Eifellyne: Cerita Tentang Kuliah, Aktivisme dan Komunitas Pendidikan

Eifellyne adalah mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Indonesia,Founder komunitas @KognitifProject komunitas pelajar untuk persiapan jenjang Perguruan Tinggi, dan Tim Advokasi 2030 Youth Force. Di tahun 2018, Eifellyne menjadi salah satu peserta Girls Takeover #SehariJadiPemimpin dalam rangka International day of the Girl. Di mana ia menjadi Direktur Program Yayasan Plan International Indonesia sehari.

Tim Plan Indonesia, berkesempatan untuk berbincang kembali bersama Eifellyne, pasca tiga tahun menjadi alumni peserta Girls Takeover #SehariJadiPemimpin.

Hai Eifellyne, bagaimana kabarmu?

Halo, Kak, Puji syukur kabarku baik. Saat ini aku sedang semangat menjalani kuliah online dan aktif di beberapa komunitas, baik di dalam kampus atau di luar kampus aja, nih.

Saat ini, kamu sedang fokus mengerjakan kegiatan apa saja, Lyne?

Kalau di luar kampus, aku tergabung dalam 2030 Youth Force di divisi Advokasi. Nah, aku terlibat dalam tim advokasi. Jelang International Youth Day 2020, aku bersama dengan Sekolah Tinggi Hukum Jentera dan Future Leaders for Anti Corruption melangsungkan Focus Group Discussion (FGD) bersama dengan Sekretariat SDGs Bapennas, dan beberapa kementerian lain. FGD yang kami selenggarakan membahas antikorupsi di masa pandemik COVID-19. Akhirnya, kami membuat  Policy Brief untuk mengawal isu-isu korupsi di tengah pandemik COVID-19. Awalnya kami khawatir bahwa selama pandemik ini, pemberitaan hanya berfokus pada isu kesehatan saja, dan menutup isu yang lain. Namun, pihak pemerintah ternyata juga mendengar dan langsung melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT).

Sebenarnya bukan hanya itu saja, tapi aku juga mengadvokasi isu terkait pelibatan kaum muda dalam penyelenggaraan demokrasi. Misalnya pengesahan RUU PKS dan rancangan undang-undang lainnya yang sangat penting untuk ditindaklanjuti. Korban dan penyintas kekerasan berbasis gender dan kekerasan seksual memerlukan payung hukum yang melindungi mereka. Banyak kaum muda dan aktivis yang menyuarakan isu ini, namun pada kenyataannya kemarin RUU PKS sempat dikeluarkan dari prolegnas.

Beberapa waktu lalu, kamu sempat mempromosikan Kognitif Project di media sosialmu. Apa sih Kognitif Project itu? Boleh diceritakan sedikit?

Kognitif Project adalah sebuah lembaga non profit yang bergerak di bidang pendidikan untuk meningkatkan kapasitas anak dan kaum muda yang ingin melanjutkan ke sekolah tinggi. 

Sebenarnya, aku dan kedua temanku membangun Kognitif Project karena kekhawatiran kami terhadap anak-anak daerah yang gelisah saat mengambil keputusan untuk melanjutkan ke perguruan tinggi. Aku dan teman-teman tinggal di Kediri. Akses yang kami punya, tidak seluas teman-teman yang tinggal di kota besar. Namun, anak dan kaum mudanya sebenarnya sangat kompeten dan punya kesempatan untuk belajar di universitas-universitas unggulan. Sayangnya sering kali tidak ada enabling environment. Disaat kami cerita mau pilih universitas yang unggulan, malah dinasihati untuk pilih kampus yang dekat-dekat saja, khawatir tidak bisa bersaing dan malah dapat nilai jelek katanya.

Menjawab hal ini, aku dan teman-teman membuat komunitas peer-to-peer learning, untuk memberikan pengetahuan soft skill, dan juga pelatihan yang berhubungan dengan kesiapan masuk universitas. Melalui webinar, kami mengundang narasumber yang kompeten untuk berikan informasi tentang beasiswa, tentang cara membuat motivation letter, dan rangkaian sharing session untuk mempersiapkan kaum muda untuk siap, bisa bersaing dan perform saat kuliah.

Karena aku yakin kita semua punya potensi yang sama besarnya. Aku ingin anak dan kaum muda yang tinggal di luar kota-kota besar juga bisa siap bersaing, keluar dari zona nyaman, dan berani mengambil keputusannya untuk mencapai rencana-rencana besarnya. Aku percaya mereka juga bisa sukses jika diberikan kapasitas yang mereka butuhkan.  

Setuju. Lingkungan yang mendukung dapat mempengaruhi bagaimana anak dan kaum muda belajar dan berkembang untuk mempersiapkan masa depannya. Ngomong-ngomong, apa sih yang akhirnya buat kamu berani keluar dari zona nyaman?

