Akses Toilet yang Inklusif dan Aman Jadi Kunci Gerakan HIMATRAS

Nama saya Muhammad Imran. Orang sering memanggil saya dengan sebutan “Mas Baim”. Saat ini saya menjabat sebagai ketua Himpunan Masyarakat Tuna Netra Sumbawa (HIMATRAS) di Nusa Tenggara Barat. Gangguan penglihatan yang saya alami ini bukan semenjak kecil, namun sejak saya berusia 30 tahun. Saya mengalami glaukoma secara berangsur-angsur selama 5 tahun hingga menyebabkan gangguan penglihatan total.

HIMATRAS berdiri dengan tujuan memberdayakan penyadang disabilitas netra sekaligus memperjuangkan hak-hak mereka. Salah satu hak yang diperjuangkan oleh HIMATRAS adalah mengenai akses terhadap air, sanitasi, dan kebersihan. Selama ini, orang miskin, penyandang disabilitas, dan kelompok termarjinalkan lainnya menghadapi hambatan dalam mengakses layanan sanitasi. Tidak jarang penyandang disabilitas seperti kami merasa ditinggalkan dalam pembangunan atau perbaikan layanan sanitasi.

Padahal, akses universal terhadap air bersih dan sanitasi merupakan salah satu tujuan dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Untuk mencapai tujuan tersebut, harus dipastikan “no one left behind” atau tidak ada yang boleh tertinggal di belakang, termasuk penyandang disabiltas. Hal ini bahkan sudah diamanahkan oleh pemerintah dalam UU Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas pada Pasal 74 yang menyebutkan bahwa Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah wajib menjamin akses bagi Penyandang Disabilitas terhadap pelayanan air bersih.

Yayasan Plan International Indonesia (Plan Indonesia) melalui proyek Water for Women (WfW) membantu kami untuk belajar cara merefleksi dan mengadvokasi kebutuhan kami. Berdasarkan pengalaman dan refleksi yang dialami tiap orang di kelompok kami, tidak sedikit yang mengalami kesulitan ketika mengakses toilet umum. Sebagai contoh, tidak ada penanda menuju toilet dan pada pintu, lantai licin, dan tidak ada hand rail atau pegangan.

Oleh karena itu, dalam rangka mewujudkan dan memastikan sanitasi yang layak untuk semua, kami mencoba mengkomunikasikan apa yang menjadi mimpi kami untuk adanya akses toilet yang aman. Saat ini, target advokasi pertama kami adalah Puskesmas unit 1 Seketeng, Kabupaten Sumbawa.

Mengapa puskesmas? Karena puskesmas merupakan salah satu tempat yang paling banyak diakses masyarakat termasuk penyandang disabilitas, perempuan hamil, anak-anak, dan lansia.

Rencana kami mendapat sambutan baik dari kepala puskesmas karena sejalan dengan rencana puskemas dalam menerapkan layanan yang ramah untuk penyandang disabilitas, lansia, anak-anak, dan perempuan. Untuk memberi gambaran kepada Kepala Puskesmas, kami melakukan diskusi, memberi masukan dan membawa foto contoh toilet yang mudah dijangkau dan aman. Selain itu, kami mengajak beliau untuk melakukan kunjungan ke SLB negeri 1 Sumbawa yang sebelumnya sudah memiliki fasilitas toilet yang aman dan aksesibel. Dari hasil kunjungan dan masukan yang kami sampaikan kepada beliau, bulan Desember ini rencananya akan dilakukan renovasi toilet di Puskesmas Unit 1 Seketeng untuk lebih aman dan bisa diakses oleh semua orang.

“Kami bukanlah objek, kami dapat menjadi subjek dan lebih berdaya. Yang kami butuhkan saat ini adalah akses dan kesempatan untuk terlibat dalam pengambilan keputusan yang berdampak bagi kami”, kata Muhammad Imran saat diskusi di Kantor Himatras, Sumbawa (Plan Indonesia/Jatmoko)