57 Kilometer Langkah Kaki dan Teriknya Matahari

Sabtu, 19 Oktober 2019 pagi hari, Pantai Batu Hijau di Nangapanda sudah ramai, tak seperti biasanya. 28 pelari sedang bersiap menyusuri 57 km, mulai dari Nangapanda dan berakhir di Lapangan Berdikari, Nagekeo. Kegiatan lari ini merupakan charity run atau lari untuk amal bertajuk “Jelajah Timur-Run for Equality”, yang bertujuan untuk mendukung sarana air bersih sedikitnya untuk 2 desa di NTT.



Saat ini, di beberapa desa anak perempuan masih mengemban tugas rumah tangga untuk mengambil air bersih. Mereka harus berjalan antara 30 menit hingga 2 jam untuk mencapai sumber air terdekat. Hal ini dilakukan 2-3 kali setiap harinya. Berbagai risiko pun harus dihadapi dalam perjalanan mengambil air. Kelelahan saat belajar di sekolah, masalah sanitasi, hingga risiko kekerasan. Berlatar belakang hal ini, kegiatan lari untuk amal “Jelajah Timur- Run for Equality” digelar. Para pelari yang bergabung dalam kegiatan ini berasal dari berbagai kota, Jakarta, Bali, Surabaya, dan kota-kota lainnya.

Rute lari melalui berbagai medan, mulai dari pantai, perbukitan, sawah, hingga pemukiman warga. Para pelari disuguhi berbagai pemandangan di berbagai rute yang dilaluinya. Pada dua kilometer pertama, para pelari menghadapi tanjakan berkelok namun dekat dengan bibir pantai, mengantarkan mereka untuk menyaksikan matahari terbit sambil berlari. Jalan menanjakpun masih terus ditemui hingga 29 km pertama. Terik mataharipun menjadi tantangan tersendiri.

“Acara lari ini serba luar biasa. Panasnya yang luar biasa hingga menyentuh 40°, medan lari, tanjakannya luar biasa, pemandangannya sepanjang rute juga luar biasa, antusias masyarakat lokal, support pemerintah daerah, dan tim panitia, semuanya luar biasa,” Ucap Gus Dar, salah satu pelari asal Bali yang berhasil mencapai garis finish 57 km.

Jalur berkelok dan menanjak yang dilalui adalah jalur sehari-hari yang dilewati anak dan perempuan untuk mengambil air bersih setiap harinya. Terik panas telah menjadi teman dekat ketika berjalan menuju titik air. Sehingga saat para pelari melewati desa, masyarakat tidak segan memberikan semangat dan menyapa. Mereka berteriak, bersorak, melambaikan tangan, menyampaikan dukungan agar para pelari terus bersemangat hingga titik finish. Para pelari ikut merasakan apa yang dirasakan oleh anak-anak di Nagekeo setiap harinya.

Tiba di titik 29 km, para pelari beristirahat sejenak untuk memulihkan tenaga dan kondisi fisik. Warga pun menjamu dengan suka cita dengan hidangan khas Nagekeo yang dimasak para mama, buah-buahan, minuman isotonic seperti Mizone, Aqua, dan air kelapa segar. Tim fisioterapis dari Ikatan Fisioterapis Indonesiapun bersiaga untuk membantu para pelari melakukan peregangan.


Jarak tempuh Jelajah Timur – Run for Equality memang terbagi dua, yaitu 29 km dan 57 km. Para pelari dapat memilih salah satu jarak tersebut. Selain tim fisioterapis, water station atau posko air juga tersedia setiap 5 km sepanjang rute lari.  

Melewati titik 29 km, matahari sudah semakin tinggi. Suhu hari itu mencapai 40°. Namun, pemandangan bukit-bukit kuning keemasan semakin membakar semangat para pelari. Panas tak menyurutkan langkah mereka untuk misi yang lebih besar. Kilometer yang ditempuh siang itu untuk membantu sarana dan air bersih. Lebih jauh dari itu, untuk mendorong kesetaraan anak perempuan yang sering jadi pengemban tugas. Agar anak-anak perempuan tidak lagi menghadapi risiko kelelahan saat belajar di sekolah, sanitasi yang terbatas, ataupun risiko keamanaan saat berjalan di daerah rawan.  

Titik finish di Lapangan Berdikari dipenuhi dengan warga dan anak-anak. Dengan mengenakan pakaian adat, mereka berdiri memadati sepanjang gerbang masuk dan menyambut para pelari dengan riuh ramai. Carla Felany dan Endang Suryani adalah dua pelari pertama yang tiba di garis finish. Keduanya pelari perempuan, mereka berlari masuk dengan bergandengan tangan dan disambut meriah oleh anak-anak. Para pelari lainnya menyusul masuk satu-persatu. Memasuki gerbang finish, para pelari disambut dengan meriah, mendapatkan pelukan hangat, dan dikalungkan selendang khas NTT. Tarian khas NTT ikut meramaikan hadirnya 28 pelari dan menutup perayaan hingga gelap sore.


Apresiasi tertinggi dan terimakasih kepada para pelari dan sahabat yang telah memberikan dukungan. Terima kasih telah berjuang bersama untuk membantu mengurangi beban dan risiko yang dihadapi anak-anak perempuan di NTT. Semoga kelak mereka tidak perlu lagi berjalan jauh untuk mengambil air bersih, dapat menikmati berbagai akses termasuk pendidikan untuk masa depannya. Jelajah Timur – Run for Equality adalah permulaan. Nantikan kegiatan lanjutannya!

 

Oleh: Raisha Fatya

Share artikel ini :

BA
CK