Cerita Nona: Peran Pendidikan Dalam Situasi Darurat | World Humanitarian Day

Nama saya Herlina, namun akrab dipanggil Nona. Bulan Agustus 2019 ini menandai genap satu tahun saya bekerja dalam proyek respons tanggap bencana. Tanggal 25 Agustus 2018 saya memulai perjalanan saya dari Nagekeo ke Lombok, bergabung menjadi tim distribusi Education in Emergency (EiE) untuk respons gempa Lombok. Berlanjut kerja saya ke Sulawesi Tengah dengan tim EiE sampai sekarang.

 

Cepat beradaptasi, saya rasa adalah salah satu kunci penting jika Anda bekerja dalam situasi darurat/emergency. Kita harus cekat, agar penerima manfaat bisa mendapat bantuan yang tepat dan cepat. Kita harus berkoordinasi, dalam klaster kami berdiskusi agar semua kebutuhan masyarakat terdampak bisa terpenuhi. Kita harus teliti, inisiatif, dan aktif, agar semua proses distribusi bantuan dan kegiatan memberikan dampak positif. Kita harus saling mendukung, karena dengan bekerja sama pekerjaan ini bisa rampung.

 

Pendidikan dalam situasi darurat berperan penting menyelamatkan nyawa dari warga, terutama anak dan kaum muda yang telah terdampak. Adanya pendidikan bisa mengajarkan anak dan kaum muda lebih siap memitigasi jika bencana susulan terjadi. Juga memberikan pengetahuan tentang keamanan dan proteksi bagi anak, bagaimana mereka harus makan makanan yang bergizi, dan memperhatikan sanitasi untuk kesehatan diri. Adanya pendidikan juga memberikan perasaan kembali ke situasi normal, yang sangat penting dipulihkan demi kestabilan kondisi psikososial anak.

 

Perjalanan respons bantuan pertama saya (untuk durasi waktu yang panjang) adalah membantu distribusi shelter kit, hygiene kit, school kit dan solar lantern di Lombok Utara. Karena hari itu kali pertama saya melihat Lombok pasca gempa, masih ingat rasa harunya saya melihat rumah-rumah runtuh tak berbekas. Di hari itu, saya sadar yang saya lakukan bisa menyelamatkan kelangsungan hidup masyarakat yang terdampak. Hari itu, berkahnya serorang bapak yang runtuh rumahnya – yang ia bangun selama 8 tahun hasil bekerja jadi TKI – tergantikan dengan tenda darurat. Hari-hari saya bekerja juga penuh bahagia, banyak doa-doa baik yang terpanjat dari warga yang menerima bantuan-bantuan dari Plan Indonesia. Saya ingat, suatu hari seorang bapak memegang tangan saya erat setelah saya memberikannya solar lantern. Katanya ia sedang berdoa. Saya teringat bagaimana haru bahagianya warga di sana saat menerima lampu yang selanjutnya jadi sumber cahaya.

 

Belum lagi kaki-kaki kecil yang berlari menyambut saat school kit yang berisi tas, buku, dan alat tulis, diturunkan dari mobil logistik. Mereka semua tersenyum girang sekali. Mereka semua salami tangan-tangan kami, tim distribusi. Mereka semua berterima kasih dan berjanji akan berlajar dengan baik dan lebih rajin lagi. Walau saat itu kelas diselenggarakan di bawah pohon mangga, tapi kami semua bahagia. Hari itu ditutup lagi dengan panjatan doa untuk semua anak, tim distribusi, dan warga yang terdampak gempa.

 

Pada saat situasi darurat terjadi, tentunya anak, terutama anak perempuanlah yang paling merasakan dampaknya. Mulai dari keterbatasan akses, kekurangan air bersih, juga kekurangan perlengkapan sanitasi. Bisa terbayang kan bagaimana jika seorang perempuan sedang menstruasi? Melalui intervensi yang dilakukan oleh Plan Indonesia, terutama tim EiE, kami bukan saja memberikan perlengkapan sekolah. Namun kami bertanggung jawab untuk mengedukasi mereka, tentang apa-apa yang mereka harus tahu dalam situasi emergency, bagaimana mereka harus tetap menjaga kebersihan diri, juga tetap perhatikan kesehatan reproduksi dan sanitasi.

 

Dalam respons, kami juga tidak bekerja sendiri, karena kami mau dampak yang diberikan bisa berlanjut. Kami melibatkan kaum muda dalam proses perencanaan bantuan, eksekusi, dan juga pengumpulan umpan balik saat tim EiE mengintervensi di lokasi. Selain itu, perhatian khusus kami tekankan untuk aspek keamanan bagi anak, pembuatan toilet terpisah baru anak kali-laki dan perempuan, perlengkapan sanitasi untuk menstruasi bagi anak perempuan baik di ruang kelas sementara maupun di ruang ramah anak yang tersedia.

 

Satu hal yang memberi semangat bagi saya dan teman-teman lainnya adalah ketika melihat anak-anak senang dan ceria kembali dengan apa yang kita berikan ke mereka, ke guru-guru, dan masyarakat di lokasi yang terdampak bencana. Rasa capek bisa cepat reda kalau ingat sekarang, anak-anak ini sudah bisa kembali mendapatkan hak pendidikannya. 

 

 Oleh: Herlina Bolling & Raisha Fatya

Share artikel ini :

BA
CK