Pentingnya Peran Ayah dalam Pengasuhan

Di era digital ini saat membahas tema pengasuhan seringkali selalu tertuju pada peran perempuan sebagai sosok ibu, bunda, mama, dll. Bahkan di artikel-artikel popular tentang pengasuhan dalam menyebut peran orang tua, seringkali hanya menggunakan kata “Moms”. Dengan fenomena tersebut, apakah berarti peran bapak, ayah, papa, bukan merupakan peran krusial untuk tumbuh kembang anak? Semoga masih banyak orang yang akan menjawab, bahwa peran laki-laki dalam pengasuhan sama pentingnya dengan peran perempuan.

Dalam konteks pengasuhan perempuan dan laki-laki memiliki kesempatan dan kemampuan yang sama dalam memberikan pengasuhan yang optimal untuk tumbuh kembang anak-anak. Perbedaan prinsip yang berdasar pada jenis kelamin hanya mengacu pada tugas untuk menjalani proses kehamilan, melahirkan dan menyusui yang dibebankan pada perempuan. Selain ketiga fungsi tersebut, semua hal dalam fungsi dan peran pengasuhan bisa dilakukan oleh perempuan dan laki-laki. Walaupun proses kehamilan, melahirkan, dan menyusui merupakan tugas perempuan, namun laki-laki memiliki peran penting dalam memastikan kelancaran ketiga tugas tersebut. Misal, saat kehamilan, laki-laki sebagai suami dan calon ayah, perlu memberikan dukungan mental emosional kepada perempuan/istri agar istri dapat menjalani proses kehamilan dengan tenang dan bahagia. Beberapa dampak yang terjadi saat ibu hamil mengalami kondisi stress atau tekanan mental dalam waktu lama, yaitu: terhambatnya pertumbuhan janin, berat bayi lahir rendah, serta rentan terserang penyakit.

Secara umum fungsi utama pengasuhan menurut modul pengasuhan responsif (sesi 1) dari ChildFund International di Indonesia adalah:

  1. Menyediakan cinta/kasih sayang yang konsisten dan stabil
  2. Memenuhi kebutuhan anak, misal makanan, pakaian, kesehatan, dan perawatan
  3. Memastikan anak mendapatkan pendidikan
  4. Membantu anak mengembangkan aspek psikososial
  5. Membuat keputusan yang baik mengenai kesejahteraan anak, yang sesuai dengan tonggak pencapaian perkembangan anak per kelompok usia

Mengacu pada kelima fungsi pengasuhan tersebut, semua fungsi bisa dilakukan oleh kedua orang tua, tanpa membedakan fungsi mana yang dilaksanakan oleh ibu maupun ayah. Anak justru membutuhkan keterlibatan penuh kedua orang tua dalam perjalanan pertumbuhan dan perkembangan mereka.

Pentingnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan, dipaparkan dalam sebuah journal yang merangkum berbagai studi yang bertemakan peran dan pengaruh ayah dalam pengasuhan (Promundo US 2020), yaitu:

