Keseharian Unsiyah yang Bekerja di Respons Tanggap Darurat | World Humanitarian Day

Saya masih ingat, sewaktu awal-awal sampai Sulawesi Tengah, November 2018 silam. Bekerja untuk anak-anak adalah hal yang menyenangkan dan luar biasa. Mungkin akan menjadi renungan bersama; apabila ilmu dapat mengubah kenyataan sosial, maka aksi kemanusiaan dapat menyelamatkan kehidupan.

Saya merasakan pengalaman yang cukup personal sekaligus emosional pada beberapa fase selama bekerja untuk emergency response Plan Indonesia. Fase pertama atau sehari setelah tiba di Palu, kami melakukan kegiatan bersama anak yang biasa kami sebut “Mobile Recreational Activities/MRA”. Di sana kami memberikan dukungan psikososial bagi anak-anak setingkat Sekolah Dasar. Saat MRA, kami berada di ruang kelas yang kosong; tanpa kursi dan meja. Kursi dan meja sudah hancur bersama dengan ruang kelas lain yang runtuh pasca bencana. Di ruang kelas yang kosong dengan beralaskan tikar kami berkenalan, menyanyi, bermain tebak-tebakan, dan berfoto bersama di akhir kegiatan sebelum berpisah.

Saat itu, kami juga sekaligus melakukan kaji/ assessment untuk rencana pembangunan sekolah semi permanen. Sepulang dari kegiatan MRA, kami sangat merekomendasikan untuk tempat tersebut dibangun sekolah semi permanen agar anak-anak, baik anak perempuan maupun anak laki-laki dapat kembali sekolah, ceria dan bangkit untuk masa depan lebih baik.

Ternyata, pengalaman pertama ini adalah bagian dari pintu-pintu perjalananan luar biasa.

Pada masa selanjutnya, kami melakukan konsultasi anak. Dari sana, kami mendapati suara dan pendapat langsung dari anak-anak tentang apa yang mereka butuhkan dan inginkan. Pasca bencana, anak-anak yang terdampak ingin kembali sekolah, memakai seragam sekolah, buku-buku pelajaran dan bermain bersama teman-teman di sekolah.

Beberapa waktu kemudian, ketika Plan Indonesia benar-benar mendengarkan suara-pendapat anak-anak; sekolah semi permanen telah dibangun di tempat kami berkegiatan MRA dulu. Kamipun membagikan seragam sekolah di tempat kami melakukan konsultasi anak dan tentu saja di beberapa tempat lain yang menjadi wilayah kerja Plan Indonesia. Ada yang menetes dari kedua mata saya, saya terharu dan bahagia. Saya membayangkan anak-anak pasti senang dan semakin semangat untuk kembali sekolah.

Saya melihat anak-anak baik anak perempuan maupun anak laki-laki mau bangkit bersama dan memajukan Sulawesi Tengah.

Pekerjaan saya sebagai Perlindungan Anak dalam Situasi Darurat memang menempatkan saya pada situasi kerja yang sangat dinamis. Meskipun begitu itu tidak menjadi masalah karena kehadiran saya adalah panggilan jiwa untuk membantu anak-anak Sulawesi Tengah tetap memperoleh haknya dan perlindungan khusus meskipun dalam situasi tanggap darurat atau pasca bencana.

Sehari-hari, kami melakukan kegiatan bersama anak-anak berupa dukungan psikososial dalam MRA untuk memulihkan kembali keadaaan psikologis anak-anak. Kemudian, memonitoring pekerjaan mitra yang memberikan dukungan psikososial terhadap anak-anak, yaitu memastikan semua pihak yang berkegiatan bersama anak adalah ramah anak, aman dari kekerasan, dan memenuhi aspek-aspek perlindungan anak. Kamipun membangun mekanisme perlindungan anak di level desa. Mekanisme Perlindungan Anak Berbasis Masyarakat ini menjadi perlu untuk memastikan adanya perlindungan khusus bagi anak-anak pasca bencana. Karena, kita memahami bahwa pasca bencana anak-anak adalah bagian dari kelompok paling rentan terutama anak perempuan.

Tidak hanya itu, kami juga memberikan dukungan pencatatan akta kelahiran, mengingat prevalensi perkawinan usia anak pasca bencana justru semakin meningkat dibandingkan pada situasi normal. Seringkali karena tidak memilikinya akta kelahiran menjadi sangat rentan untuk menikahkan anak perempuan di bawah umur dengan alasan kurang kuatnya ekonomi pasca bencana. Untuk dampak yang berkelanjutan, kamipun berkolaborasi dengan pemerintah untuk menciptakan keputusan, kebijakan, dan peraturan-peraturan yang mendukung pada terpenuhinya hak anak-anak dan kesetaraan bagi anak perempuan.

Pada fase terakhir emergency response di mana ditutup dengan digelarnya Festival Anak Pasigala, yaitu menampilkan secara khusus sebagian besar anak-anak dampingan Plan Indonesia; ada yang membuncah pada perasaan saya; haru dan bahagia. Rasa-rasanya melihat anak perempuan dan anak laki-laki Sulawesi Tengah yang kian pulih dari hari ke hari membuktikan bakat mereka melalui penampilan yang membanggakan yang dihadiri oleh Sekretaris Daerah Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah.

Anak-anak penyintas bencana Sulawesi Tengah yang pulih dari keterpurukan, mengembalikan senyum dengan tepuk tangan riuh pada penampilan seni yang luar biasa. Kita percaya pada kekuatan anak-anak terutama anak perempuan dapat mengubah situasi dan kondisi ke arah lebih baik dan maju. Anak perempuan, sebagaimana anak-anak yang lain; unik dan menggemaskan. Berinteraksi dengan anak-anak selalu memberikan energi positif dan semangat baru. 


Oleh: Unsiyah Marhamah

Share artikel ini :

BA
CK