Mengakhiri Kerja Paksa dan Perdagangan Manusia di Industri Perikanan

“Fandi setuju untuk bekerja di kapal penangkap ikan karena sejumlah uang yang dijanjikan. Tapi pada akhir masa kerjanya, ia menerima kurang dari yang dijanjikan. SAFE Seas berupaya untuk memberhentikan praktik-praktik seperti ini dan menghentikan adanya Fandi-Fandi lainnya di Indonesia dan Filipina.”

Fandi* awalnya direkrut untuk bekerja di kapal penangkap ikan di Indonesia selama enam bulan. Tanpa ia sadari, bekerja di kapal penangkap ikan bisa jadi sangat membahayakan, dengan kondisi di atas kapal yang seringkali menantang, terutama terkait dengan ruang dan kebersihan. Meskipun begitu, Fandi dijanjikan dengan upah yang besar untuk bekerja di atas kapal angkut 200 Gross Tonage (GT) Purse Seine.

Ketika kontrak kerja enam bulan Fandi akan berakhir, bosnya memberikan upah sebesar dua juta rupiah (USD$ 143). Jumlah ini tidak sesuai dengan yang awalnya dijanjikan. Ketika Fandi mempertanyakan jumlah yang dia dapat, dia menemukan fakta bahwa bosnya memotong upahnya untuk keperluan operasional, seperti: bensin, Sistem Monitoring Kapal (VMS), izin, dan makanan di atas kapal. Hal ini tentunya tidak sesuai kesepakatan di awal. Namun, tidak adanya kontrak membuat Fandi tidak bisa berbuat apa-apa.

Fandi bukan satu-satunya korban. Sebanyak 40 kru/ awak kapal lainnya juga bernasib sama. Dia tidak tahu harus menceritakan pengalamannya kepada siapa hingga Fandi bertemu dengan Margono*.

Margono adalah seorang Fish Observer yang ditugaskan di kapal ikan tempat Fandi bekerja. Fish Observers memiliki tanggung jawab untuk mengawasi keamanan dan kepatuhan perikanan komersil. Mereka dilatih untuk mencari praktik penangkapan ikan yang illegal, tidak tercatat, dan tidak diatur langsung di atas kapal karena mereka ditempatkan di sana. Bukan sebuah kebetulan jika pada akhirnya Margono dapat menghubungkan Fandi dengan proyek SAFE Seas terkait keluhannya. Margono baru saja menerima pelatihan mengenai indikator dari kerja paksa dan perdangangan manusia di industry perikanan melalui proyek Safeguarding Against and Addressing Fishers’ Exploitation at Sea (SAFE Seas). SAFE Seas merupakan sebuah proyek yang fokus untuk melawan eksploitasi pekerja di atas kapal perikanan dan berusaha mengurangi faktor-faktor yang memungkinkan hal tersebut terjadi. SAFE Seas bekerja sama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan dan Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap untuk memasukkan elemen pengawasan tenaga kerja sebagai tanggung jawab Fish Observers.

Masih banyak masalah yang berkaitan dengan ketenagakerjaan di atas kapal penangkap ikan yang belum ditangani oleh pemerintah karena tidak adanya mekanisme pelaporan dan rujukan yang resmi. Masalah yang paling sering dihadapi oleh awak buah kapal (ABK) adalah pelanggaran kontrak (bahkan seringkali tidak ada sama sekali), kurangnya upah yang dibayarkan atau asuransi, jam kerja yang berlebihan, makanan dan air yang tidak mencukupi, dan rendahnya pertimbangan keamanan dan kesehatan. Seringkali, hanya ABK yang punya koneksi pribadi yang bisa mendapatkan pertolongan. Proyek SAFE Seas kini berkerja sama dengan pemerintah untuk mengembangkan kebijakan untuk melindungi ABK dari praktik kerja paksa.

Dengan kebijakan dan praktik yang memadai, ABK seperti Fandi dapat lebih mudah melaporkan keadaan tidak aman dan perlakuan tidak adil yang dia terima. Selain itu, Margono sebagai Fish Observer dapat menangani hal tersebut dengan tepat. Cerita ini bukanlah akhir dari perjuangan. Pemerintah selaku pembawa tugas bertugas untuk memastikan pekerja seperti Fandi terlindungi dan hak-haknya dipenuhi di atas kapal.

*Nama disamarkan untuk melindungi identitas individu


Photo by: Amrullah/ SAFE Seas

Margono (pointing) shares his experience as a Fish Observer during technical annual meeting of the Fish Observers in Tegal on September 19-20, 2019.

Oleh: Roosa Sibarani

Editor: Holy

Alih Bahasa: Hanna Vanya

Share artikel ini :

BA
CK