Cerdas, Berhasil, Kuat: Investasi Pendidikan Bagi Remaja Perempuan di Masa Pemulihan COVID-19

Laporan baru Plan International menunjukan bahwa COVID-19 menyebabkan disrupsi bersejarah pada pendidikan sekolah menengah ke atas bagi perempuan di seluruh Asia Tenggara dan Pasifik dan peningkatan perkawinan anak dan kekerasan berbasis gender yang mengkhawatirkan.

Satu tahun sejak implementasi kebijakan lockdown COVID-19, Plan International, telah menyuarakan keprihatinan terhadap hasil pendidikan remaja perempuan di seluruh Asia Tenggara dan Pasifik. Penelitian baru oleh organisasi mengungkapkan banyak anak perempuan terpaksa putus sekolah, terbebani mengerjakan tugas-tugas rumah tangga, atau dipaksa untuk kawin dan bahkan mengalami kekerasan dalam rumah tangga.

Temuan ini terpapar dalam laporan terbaru Smart, Successful, Strong: the case for investing in Adolescent girls’ education in aid and COVID-19 response and recovery dan survei online oleh Plan International Australia, yang menyerukan pentingnya peningkatan komitmen terhadap Global Partnership for Education (GPE) guna membantu anak perempuan kembali ke sekolah.

Tentang Laporan

Laporan ini menekankan dampak COVID-19 pada remaja perempuan di Asia Tenggara dan Pasifik dan pengalaman mereka mengakses pendidikan menengah selama 12 bulan terakhir. Laporan ini merupakan kolaborasi antara kantor Plan International di Australia, Indonesia, dan Vietnam dengan dukungan dari mitra di seluruh wilayah Asia Pasifik.

Laporan ini mencerminkan suara anak perempuan melalui lokakarya yang kami lakukan di Vietnam, Indonesia, dan Kepulauan Kiribati bersama dengan survei online terhadap 445 anak perempuan berusia 15 hingga 19 tahun. Dengan menggabungkan survei remaja perempuan yang sebelumnya sudah ada di kawasan tersebut, laporan ini memperkuat suara perempuan. Data dan pandangan anak perempuan paling terbaru memberikan gambaran tentang beberapa faktor utama yang menghambat pemenuhan hak remaja perempuan atas pendidikan selama dua belas bulan terakhir.

Laporan ini juga memaparkan pandangan anak perempuan tentang sector pembangunan setelah pandemik COVID-19. Remaja perempuan dalam laporan tersebut menyerukan kepada donor dan pemerintah untuk membuat strategi dan berinvestasi dalam jalur yang akan mendukung anak perempuan untuk membangun kembali kehidupan mereka dan untuk mengubah sistem pendidikan.

Melalui laporan ini, Yayasan Plan International Indonesia bersama Plan International menyerukan donor dan pemerintah untuk bertindak sekarang, tidak hanya untuk menghentikan kemajuan pendidikan selama puluhan tahun tetapi juga untuk menciptakan dunia di mana anak perempuan terdukung oleh keluarga mereka, komunitas dan pemerintah mereka untuk memenuhi hak pendidikan 12 tahun.

Tentang data survey

Data survei didasarkan pada wawancara dan survei online yang dilakukan oleh 450 remaja perempuan berusia 15 hingga 19 tahun di 10 negara di Asia Tenggara dan Pasifik termasuk Indonesia, Vietnam, Filipina, Thailand dan Fiji, serta dari lokakarya yang diadakan dengan anak perempuan di Indonesia, Vietnam dan Kepulauan Kiribati.