  1. Ayah memiliki peran kritis dalam pertumbuhan fisik, kesehatan mental, serta kesejahteraan anak, khususnya di tahun-tahun awal usia anak.
  2. Keterlibatan aktif ayah dalam mengasuh anak melalui pengasuhan responsif dan stimulasi telah menunjukkan hasil yang positif dalam pembelajaran awal dan kognisi, serta perkembangan sosio-emosional anak usia dini.
  3. Dukungan ayah terhadap pembelajaran usia dini, bahasa, dan keaksaraan juga memiliki dampak yang sangat besar pada lintasan perkembangan anak, menentukan kesiapan dan pencapaian sekolah mereka dari pendidikan awal hingga dewasa.
  4. Ayah memiliki peran yang signifkan dalam pembentukan karakter anak melalui penerapan disiplin di rumah.
  5. Mengalami hukuman berat dari ayah sangat terkait dengan dampak negatif di sepanjang usia. Anak-anak yang mengalami kekerasan fisik dan emosional oleh orang tua atau pengasuh merasakan kesehatan fisik dan mental mereka terdampak negatif hingga dewasa (Know Violence in Childhood, 2017; UNICEF, 2014). Namun, meskipun ibu mungkin juga menggunakan bentuk hukuman dengan kekerasan, penggunaan hukuman yang keras oleh ayah secara diam-diam dikaitkan dengan hasil negatif di sepanjang umur dan oleh karena itu peran penting mereka dalam mencegahnya harus digarisbawahi.
  6. Sebaliknya, ketiadaan disiplin dengan kekerasan oleh ayah telah dikaitkan dengan peningkatan pembelajaran dini anak, perkembangan kognitif dan sosial emosional.
  7. Ayah yang menggunakan kekerasan terhadap istri/pasangannya, juga memberikan dampak pada perkembangan anak, baik dalam jangka pendek maupun panjang.  
  8. Paparan anak terhadap kekerasan pada ayah kepada ibu dapat memiliki konsekuensi kesehatan dan sosial jangka panjang yang serupa dengan pelecehan dan penelantaran anak
  9. Anak-anak yang menyaksikan kekerasan di rumah berisiko mengalami trauma, serta tertinggal dalam pembelajaran dan capaian di sekolah, kesulitan dalam mengembangkan empati, mengendalikan agresi, berinteraksi dengan orang lain, dan ketidakmampuan untuk terlibat dalam hubungan orang tua-anak yang sehat.
  10. Peran ayah dalam mendidik anak melalui pengasuhan yang bebas kekerasan memiliki dampak yang mendalam pada relasi anak di masa depan sebagai orang tua dan pasangan.
  11. Hubungan positif orang tua dan teladan ayah dalam pengasuhan dan perawatan tanpa kekerasan dapat menghentikan transmisi kekerasan antar generasi,
  12. Data survei rumah tangga dari banyak negara menyoroti pola di mana pria yang telah menyaksikan ayah mereka secara aktif terlibat dalam pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan saat tumbuh dewasa cenderung melakukan hal yang sama seperti ayah mereka dulu, memulai siklus hubungan dan pengasuhan yang sehat.
  13. Keterlibatan ayah dalam pengasuhan dan tugas-tugas perawatan anak, tidak hanya berdampak pada perkembangan anak, tapi juga memberikan manfaat pada kesehatan perempuan dan pemberdayaan ekonomi.
  14. Meskipun buktinya masih terbatas, keterlibatan ayah selama kehamilan telah berkorelasi dengan meningkatnya kemungkinan ibu untuk menerima perawatan yang baik pada prenatal trimester pertama, nutrisi, dan istirahat yang lebih baik, bantuan persalinan yang terampil dan perawatan paska kelahiran; serta penurunan pramaturitas, kematian bayi, dan depresi paska kelahiran.
  15. Para ibu yang merasa didukung oleh ayah dari anak-anaknya akan mengurangi stres dalam pengasuhan dan merasa tidak terlalu terbebani; mereka menjadi orang tua yang lebih positif dan memiliki kepuasan hidup yang lebih tinggi

Terlepas dari berbagai bukti yang meyakinkan tersebut, peran potensial laki-laki untuk untuk berkontribusi sebagai ayah dan pengasuh belum sepenuhnya disadari oleh berbagai pihak. Beberapa tantangan diantaranya karena terbatasnya harapan dan norma gender di masyarakat, ketiadaan kebijakan yang mendukung, dan pengabaian dari pemberi layanan kunci. Berbagai tantangan tersebut membentuk lingkungan yang mencegah persamaan tanggung jawab pengasuhan dan peningkatan keterlibatan ayah.

Saat ini di Indonesia terdapat aliansi yang beranggotakan enam organisasi* dengan nama Indonesia Joining Forces (IJF) yang berfokus pada pemenuhan hak anak. IJF telah memetakan manfaat dan praktik baik dari pola pengasuhan positif yang termasuk di dalamnya adalah peran penting Ayah dalam pengasuhan positif. Pengasuhan yang setara antara Ayah dan Ibu berdampak positif  dan mampu mengoptimalkan perkembangan anak di semua aspek yaitu kognisi, sosial-emosional, moral, dan spiritual anak.

Terlepas dari berbagai tantangan tersebut, dalam semangat memperingati hari lahir Ibu Kartini 2021. Kita dan setiap keluarga bisa mulai melangkah untuk mendukung keterlibatan yang setara dan seirama antara ayah dan ibu dalam pengasuhan anak. Kesetaraan dan konsistensi peran pengasuhan ayah dan ibu ini merupakan kontribusi nyata keluarga untuk membentuk generasi emas di masa depan, sekaligus menghargai perjuangan Ibu Kartini.

Sumber informasi:

  1. The role of fathers in Parenting for gender equality by Clara Alemann, Aapta Garg, & Kristina Vlahovicova, Promundo-US, 2020
  2. Modul Pengasuhan Responsif, seri 2 “Pengetahuan dan Keterampilan Pengasuhan Responsif, ChildFund International di Indonesia (sesi 1: Pernikahan dan Pembagian Peran dalam Keluarga), 2020.

* Anggota IJF terdiri dari: Childfund International di Indonesia, Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia), Save the Children Indonesia, SOS Children’s Village Indonesia, Federasi International Terre des Homes bersama Yayasan Pusat Kajian dan Perlindungan Anak/PKPA dan Wahana Visi Indonesia