Menurutku, mengikuti banyak kegiatan membuka mata ku pada peluang-peluang yang lebih luas. Ikut kegiatan Girls Takeover #SehariJadiPemimpin accelerate kemampuanku dan keberanianku. Aku bertemu dengan Bu Dini (Direktur Eksekutif Yayasan Plan International Indonesia), Bu Dwi (ex- Direktur Program Yayasan Plan International Indonesia), dan Kak Lia (National Project Manager Yayasan Plan International Indonesia) yang membuka mataku bahwa ada banyak peluang yang bisa mengantarkan aku pada rencana-rencanaku. 

Lingkungan yang supportive bisa mendukung aku untuk berani mengambil keputusan sendiri. Inilah yang ku dapat saat ikut kegiatan bersama Plan Indonesia. Mungkin kalau dulu aku memilih berada di zona nyaman, aku kehilangan kesempatan-kesempatan yang bisa aku dapatkan saat aku pindah ke jakarta dan masuk ke universitas unggulan. Misalnya kesempatan magang di perusahaan besar yang lebih luas, ikut komunitas dan project yang lebih besar. 

Selain itu, aku ingin bawa perubahan di daerahku. Dengan pengalaman dan pengetahuan yang aku dapat, aku ingin bagikan ini ke teman-teman di daerahku supaya mereka bisa juga merasakan peluang yang sama, salah satunya melalui platform yang sekarang sedang aku bangun di Kognitif Project.

Menurut Eifellyne, sepenting apa sih kaum muda untuk keluar dari zona nyaman? Pesan yang ingin kamu sampaikan agar kaum muda mau mencoba keluar dari zona nyaman?

Menurutku penting banget untuk kaum muda keluar dari zona nyaman. Karena pasti ada banyak hal-hal yang bisa challenge kita supaya kita bisa jadi versi yang lebih baik dari diri kita sekarang. Bagi teman-teman yang belum berani, harus banget coba keluar dari zona nyaman. Karena yang pertama, kita jadi lebih berani mengambil risiko dan keputusan yang membuat diri kita jadi pribadi yang lebih baik.  Berhasil atau gagal nantinya, hal ini yang bisa membuat kita banyak belajar.  Yang kedua, keluar dari zona nyaman membuat diriku lebih optimis untuk hal-hal yang aku lakukan kedepannya. Yang ketiga, aku jadi lebih percaya pada kemampuan diriku sendiri. Karena jauh dari keluarga dan teman-teman, buat aku percaya pada kemampuan diriku sendiri dan hal ini akan mempengaruhi hidupku di masa depan. 

Menurut kamu, self-care apa yang diperlukan untuk teman-teman yang saat ini sedang keluar dari zona nyaman dan sedang berjuang?

Yang pertama, aku sering self-talk atau ngomong sama diri sendiri. Jika aku sedang merasakan sesuatu, misalnya lagi sedih, aku biasanya menyemangati diri sendiri. Yang kedua, kalau misalnya aku merasa performance-ku nggak maksimal, aku selalu menanamkan bahwa itu adalah hal yang aku perlu improve, bukan hal yang perlu membuat aku sedih dan kecewa sama diriku sendiri. Yang ketiga, aku stop bandingin diri kita sama teman-teman yang nggak apple-to-apple. Karena menurutku setiap orang punya start yang beda. Jadi aku hanya membandingkan bagaimana perkembanganku sekarang dari hari kemarin.

Saat kamu gagal, Bagaimana Eifellyne menghadapi menghadapinya? 

Di awal masuk kuliah, aku menghadapi banyak kegagalan – atau rencana yang nggak terealisasikan. Awalnya aku sedih banget dan berpikir kenapa aku gagal tapi orang lain bisa. Awalnya aku sempat down. Namun, aku merasa harusnya aku tidak membatasi diri pada kesempatan-kesempatan lain.

Nah kalau untuk mengatasi kegagalan itu sendiri, langkah pertama yang aku lakukan adalah mengantisipasi kegagalan itu sendiri di awal. Saat membuat satu rencana, aku juga lihat peluang-peluang lain yang akan muncul. Jadi, aku buat plan B dan C juga. Yang kedua, setiap aku gagal, aku menulis di kertas apa yang membuat aku sedih dan kesal, tapi aku juga menuliskan hal hal yang perlu diperbaiki. Ini jadi bahan refleksiku, untuk coba plan B dan C. Yang ketiga, terbuka dengan kesempatan lain, karena jalan menuju sukses bukan cuma satu. Yang terakhir, aku selalu mikir kalau kita nggak kerja keras sekarang dan nggak bangkit sekarang, kita terlalu terlena dengan kesedihan. 

Pertanyaan terakhir untuk Eifellyne, siapa sih women leaders yang kamu idolakan? Aku mengidolakan Ibu Retno Marsudi, Menteri Luar Negeri RI. Karena seperti yang kita tahu, Bu Retno bisa membawa Indonesia jadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan (DK) PBB. menurutku representasi perempuan dan mendukung perempuan sebagai pemimpin di berbagai bidang, termasuk politik dan STEM ini penting banget.