Adaptasi Penyandang Disabilitas di Tengah Pandemik Covid-19

Pada 11 Maret 2020, WHO menetapkan COVID-19 sebagai pandemik. Kondisi ini jelas tidak boleh diremehkan karena hanya ada beberapa penyakit saja sepanjang sejarah yang digolongkan sebagai pandemi. Sejak masuk ke Indonesia pada awal Maret,  hingga 23 April 2020 sudah ada sebanyak 7.775 orang positif terinfeksi COVID-19, 960 orang sembuh, dan 647 orang meninggal.

Dampak susulan yang lebih besar akibat oleh virus tersebut adalah lumpuhnya beberapa sektor, di antaranya: manufaktur, pariwisata, transportasi, perdagangan, dan konstruksi. Akibatnya, banyak terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK) dan berhentinya beberapa usaha kecil menengah (UKM).

Salah satu kelompok yang sangat merasakan dampaknya adalah penyandang disabilitas. Hal ini juga dialami kelompok disabilitas mitra Plan Indonesia di Sumbawa dalam proyek Water for Women yang didukung oleh AusAID.

“Semenjak adanya pandemik COVID-19, usaha pijat kelompok penyandang disabilitas tutup total. Kami tidak memiliki sumber pendapatan apapun, karena tidak ada yang berani datang untuk pijat karena takut tertular virus tersebut,” kata Baiq Hadijah saat ditemui di kantor Lembaga Persatuan penyandang Disabilitas Samawa (LPPDS).

Para penyandang disabilitas tidak putus asa dengan kondisi sulit saat ini. “Kami dengan beberapa penyandang disabilitas yang memiliki kemampuan menjahit mencoba merintis usaha pembuatan masker. Awalnya untuk kebutuhan kami sendiri, tetapi ternyata banyak permintaan dari luar. Pesanan yang paling banyak saat ini berasal dari Yayasan Plan International Indonesia yang memesan sebanyak 1.440 masker dengan bahan kain katun 3 lapis sesuai rekomendasi Kementerian Kesehatan,” tutur Baiq Hadijah.

Baiq Hadijah mengatakan bahwa pesanan dari Plan Indonesia sangat membantu mereka untuk mendapat penghasilan selama adanya penyebaran pandemic COVID-19. Beliau juga memberdayakan seluruh penyandang disabilitas yang ada di kelompoknya. Bagi mereka yang memiliki kemampuan menjahit maka bertugas untuk menjahit masker. Sedangkan yang tidak memiliki kemampuan tersebut maka bertugas untuk memotong kain, mencuci dan menyetrika masker yang siap digunakan. Beliau berharap kondisi saat ini segera pulih agar kehidupan kelompok penyandang disabilitas kembali normal dengan melakukan aktivitas seperti semula (Plan Indonesia/Jatmoko).