BANJIR LOMBOK BARAT, DAN KISAH PILU PENYINTAS

Tim tanggap darurat Plan Indonesia melakukan Rapid Need assessment atau kaji cepat kebutuhan penyintas bencana banjir bandang yang baru saja terjadi di Kabupaten Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Dalam kesempatan kegiatan kaji cepat ini, ada beberapa cerita pilu dari ibu rumah tangga yang kehilangan rumah dan harta benda lainnya, salah satunya adalah Ibu Masita (40 tahun)
Tim tanggap darurat Plan Indonesia melakukan Rapid Need assessment atau kaji cepat kebutuhan penyintas bencana banjir bandang yang baru saja terjadi di Kabupaten Lombok Barat, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).

Banjir Lombok Barat yang terjadi senin (6/12) yang lalu banyak meninggalkan kisah pilu dari warga yang terdampak. Kehilangan rumah, harta benda, dan bahkan kehilangan anggota keluarga. Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia) merupakan salah satu lembaga kemanusiaan yang turut mengambil bagian mendukung pemerintah dalam memberikan dukungan, bantuan awal dan juga melakukan kaji cepat kebutuhan penyintas/Rappid Need Assessment (RNA).

Pada sore harinya, sebanyak dua orang anggota tim tanggap darurat/Emergency Response Team (ERT) Plan Indonesia langsung bergerak cepat melakukan peninjauan pada salah satu lokasi terdampak. Kehadiran ERT bertujuan melakukan kaji cepat kebutuhan mendesak dari para penyintas yang ada di pengungsian dan selanjutnya melakukan respons awal. Dalam kesempatan kegiatan kaji cepat ini, ada beberapa cerita pilu dari ibu rumah tangga yang kehilangan rumah dan harta benda lainnya.

Ibu Masita (40 tahun) bersama keluarga sudah tinggal selama 30 tahun di bantaran sungai besar Desa Kekait, Gunung Sari. Dalam kesehariannya ia bekerja sebagai penjual kayu kering di pasar Kekait, sehingga saat kejadian banjir menerjang, ia sementara berada di pasar.  Ibu dari 3 orang anak ini, tiba-tiba mendapat telepon dari salah satu anaknya bahwa rumah mereka telah hanyut terbawa banjir. Ia pun bergegas pulang.

Sesampainya di lokasi rumah, Ibu Masita melihat rumahnya sudah hanyut terbawa banjir, tidak ada barang yang tersisa. “Saat kejadian, saya sementara berada di pasar, waktu itu, saya dapat telepon dari anak saya dan saya langsung pulang, namun setelah sampai rumah saya sudah tidak ada lagi karena sudah dibawa banjir dan hanyut bersama semua barang-barang dalam rumah, tidak ada yang tersisa,” kata Ibu Masita.

Saat ini Ibu Masita bersama keluarga dan juga keluarga lainnya mengungsi di los pasar tempat sehari-hari ia berjualan kayu. “Kami masih mendapatkan bantuan nasi dan kopi, namun kami membutuhkan tidur yang nyaman agar kami berpikir untuk kembali membangun rumah,” pungkasnya.

Begitu juga dengan Ibu Haerana (40 tahun) yang tinggal di Desa Senteluk, Batu Layar. Saat kejadian, ia sedang menyiapkan bekal untuk anaknya yang bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah, karena hari itu merupakan jadwal ujian anaknya. Namun hingga pukul 10.00 WITA, hujan masih terus turun, air sudah meluap dan mulai menggenangi rumah hingga setinggi pinggang orang dewasa atau lebih dari 100 centimeter. Warga sekitar sudah mulai berteriak untuk mengginformasikan agar segera mencari tempat yang aman dan menyelamatkan barang-barag seadanya.

Ibu Haerana bersama keluarga mulai mengeluarkan barang-barang sebisanya dan mengungsi di lapangan bersama semua warga sekitar. Selanjutnya Ibu Haerana bersama 75 keluarga lainnya dievakuasi untuk tinggal di tenda yang disiapkan oleh pemerintah hingga kini. Meski tidak mengalami kesulitan terkait pasokan makanan, namun mereka tidak bisa tidur dengan nyaman. Mereka hanya tidur beralaskan terpal.

“Kami harus waspada dengn air yang bisa saja terus naik. Kami sangat berharap ada bantuan untuk bisa membantu menyedot air, agar kami bisa kembali ke rumah dan membersihkan rumah,” pungkasnya.

Suci Harus Tetap Sekolah

Ibu Yuhandini, (31 tahun) yang juga merupakan salah satu warga Dusun Karang Telaga, Desa Senteluk, Batu Layar yang turut mengungsi lantaran rumahnya sudah tergenang air. Saat kejadian, ia sedang berada dalam rumah, dan ketika itu ia mendengar teriakan warga lainnya untuk segera mengungsi. Menurutnya, Dusun Karang Telega sudah langganan banjir, namun dalam lima tahun terakhir, banjir kali ini yang paling besar dan ketinggian air lebih dari satu meter. Dalam kesehariannya Ibu Yuhandini menjual kerupuk.

Satu hal yang luar biasa dari Ibu Yuhandini, saat akan segera mengungsi, barang yang paling pertama ia cari dan bawa serta adalah pakaian seragam anaknya, Suci. Suci merupakan anak perempuan Ibu Yuhandini yang berumur 9 tahun dan masih bersekolah. “Perlengkapan sekolah, seperti: baju seragam dan alat-alat tulis menulis lainnya adalah barang-barang yang pertama kali saya selamatkan karena Suci harus tetap sekolah,” jelas Ibu Yuhandini. Gedung sekolah dasar yang ada di desa tersebut tidak terdampak/terendam banjir, sehingga proses belajar mengajar masih tetap bisa terlaksana.

Saat ini, Ibu Yuhandini sekeluarga memilih mengungsi di rumah keluarga sekaligus agar tetap bisa melakukan aktivitas menjual kerupuk. Ia dibantu oleh suaminya yang sebelumnya sebagai petugas keamanan pada salah satu hotel yang ada di Lombok Barat, dan berhenti bekerja lantaran pandemik COVID-19 beberapa waktu yang lalu.

Ibu Yuhandini merupakan salah satu keluarga yang berkesempatan mendapatkan paket kebersihan dari Plan Indonesia yang dibagiakan saat melakukan respons awal. “Paket kebersihan yang saya peroleh dari Plan ini, akan sangat bermanfaat karena ini merupakan kali pertama kami mendapatkan bantuan berupa paket kebersihan,” jelas Ibu Yuhandini. Ia berharap agar banjir segera surut dan mereka bisa kembali kerumah untuk melakukan pembersihan rumah.

Ditulis Oleh: Fitriani Wahyu | Editor: Agus Haru