dulu, suku Samawa mendukung kesetaraan dan kepemimpinan perempuan,” sebut Syukri. Bahkan, dalam konteks kepemimpinan perempuan di struktur pemerintahan daerah Kabupaten Sumbawa hari ini sudah ada Kepala Dinas (Kadis), Kabid, Camat dan Wakil Bupati perempuan.

Terbukanya ruang publik mendorong perempuan untuk belajar dan mengeluarkan potensi terbaiknya sehingga mampu menjadi pemimpin. Setelah ada program Monitoring Kesetaraan Gender dalam Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (MKGS) dari Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia) di Kabupaten Sumbawa, mulai ada kesadaran pada tatanan masyarakat mendorong perempuan mengambil peran sebagai pemimpin.

“Ada yang menjadi ketua Rukun Tetangga (RT), perangkat desa, ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) dan anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD), dan lain-lain,” sebut Syukri.

Begitu pun lembaga organisasi keagamaan (ormas). Kini, semua ormas punya lembaga perempuan. Masyarakat sudah mulai sadar, ketika perempuan punya kemampuan kenapa tidak diberikan kesempatan. Rasulullah sudah memberikan teladan kepada umatnya. “Sudah jalan kesetaraan itu hingga sekarang. Tinggal kita perkuat lagi komitmen dan kapasitasnya,” ujar Syukri.

Dukungan itu sejalan juga di ranah politik. Syukri mendorong perempuan mempunya ruang yang sama dalam pemilu 2024 dengan mengisi keterwakilan 30 persen pada setiap partai politik. “Keterwakilan perempuan kalau menurut saya bisa naik lagi menjadi 50 persen agar ada warna lain di legislatif dan tentu perjuangan untuk kesetaraan gender,” sebut Syukri.

Sebagai tokoh agama, ia sering melakukan safari dakwah dan membahas persoalan gender. Misalnya, di beberapa organisasi keagamaan tentang  penguatan peran perempuan. Upaya membangkitkan semangat dan kesadaran perempuan tentu terus dilakukan.

“Saya belum punya sumber daya lain. Tentu melalui pendekatan dakwah. Ini bukan tentang teori manusia tapi firman Allah SWT, bahwa mengisi tanggung jawab pembangunan itu harus dilakukan oleh semua gender,” terang Syukri.

Ia menyebutkan masih ada sedikit kendala dalam pemikiran kultural (budaya) yang tumbuh di dalam masyarakat. Untuk mendorong kesetaraan lebih luas lagi, dibutuhkan keterlibatan laki-laki agar pemikiran kultural itu bisa hilang. “Secara pribadi saya sering sampaikan. Harus didorong pembagian peran dan beban kerja agar lebih setara,” ujar Syukri.

“Nyuci dan setrika sendiri sudah sering saya lakukan. Pekerjaan rumah tangga harus dibiasakan karena bagaimana jika perempuan sakit misalnya, pasti kita yang akan melakukan pekerjaan rumah tangga,” kisah Syukri.

MKGS mendorong pembagian peran di masyarakat meyakini bahwa pekerjaan rumah tangga  mengambil air, memasak, memandikan anak, membuang sampah, dan lain-lain adalah tugas kaum perempuan saja. Sedangkan partisipasi dan kepemimpinan dalam komunitas kentara didominasi oleh laki-laki.

Syukri mengungkapkan sebelum ada MKGS, sebagian kecil masyarakat di kalangan tertentu masih menitikberatkan pekerjaan rumah tangga pada perempuan. Hal itu karena masih ada nilai dan norma di masyarakat yang menghambat kesetaraan dalam pembagian beban kerja di rumah tangga.

Namun kini, pemikiran itu sudah sangat kecil. Masyarakat yang memiliki perspektif atau mindset seperti itu sudah relatif kecil. Setelah adanya program kesetaraan gender terutama pembagian beban kerja, masyarakat sudah mulai merubah mindset nya dan mulai melakukan pekerjaan rumah tangga secara bersama.

Kelompok laki-laki mengatakan bahwa MKGS menyadarkan mereka bahwa pekerjaan rumah tangga harus dikerjakan bersama supaya lebih ringan dan itu tanggung jawab bersama. Syukri menyebutkan laki-laki sudah mengerjakan pekerjaan rumah tangga bersama dengan perempuan. “Tentu pincang juga kalau kita laki-laki hanya mencari nafkah, tapi tidak membantu istri di rumah,” imbuhnya.

Menurutnya, pasangan hadir untuk saling melengkapi. Laki-laki dan perempuan dalam pekerjaan rumah tangga tentu saling mengisi. Dalam pengambilan keputusan dalam rumah tangga sudah mengalami perubahan positif. “Saya menyadari bahwa sekarang ini perlu melibatkan istri sebelum memutuskan sesuatu. Kami berdiskusi bersama dalam keluarga, ada istri dan anak-anak, misalnya untuk pembuatan WC, saluran limbah cair, sarana CTPS, dan lain-lain. Sudah ada kerja sama,” ucap Syukri.

Sejalan dengan itu, tingkat pendidikan juga berpengaruh. Hal itu karena masih ada pemikiran konservatif. Islam membuka ruang bagi laki-laki dan perempuan yang sama untuk beribadah kepada Allah. “Perempuan harus tampil dan diberikan ruang, untuk berbuat sesuai kapasitas. Kita harus perkuat ini. Peran yang bisa menebar manfaat,” kata Syukri.

Unduh

Bagikan ke

Artikel Lain Yang Terkait

Berlanggan Buletin Kami

Berlangganan Buletin Kami​

Jadilah
Teman Plan
Perjuangkan hak anak Indonesia
Bagikan informasi ini!

Beritahu teman, keluarga, dan tetangga Anda. Bagikan ke dunia!