Cerita dari Garda Terdepan Respons Tanggap Darurat Erupsi Ili Lewotolok Plan Indonesia

Semua berawal pada Minggu, 29 November 2020–saat terjadi erupsi di gunung Ili Lewotolok, Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Gemuruh yang menggelegar, disusul kepulan asap hitam yang membumbung hingga ketinggian 4.000 meter terus menghantui warga desa yang berada di lereng gunung berapi tersebut.

Warga desa di sekitar lereng pun panik dan berhamburan ke luar rumah, Mereka bergegas mengungsi ke tempat yang aman, kebanyakan menuju Lewoleba, ibu kota dari Kabupaten Lembata. Setiap warga–mulai dari anak-anak, orang dewasa, hingga orang lanjut usia (lansia)–saling membantu demi menghindari erupsi gunung yang tak kunjung berhenti. Kebanyakan warga mengungsi hanya dengan baju yang melekat di tubuhnya, sembari membawa barang seadanya. Anak-anak dan lansia pun digendong untuk mempercepat langkah menuju tempat yang lebih aman.

Di tengah situasi tersebut, Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia) bergerak cepat untuk  melakukan respons tanggap darurat dan membantu para penyintas. Kabupaten Lembata merupakan salah satu wilayah kerja Plan Indonesia di NTT sejak 2006. Sebanyak 9.953 anak dampingan Plan Indonesia berusia 0 sampai 18 tahun yang berasal dari keluarga termarjinalkan, tinggal di wilayah tersebut. Tim tanggap darurat Plan Indonesia pun bergegas untuk memberikan bantuan kepada para penyintas erupsi Ili Lewotolok, tanpa terkecuali.

Ignas, anggota tanggap darurat Plan Indonesia mengatakan, timnya berusaha melakukan yang terbaik untuk mendata identitas dan memberikan bantuan setelah erupsi terjadi. Tak hanya karena tugasnya sebagai tim tanggap darurat, nuraninya juga tergerak karena munculnya rasa iba setelah melihat masyarakat, termasuk anak-anak, lansia, dan ibu hamil yang harus mengungsi karena bencana.

“Mereka harus berlari meninggalkan rumah untuk menuju tempat pengungsian, hal inilah yang memotivasi saya dan teman-teman staf Plan Indonesia untuk melakukan respons yang dilanjutkan dengan distribusi bantuan,” ungkap Ignas yang sudah 10 tahun mengabdi di Plan International dan Plan Indonesia tersebut.

Sejak 2014, Ignas kerap bertugas untuk memberikan respons tanggap darurat dalam berbagai bencana di Indonesia. Kali ini, ia menjadi salah satu staf Plan Indonesia yang bergerak di garda terdepan dalam erupsi gunung Ili Lewotolok. Berkoordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), aparat pemerintah, dan relawan setempat, Ignas dan tim menyalurkan bantuan kepada para penyintas erupsi Ili Lewotolok. Beberapa bantuan yang diberikan oleh Plan Indonesia meliputi perlengkapan hunian darurat (emergency shelter kits) yang terdiri dari selimut dan tikar, juga Menstrual Hygiene Management kits (MHM), termasuk pembalut, deterjen bubuk, pakaian dalam, sabun cair cuci tangan, handuk kecil, serta poster terkait MHM. Selain itu, dibagikan pula learning kits atau paket pembelajaranberupa buku tulis, buku gambar, penggaris, pensil warna, penghapus, serta rautan kepada para anak-anak penyintas.Paket rekreasi berupa peralatan main seperti catur, bola kaki, gitar, dan ular tangga juga dibagikan untuk anak-anak di 26 desa terdampak.

Setelah secara langsung turun lapangan sejak Desember lalu, kini tugas Ignas telah usai, bersama dengan selesainya masa tanggap darurat erupsi Ili Lewotolok Plan Indonesia pada Sabtu, 20 Februari 2021. Selama sekitar dua bulan masa respons, Plan Indonesia telah membagikan 5.322 perlengkapan hunian darurat, paket bantuan pembelajaran, dan menstrual hygiene management kits, yang telah diterima oleh 5.322 keluarga atau 17.080 orang penyintas erupsi Ili Lewotolok.

Ignas mengatakan, ia merasa sangat senang karena bisa terlibat langsung untuk membantu masyarakat, termasuk anak-anak dan keluarga dampingan Plan Indonesia yang menjadi penyintas erupsi Ili Lewotolok. Menurut Ignas, ia selalu berkomitmen agar semua anak dan keluarga dampingan mendapatkan bantuan yang optimal. Ia juga berharap agar kehadiran Plan Indonesia dalam kegiatan respons dapat memberikan rasa aman dan nyaman bagi anak-anak dan keluarga dampingan.

“Saya mempunyai komitmen agar semua anak dan keluarga dampingan yang terdampak bencana mendapatkan perhatian lebih dengan kehadiran Plan Indonesia. Sehingga, mereka bisa merasakan adanya perhatian kita dalam situasi apapun,” ungkap Ignas. Apa yang dilakukan oleh Ignas dan tim Plan Indonesia mendapatkan apresiasi dari masyarakat setempat. Salah satunya, dari Sakira (11 tahun), anak dampingan Plan Indonesia di NTT. Sakira mengatakan, ia sangat senang karena bantuan yang diterimanya, yaitu paket bantuan belajar, menstrual hygiene management kits, juga alat-alat kesehatan yang berhubungan dengan pandemik COVID-19. “Senang sekali mendapatkan banyak paket dari Plan Indonesia. Terima kasih sudah mendukung saya selama ini,”  pungkas Sakira.