Damaris : Petani Perempuan Muda Berdaya yang Berkontribusi pada Kelestarian Lingkungan

Kebun Cabai yang dikelola Damaris/ Foto oleh: Agus Haru

Data perkiraan dari Laporan Green Skills for Rural Youth in the Southeast Asia (Keterampilan Hijau untuk Pemuda Pedesaan di Asia Tenggara) mengungkapkan bahwa sektor pertanian menyediakan 2.434.000 pekerjaan ramah lingkungan, yang merupakan 62% dari total jumlah pekerjaan ramah lingkungan yang tersedia di Indonesia. Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa jumlah kaum muda yang tinggal di daerah pedesaan akan meningkat sekitar 37,000 (dengan mayoritas perempuan) dan pekerjaan ramah lingkungan diperkirakan akan meningkat dalam mendukung pengembangan daerah pedesaan. Seiring dengan konsekuensi negatif dari perubahan iklim dan degradasi lingkungan yang diproyeksikan akan meningkat, maka sangat penting untuk mengadaptasi keterampilan potensial pada sektor yang terdampak serius karena resiko menipisnya sumber daya alam untuk mencapai tujuan ekonomi yang lebih ramah lingkungan.

Mengetahui fakta dan diskursus di atas, Plan Indonesia menginisiasi kegiatan Green Skill 2.0 yang didasarkan pada pembelajaran dan keberhasilan dari proyek Green Skill sebelumnya untuk mempromosikan Keterampilan Hijau untuk Pemberdayaan Ekonomi Pemuda (ProGreen YEE atau Green Skill 1). Berdasarkan rekomendasi dari evaluasi akhir proyek, masih ada beberapa kebutuhan untuk replikasi dan scale up untuk mencapai hasil jangka panjang yaitu meningkatkan kapasitas perempuan muda dalam keterampilan hijau untuk pemberdayaan ekonomi. Didukung oleh The Body Shop dan bekerjasama dengan CV. Duta Agro Mandiri, Green Skills 2.0 bertujuan untuk menawarkan intervensi yang lebih maju dan peka gender dalam menggunakan fasilitasi pengembangan usaha mikro dan penciptaan lapangan kerja untuk perempuan muda di Kabupaten Timor Tengah Selatan dan Timor Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Dimulai sejak 2019, Proyek Green Skill 2.0 telah mendampingi sebanyak 12 kelompok petani muda yang mayoritasnya adalah perempuan muda. Para petani muda ini menanam jenis tanaman hortikultura seperti sawi putih, tomat, cabai, buncis, dan kol. Sampai saat ini, ada delapan kelompok yang sudah melakukan panen dan mendapatkan penghasilan beragam, mulai dari 1,700,000 hingga 12.000.000 rupiah.

Damaris (28) adalah salah satu petani muda perempuan yang merupakan alumni proyek Green Skill 1.0 dan kembali mengikuti Green Skill 2.0. Damaris telah mendapatkan keterampilan dasar bertani hortikultura, mulai dari persiapan lahan, bibit, pemeliharaan, masa panen, pasca panen dan juga pengelolaan keuangan dalam kelompok. Di Green Skill 2.0 ini, Damaris akan mendapatkan dukungan pendirian perusahaan hijau melalui pelatihan pembentukan entitas hijau terdaftar serta bantuan dan pelatihan bisnis intensif dan keterampilan hijau yang peka gender. Dalam tahap lanjutan ini, diharapkan terjadi peningkatan kapasitas keterampilan hijau yang menekankan pada penguatan kerja tim dan kolaborasi, pengembangan usaha mikro, agribisnis, pemasaran serta hubungan rantai nilai bisnis.

“Saya bersyukur sekali bisa mendapatkan kesempatan bergabung dalam kelompok tani hortikultura ini, saya sebelumnya tidak bisa berbicara di depan umum dan juga masih buta sekali dengan yang namanya bertani hortikultura yang ramah lingkungan namun saat ini saya mendapatkan manfaat yang luar biasa dari proyek ini, bertambahnya penghasilan, pengalaman dari yang belum bisa menjadi bisa.”

Sebelum bergabung di proyek Green Skill, Damaris menuturkan dirinya seorang yang pemalu dan susah untuk berbicara di depan umum. Perlahan, ia berhasil mengatasi hal itu dan bersama dengan 6 orang lainnya dalam kelompok petani muda Oliftataf dapat menghasilkan pendapatan sebesar

10,600,000 dalam satu kali panen. Damaris senang sekali dapat menjadi bagian dari kelompok petani muda yang mulanya beranggotakan 19 orang ini, namun kini sudah berkembang menjadi 6 kelompok baru yang masing-masing kelompok beranggotakan 7 orang.