INFOGRAFIK

"Dari Plan kami dapat informasi yang enggak didapat dari sekolah, seperti tentang menstruasi. Kami juga dapat informasi bahwa anak perempuan seharusnya punya hak yang sama dengan anak laki-laki untuk sekolah. Karena sering ikut kegiatan Plan sekarang saya suka ingatkan teman-teman agar jangan suka sembarang pukul atau ancam. Itu salah satu bentuk kekerasan." Tien, 14 tahun, Sikka (anak sponsor Plan)

INFOGRAFIK

    1. Berdiri pada tahun 1937 dengan nama “Foster Parents Plan for Children in Spain”, bertujuan membantu anak-anak korban perang saudara di Spanyol.

    2. 1940 Memperluas wilayah bantuan ke Perancis, Belgia, Italia, Belanda, Jerman, Yunani, Polandia, Cekoslavia, dan Cina

    3. 1950 Berubah nama menjadi “Foster Parents Plan Inc.”. Tujuan organisasi berubah menjadi memberikan perubahan dan harapan bagi kebutuhan anak-anak.

    4. 1960 Mulai masuk ke wilayah Asia dan Amerika Latin.

    5. 1969 Mulai beroperasi di Yogyakarta sejak 2 September dengan nama “Foster Parents Plan International” (FPPI).

    6. 1970 Berubah nama menjadi “Plan International”. Wilayah bantuan menyebar ke Amerika Latin, Karibia, Asia, dan Afrika

    7. 1978 Memperluas area kerja ke Provinsi Sulawesi Selatan, termasuk Makassar (Ujung Pandang), Gowa, dan Takafar.

    8. 1980 Jangkauan kerja melenyebar hingga Jeneponto, Bantaeng, Selayar, dan NTB (Lombok, Bima, Dompu, dan Sumbawa).

    9. 1990-2000 Nama FPPI berubah menjadi Plan International Indonesia. Wilayah kerja memasuki NTT dan Jawa.

    10. 2012 Mengkampanyekan kesetaraan gender dan hak anak perempuan melalui kampanye ‘’Because I’m A Girl.”

    11. 2016 Mendorong 1 juta anak perempuan dapat Belajar, Memimpin, Memutuskan, dan Berkembang

KAMI MEMPERJUANGKAN SEBUAH DUNIA YANG ADIL DAN MENGEDEPANKAN HAK ANAK DAN KESETARAAN BAGI ANAK PEREMPUAN.

MENGAPA ANAK PEREMPUAN

Ada lima kesenjangan utama dalam pemenuhan hak anak dan kesetaraan anak perempuan di Indonesia:

  1. Buruknya pelayanan kesehatan dan pengasuhan anak usia dini.

  2. Tingginya tingkat kekerasan terhadap anak, termasuk kekerasan yang berbasis gender.

  3. Terbatasnya layanan informasi tentang kesehatan reproduksi untuk remaja dan kaum muda, serta tingginya perilaku seksual berisiko.

  4. Rendahnya tingkat pendidikan serta keterampilan untuk memasuki dunia kerja di kalangan kaum muda, terutama perempuan.

  5. Minimnya kesempatan bagi anak-anak muda dan kaum muda, terutama perempuan, untuk berpartisipasi dalam pengambilan keputusan.

  6. Plan Internasional Indonesia berkomitmen untuk membantu mengatasi persoalan-persoalan tersebut serta berkontribusi dalam pencapaian
    Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs).

BA
CK