Lombok Bangkit dan Berdaya Pasca 7 Bulan Gempa


Menyusuri jalanan di Pulau Lombok pada bulan Agustus 2018 menawarkan pemandangan yang tidak biasa. Biasanya, deretan area wisata diramaikan oleh kios-kios dan pelancong yang hendak berwisata. Biasanya, hotel-hotel cukup ramai dengan menyambut para wisatawan yang berdatangan. Namun, pasca gempa bumi 6.4 SR yang terjadi pada tanggal 29 Juli 2018, diikuti dengan beberapa rangkaian gempa bumi susulan meluluh lantakkan Lombok. Sejenak, puing-puing dan tenda darurat menggantikan keriaan yang maklum terjadi di tiap akhir Bulan Juli.

Gempa susulan yang masih terjadi di bulan Juli-Agustus 2018, tidak menjadi halangan bagi Emergency Response Team Yayasan Plan International Indonesia untuk berangkat ke Lombok dan melakukan Kaji Cepat Kebutuhan (Rapid Need Assessment-RNA). Dari hasil pengkajian kebutuhan pasca bencana, hunian sementara menjadi kebutuhan utama masyarakat yang terdampak. Plan Indonesia menyadari bahwa dibutuhkan komitmen dari berbagai pihak agar Lombok dapat bangkit dan pulih kembali, melihat adanya kesenjangan di antara kebutuhan dan upaya pemenuhan kebutuhan para penyintas, Plan Indonesia sebagai yayasan yang berfokus pada pemenuhan  hak anak perempuan, anak laki – laki, kaum muda dan perempuan turut mengidentifikasi dan membantu kelompok penyintas yang paling membutuhkan. Sejak Agustus 2018 sampai Maret 2019 Plan Indonesia bersama YAKKUM Emergency Unit dan GAGAS Foundation sebagai mitra memberikan respons yang terfokus untuk anak, ibu hamil, ibu yang sedang menyusui, serta perempuan dan laki-laki dengan disabilitas sebagai penerima manfaat, dan melalui 4 sektor kunci yaitu bantuan non pangan, pendidikan dalam situasi darurat, perlindungan anak dalam situasi darurat dan air bersih, sanitasi dan higiene.



Banyak pelajaran yang didapat oleh Plan Indonesia selama 7 bulan respons gempa bumi Lombok berlangsung. Hal inilah yang disampaikan oleh Emergency Response Team kepada pemerintah, mitra, masyarakat, dan lembaga-lembaga dalam Lokakarya Pembelajaran Respons Gempa Bumi Lombok (Mataram, 16/3/19) sebagai acara penutup respons gempa bumi Lombok Plan Indonesia. Dibuka oleh Bapak Lalu Hasbulwadi, sebagai Kabid Perencanaan Pembangunan Sosial Budaya Bappeda NTB, beliau menyampaikan “Terima kasih dan apresiasi untuk Plan Indonesia dan mitra, yang membuat inisiasi strategis untuk mendapatkan lesson learned khususnya untuk pemerintah. Pembelajaran ini bisa kami replikasikan dari tingkat kota sampai kabupaten untuk melanjutkan respons kami. Harapan kami, hasil dari lokakarya ini bisa didokumentasikan dengan baik, diserahkan ke pemerintah, sehingga bisa dilanjutkan dalam usulan kebijakan untuk mitigasi bencana.”


Respons yang dilakukan Plan Indonesia menemukan pelibatan masyarakat dan pemenuhan kebutuhan spesifik anak perempuan, anak laki – laki dan perempuan penting untuk diperhatikan. “Kaum muda bukanlah hanya sebagai penyintas, namun kelompok yang berdaya dan sangat partisipatif. Dengan melibatkan kaum muda sebagai relawan kegiatan distribusi bantuan dan juga fasilitator Ruang Ramah Anak, partisipasi mereka sangat berarti bagi anak-anak karena adanya kedekatan budaya, bahasa, dan pengalaman. Anak-anak yang berkegiatan di Ruang Ramah Anak pun bisa bermain dan belajar bersama teman sebayanya dengan lebih nyaman.” Ujar Dini Widiastuti, Direktur Eksekutif Plan Indonesia.

 



Selain itu, Plan Indonesia juga berupaya untuk membangkitkan sektor perekonomian dan pemenuhan kebutuhan spesifik perempuan, dalam pendistribusian bantuan non-tunai berupa paket keperluan pribadi (Dignity Kit). Dalam proses distribusi paket keperluan pribadi, Plan Indonesia melibatkan pedagang lokal untuk menyediakan kebutuhan spesifik masyarakat, sehingga masyarakat punya kesempatan untuk  memilih sendiri kebutuhannya (dari jenis barang, model, dan ukuran), mengingat anak perempuan dan perempuan dewasa terutama ibu hamil dan menyusui mempunyai kebutuhan yang spesifik yang tidak bisa diabaikan seperti kebutuhan akan pembalut dan pakaian dalam.

 

Penutupan proyek respons gempa bumi Lombok Plan Indonesia bukanlah akhir dari kerja dan upaya yang telah dikerahkan Emergency Respons Team Plan Indonesia, donor, dan mitra, yang bergandengan tangan untuk kembali ceriakan Lombok dan membangkitkan Lombok. Namun, menjadi pembekalan yang sangat bermakna dan awalan bagi masyarakat Lombok untuk memberdayakan sesama warganya dan melanjutkan pembangunannya.


Oleh: Raisha Fatya

Share artikel ini :

BA
CK