Generasi muda punya hak untuk bicara soal perubahan iklim

Di Lembata, air tawar layak konsumsi adalah barang angka. Kala musim kemarau tiba, tidak jarang Anda melihat anak-anak perempuan mengantre ambil air di sumur sampai malam demi memenuhi kebutuhan rumah tangga.  Salah satu perempuan muda, Maria Osin (16 tahun), menolak untuk pasrah menanggapi kondisi langkanya air di Lembata. Bersama teman sekolahnya dan dengan dampingan dari proyek Climate Change Child Centered Adaptation (4CA) Plan Indonesia, Osin menciptakan inovasi sederhana desalinasi air. Pada 11 Maret 2020, Osin berkesempatan memaparkan inovasi desalinasi air yang ia buat di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dalam acara Pojok Iklim “Kiprah Cerdas Millenial dan Generasi Z: Bagian Solusi Perubahan Iklim”.

Forum diskusi dibuka oleh Bapak Sarwono, mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia yang menjabat di tahun 1993-1998. Bersama dengan 2 orang muda lainnya, Osin menjelaskan proses inovasi desalinasi air yang ia buat, apa saja hambatannya, dan bagaimana tanggapan masyarakat.

Osin, Ramadhan, dan Bapak Sarwono

Proyek inovasi dimulai dari kekhawatiran Osin sebagai anak perempuan, yang sering kali dibebankan untuk menyediakan air untuk kebutuhan rumah. Hal ini merugikan anak-anak perempuan, karena makin berkurang waktu anak perempuan untuk belajar, terlebih lagi aspek keamanan saat anak perempuan mengambil air sampai malam. “jika saya dan teman-teman tidak membuat perubahan, kesulitan ini bukan hanya akan dirasakan oleh saya, namun generasi perempuan penerus saya juga. Saya berani bermimpi bahwa suatu hari Lembata akan punya akses air bersih yang baik dan perempuan bisa mendapatkan haknya. Dari mimpi itu saya berani ambil bagian untuk membuat perubahan. Saya tidak mau hanya duduk diam menghadapi isu perubahan iklim yang mengakibatkan kelangkaan air ini” Ujarnya di dalam forum diskusi yang dihadiri partisipan dari berbagai latar belakang dan generasi.

Salah satu kesulitan yang ia hadapi adalah mengembangkan inovasi ini. Saat ini, alat yang Osin dan teman-teman kembangkan hanya bisa menghasilkan 2,8 liter dari 200 liter air laut yang disuling. “prototype yang kami buat berbentuk rumah yang terbuat dari kerangka baja, berdinding dan beratapkan plastik. Di dalamnya kami siapkan wadah berisi air laut. Karena suhu di Lembata sangat panas, air laut tersebut menguap dan tertetes pada pipa paralon dan selang kecil yang menyalurkan air uapan ke wadah penampungnya.” Pihak KLHK menanggapi paparan inovasi Osin dengan usulan perlunya paten atas inovasi ini dan perlunya mengadopsi serta mengembangkan desalinasi air agar bisa menjawab kebutuhan masyarakat Lembata dan kota lain dengan permasalahan yang sama.

Kesempatan untuk hadir ke Jakarta dalam diskusi yang diselenggarakan KLHK ini juga ia manfaatkan untuk belajar dari sesama aktivis lingkungan yang juga jadi pembicara sore itu. Bersama Tenia, Executive Director dan founder dari Yayasan Penyelam Lestari Indonesia serta Ramadhan dari Satuan Karya Pramuka Kalpataru, mereka berdiskusi bagaimana bisa mengajak lebih banyak kaum muda untuk terlibat menanggapi perubahan iklim.

Di akhir sesi, Osin menyampaikan rasa syukur atas kesempatan bisa menyuarakan kegelisahan dan solusi yang ia tawarkan untuk menanggapi perubahan iklim. Menurutnya, anak dan kaum muda perlu lebih banyak dilibatkan dan dikapasitasi untuk lebih banyak mengambil peran untuk membuat perubahan.  

Oleh: Raisha Fatya