Keterlibatan yang Lebih Luas dan Bermakna: Ridwan dan Perannya Mempromosikan Peran Laki-Laki dan Partisipasi Kaum Muda

“Selama saya bergabung di YAP banyak sekali nilai-nilai yang saya dapat dari Plan dan mengakar di diri saya” ucap Ridwan (20 tahun), anggota Youth Advisory Panel (YAP) Plan Indonesia asal Jakarta. 

Sejak tahun 2014, Ridwan telah aktif menjadi penasihat muda untuk memberikan masukan strategis baik di program maupun operasional Plan Indonesia. Pengalaman Ridwan di YAP membuka pintu-pintu lain untuk Ridwan terlibat dalam proyek dan kegiatan yang bertujuan untuk pemenuhan hak anak dan kesetaraan. Salah satunya adalah kontribusi strategis Ridwan di Forum Anak Nasional (FAN), ruang partisipasi anak yang dinaungi Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA). 

“Selama saya bergabung di YAP, saya bukan hanya diberi kesempatan untuk memberikan masukan dan rekomendasi untuk program program Plan Indonesia, tapi saya juga diberikan ilmu baru yang berharga. Saya belajar tentang pentingnya partisipasi anak dan kaum muda, tentang hak anak, dan hak asasi manusia. Pelajaran-pelajaran itulah yang saya terapkan dalam kehidupan saya dan organisasi yang saya terlibat didalamnya.” Sambung Ridwan saat sesi bincang-bincang di sela kegiatan Youth Advisory Panel Annual Meeting yang diselenggarakan di Jakarta pada 5-9 Agustus 2019. 

Saat awal Ridwan mengenal Plan Indonesia, ia mengikuti kegiatan pelatihan Child Centrered Community Development (CCCD). Melalui CCCD ia mulai mengenal dan mempromosikan 4 pilar partisipasi anak di beragam inisiatif yang dia ikuti. 

“Terdapat 4 pilar partisipasi anak (walaupun sekarang sudah ada 5), yaitu anak dikapasitasi, anak diajak observasi dan melihat kondisi lapangan, anak dilibatkan dalam pengambilan keputusan (misalnya aktif dilibatkan dalam rencana aksi daerah, aksi nasional, dan aktif di Musyawarah Rencana Pembangunan), dan yang terakhir anak dilibatkan untuk meninjau apakah rekomendasi dan keterlibatannya ditindaklanjuti dalam implementasi atau kebijakan.” Hal inilah yang kemudian diusulkan Ridwan kepada FAN, yang kemudian menjadi bab tersendiri dalam Revisi Pedoman Implementasi FAN. 

Pengetahuan dan pengalaman yang didapat memotivasi Ridwan untuk aktif di lebih banyak organisasi, termasuk perannya sebagai sekretaris Yayasan Rumah Kita dan anggota di Komunitas Anak Panti. Menurutnya, pengalaman bertemu dengan teman-teman dari Lembata, Kefamenanu, dan daerah dampingan Plan Indonesia di luar pulau Jawa memberikan banyak sekali pelajaran. Ia jadi memahami beragam isu dan kebutuhan kaum muda di luar daerahnya. 

Ridwan berharap agar Plan Indonesia terus memperkuat upaya melibatkan kaum muda secara bermakna dalam pengambilan keputusan, baik dari tingkat program, hingga pengambilan keputusan strategis di internal Plan Indonesia. Tak hanya itu, ia ingin melihat peran kaum muda yang lebih kuat dalam mengadvokasikan isu-isu kaum muda ke Pemerintah serta memobilisasi lebih banyak kaum muda untuk perubahan sosial. 

Diskusi malam itu ditutup dengan pembahasan isu kesetaraan gender. Ridwan berharap agar laki-laki dapat memberikan ruang dan kesempatan kepada perempuan. Menurutnya dalam konteks kesetaraan gender di Indonesia, kaum laki-laki lah yang paling berperan, sebagai motor untuk mempromosikan budaya kesetaraan di masyarakat. “Jadi saya sangat berharap agar laki-laki mau memberikan kesempatan yang setara untuk kaum perempuan. Saya juga nggak mau lagi tuh ada diskriminasi untuk kaum marjinal, baik dia orang dengan disabilitas, anak jalanan, atau diskriminasi berlandaskan agama. Semua orang harus diberikan hak dan kesempatan yang setara. Bukalah forum-forum yang inklusif” ujar Ridwan.


Oleh: Raisha Fatya

Share artikel ini :

BA
CK