Ketua Kelompok Perlindungan Anak Desa Berbicara di Forum ASEAN

JAKARTA – Memperingati Hari Perempuan Internasional 2019, Sekretariat ASEAN mengadakan Forum Regional (6/3) dengan fokus: Solusi untuk Mengeliminasi Perkawinan Usia Anak, Perkawinan Dini dan Dipaksakan (Child, Early and Forced Marriage - CEFM).

 

Dalam kajian yang dipaparkan oleh Girls not Brides, Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah pengantin anak tertinggi di dunia, dengan 14% perempuan menikah pada usia anak, yakni sebelum berusia 18 tahun. Perkawinan usia anak merupakan praktik yang terjadi di seluruh wilayah di Indonesia dan terabaikan selama ini sehingga berdampak buruk bagi anak-anak bangsa.

 

Forum tersebut dihadiri oleh berbagai pemangku kebijakan tingkat ASEAN, organisasi-organisasi yang bergerak di isu anak, serta anak dan kaum muda yang telah menjadi aktivis pengentasan perkawinan usia anak di komunitasnya. Salah satunya Suci (foto di bagian depan, ketiga dari kanan), perempuan berusia 19 tahun yang menjabat sebagai Ketua Kelompok Perlindungan Anak Desa (KPAD) di desanya, di Lombok Barat, turut menjadi panelis dan menyampaikan, “Saya telah menyaksikan perlindungan anak berbasis masyarakat (KPAD) yang melibatkan anak dan kaum muda secara aktif, menjadi sangat efektif dalam mengurangi perkawinan usia anak di masyarakat karena KPAD merupakan sistem lokal yang dekat dan relevan, digerakkan oleh masyarakat, serta masyarakat memiliki rasa kepemilikan yang tinggi terhadap sistem tersebut.”

 

Empat aktivis muda lainnya turut memaparkan berbagai praktik baik dalam mengeliminasi perkawinan usia anak di komunitasnya masing-masing. Pada akhir pemaparan, para aktivis muda memanggil para pemimpin di ASEAN untuk bertindak tegas dan mengakselerasi upaya-upaya pengentasan perkawinan usia anak, “Saya berseru memanggil kita semua, memanggil para pemimpin ASEAN untuk berinvestasi dalam meningkatkan perlindungan anak berbasis masyarakat, KPAD, ini di Indonesia, dan semua negara di ASEAN,” Suci menutup pemaparannya dalam forum tersebut. Suci merupakan kaum muda dampingan aliansi Yes I Do (Plan International Indonesia, Rutgers WPF Indonesia, dan Aliansi Remaja Independen), aliansi yang berkomitmen untuk mencegah perkawinan usia anak, kehamilan remaja, dan sunat perempuan. (OA)

Share artikel ini :

BA
CK